{"id":7878,"date":"2026-06-23T12:01:08","date_gmt":"2026-06-23T05:01:08","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=7878"},"modified":"2026-06-23T12:01:08","modified_gmt":"2026-06-23T05:01:08","slug":"harga-dan-nilai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/06\/harga-dan-nilai\/","title":{"rendered":"Harga dan Nilai"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh:\u00a0 Arcadius Benawa<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Seorang penulis sastra terkenal, F. Scott Fitzgerald pernah menulis buku yang berjudul \u201cThe Great Gatsby\u201d. Buku itu berisi kritik tajam terhadap &#8220;<em>American Dream<\/em>&#8221; di era 1920-an. Kendati buku itu ditulis 1925, tapi tetap relevan dengan kondisi sekarang. Pasalnya, obsesi manusia kepada harta, status, dan citra itu ternyata tidak pernah ketinggalan zaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dikisahkan bagaimana dulu Gatsby suka memamerkan aneka pesta yang ia selenggarakan dan bagaimana ia suka memakai mobil kuning sport untuk menunjukan bahwa dia &#8220;sukses&#8221;. Sekarang pun orang suka memamerkan mobil-mobil mewahnya, liburannya yang keren ke Maldives atau ke mana lah yang tampak bergengsi, koleksi rumahnya yang di Kawasan elit atau bahkan di mancanegara, dan lain sebagainya. Semuanya itu menjadi konten di sejumlah Instagram\/TikTok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bedanya cuma medianya, namun pesannya sama, yakni kita seolah mau mengukur nilai diri dari apa yang kelihatan, bukan dari apa yang benar-benar membikin tenang kehidupan kita. Bukan nilai (<em>value<\/em>), tapi orang lebih cenderung melihat harga (<em>price<\/em>). Mungkin situasi sekarang seperti zaman Gatsby, yakni suka pamer harta dan kekuasaan, sementara di kedalaman hidupnya merasa kosong.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Gatsby obsesi mengulang 5 tahun lalu saat bersama Daisy. Sekarang kita mempunyai &#8220;memories&#8221; dalam Facebook, Instagram, TikTok yang terus mengingatkan masa lalu kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Banyak orang <em>stuck<\/em> dengan membandingkan hidup sekarang dengan versi terbaiknya dari 3 tahun lalu. FOMO (<em>Fear Of Missing Out<\/em>) dan nostalgia digital membuat orang susah untuk <em>move on<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kisah Gatsby relevan karena kita bisa bercermin. Kita masih terus mau mengejar validasi lewat harta dan citra, dan masih terjebak pada masa lalu, dengan masih pura-pura tidak\u00a0 melihat ketimpangan. Intinya ada kerancuan antara harga dan nilai dalam hidup saat ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Seorang Filsuf Denmark, Soren Kierkegaard menceritakan tentang sekelompok pencuri yang masuk ke sebuah toko perhiasan.\u00a0 Mereka tidak mencuri apapun, tetapi menukar-nukarkan label harga. Keesokan hariya, perhiasan yang sangat mahal dijual dengan harga obral, dan perhiasan murahan dijual dengan harga selangit.\u00a0 Bukankah di zaman ini kita hidup seperti itu juga? Harga sesuatu dikacaukan dengan nilainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Orang dihargai tinggi sesuai dengan penampilan mereka, bukan nilai karakternya.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Orang dianggap terpandang bila bisa masuk daftar 100 orang terkaya, tidak peduli nilai-nilai apa yang ia langgar untuk mendapatkan status itu. Mereka yang naik Jaguar seolah- olah merasa lebih hebat dan lebih dihargai. Mereka merasa dianggap lebih berbahagia hidupnya daripada mereka yang naik kendaraan umum, padahal belum tentu demikian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Perlu pemahaman mengenai harga dan nilai.\u00a0 Harga adalah sederet angka yang ditetapkan oleh masyarakat. Tetapi nilai adalah sesuatu yang Tuhan tanamkan untuk kita kembangkan dan kita sebarkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Semakin urgen rupanya agar kita ini dapat membedakan harga dan nilai dalam menapaki kehidupan agar tidak\u00a0 terjebak dengan ornamen kehidupan seperti material, kekuasaan, atau pun raga kita. Meminjam istilah biblis untuk bisa membedakan Mamon dari harta yang tak lapuk oleh ngengat dan karat sekalipun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam hidup ini penting kita mengetahui arti posisi, arti uang, arti sukses, dan yang tidak boleh dilupakan Adalah hal yang sangat bernilai dalam hidup kita, seperti\u00a0 sukacita, belas kasih, empati, belarasa, kejujuran, kesetiaan, komitmen. Nilai-nilai itu jauh lebih bernilai. Dan itulah <em>value<\/em> yang selalu perlu kita hadirkan dalam kehidupan kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Semoga kita sehat selalu dan tetap berbuat banyak kebaikan seperti diteladankan oleh founder agama kita masing-masing. Semoga kehadiran kita pun tidak selalu terlihat semata, tetapi sungguh sebagai hasil usaha kita, hasil kepedulian kita yang terlihat dan dirasakan orang sekeliling kita. Semoga kehadiran kita menjadi seperti mozaik yang indah, yang terdiri dari begitu banyak kepingan-kepingan kasih seperti mendukung, menolong, memperhatikan, menyemangati,\u00a0 menasihati, mengasihi, bahkan mengkritisi dengan positif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh:\u00a0 Arcadius Benawa Seorang penulis sastra terkenal, F. Scott Fitzgerald pernah menulis buku yang berjudul \u201cThe Great Gatsby\u201d. Buku itu berisi kritik tajam terhadap &#8220;American Dream&#8221; di era 1920-an. Kendati buku itu ditulis 1925, tapi tetap relevan dengan kondisi sekarang. Pasalnya, obsesi manusia kepada harta, status, dan citra itu ternyata tidak pernah ketinggalan zaman. Dikisahkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":5010,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[2419,2417,509,2418],"class_list":["post-7878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-american-dream","tag-harga","tag-nilai","tag-the-great-gatsby"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7878"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7878\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7879,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7878\/revisions\/7879"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5010"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}