{"id":7857,"date":"2026-06-01T17:03:55","date_gmt":"2026-06-01T10:03:55","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=7857"},"modified":"2026-06-01T17:03:55","modified_gmt":"2026-06-01T10:03:55","slug":"menggugat-sistem-membenahi-dasar-refleksi-atas-anjloknya-nilai-tes-akademik-sd-smp","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/06\/menggugat-sistem-membenahi-dasar-refleksi-atas-anjloknya-nilai-tes-akademik-sd-smp\/","title":{"rendered":"Menggugat Sistem, Membenahi Dasar: Refleksi atas Anjloknya Nilai Tes Akademik SD-SMP"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Dr. Abdul Haris Faisal<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Rendahnya capaian nilai Tes Kemampuan Akademik tingkat SD dan SMP yang baru-baru ini dirilis, dengan skor Matematika menyentuh angka 40 dan Bahasa Indonesia 60, bukan sekadar statistik yang <strong>mengejutkan<\/strong>. Data ini merupakan alarm sistemik yang menandakan adanya krisis fundamental dalam proses pembelajaran di jenjang pendidikan dasar. Angka tersebut tidak lahir dalam ruang hampa; ia merupakan akumulasi dari masalah struktural, pedagogis, hingga sosial-ekonomis yang telah lama menggerogoti fondasi pendidikan nasional. Alih-alih sekadar menyalahkan siswa, fenomena ini harus dibaca sebagai kegagalan kolektif dalam mempersiapkan generasi muda menguasai kompetensi abad ke-21.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Faktor pertama yang patut dicermati adalah kemunduran literasi numerasi yang parah, tercermin dari skor Matematika yang sangat mengkhawatirkan. Matematika bukan sekadar hitung-menghitung, melainkan penalaran logis dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang selama ini cenderung mekanistik, menghafal rumus tanpa pemahaman konseptual, dan minimnya konteks nyata menyebabkan siswa gagal mentransfer pengetahuan ke soal-soal berpikir tingkat tinggi. Akibatnya, ketika dihadapkan pada soal non-rutin atau berbasis HOTS (<em>Higher Order Thinking Skills<\/em>), siswa mengalami \u201ckegagalan sistemik\u201d karena otot berpikir kritis mereka tidak pernah terlatih dengan baik sejak awal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sementara itu, skor Bahasa Indonesia yang hanya 60 meskipun lebih tinggi dari Matematika, sama sekali bukan prestasi membanggakan. Angka ini mengindikasikan bahwa kemampuan literasi dasar (membaca pemahaman, menyimpulkan, menganalisis teks, dan menulis argumentatif) berada pada ambang batas minimum. Ironisnya, bahasa pengantar utama pembelajaran adalah Bahasa Indonesia, namun siswa justru kesulitan menangkap gagasan kompleks dalam teks bacaan. Kondisi ini diperparah oleh menurunnya budaya baca yang tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga lingkungan keluarga dan masyarakat yang lebih mengutamakan hiburan digital instan dibanding interaksi literat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tak kalah penting, fenomena\u00a0<em>learning loss<\/em>\u00a0yang belum sepenuhnya teratasi. Selama dua tahun lebih, pembelajaran jarak jauh yang tidak merata secara kualitas dan infrastruktur menciptakan kesenjangan kognitif yang dalam. Data ini mungkin menjadi \u201claporan jujur\u201d pertama pasca-pandemi tentang seberapa parah dampaknya terhadap generasi yang kehilangan rutinitas belajar formal. Sayangnya, kebijakan pemulihan yang dijalankan masih sering bersifat simbolis dan tidak didasarkan pada diagnosis menyeluruh terhadap kebutuhan spesifik peserta didik di tingkat akar rumput.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dari sudut pandang kebijakan, kegagalan ini juga menandakan bahwa sistem asesmen nasional belum terintegrasi secara bermakna dengan perbaikan proses pembelajaran. Tes kemampuan akademik sering dipersepsikan sebagai alat pengukur tanpa diikuti dengan mekanisme umpan balik yang kuat. Guru dan sekolah cenderung disibukkan dengan target administratif daripada melakukan analisis diagnostik untuk menindaklanjuti kelemahan siswa. Akibatnya, siklus belajar-mengajar berjalan tanpa perbaikan berkelanjutan, dan nilai rendah menjadi semacam \u201crutinitas tahunan\u201d yang tidak pernah membawa perubahan paradigmatik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Maka, diperlukan langkah terstruktur dengan tiga prioritas utama. Pertama, kurikulum harus direkonseptualisasi dengan mengurangi volume materi yang padat, tetapi memperdalam kompetensi esensial (numerasi dan literasi) melalui pendekatan berbasis proyek dan kontekstual. Kedua, revitalisasi kompetensi guru melalui pelatihan intensif pedagogi reflektif dan asesmen formatif, bukan sekadar pelatihan teknis administratif. Ketiga, pemerintah bersama masyarakat perlu meluncurkan gerakan literasi dan numerasi nasional dengan target yang terukur dan melibatkan orang tua secara aktif, mengingat pendidikan dasar tidak bisa hanya menjadi monopoli sekolah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sekali lagi, skor rendah ini adalah cermin yang sangat jujur, sekaligus menyakitkan, tentang kualitas pendidikan dasar kita. Alih-alih panik atau mencari kambing hitam, sebaiknya kita menyambutnya sebagai momentum evaluasi total. Jika tidak segera ada perubahan strategi, baik dari sekadar mengejar nilai menjadi membangun fondasi nalar dan makna. Maka, bukan mustahil kelak kita akan menuai generasi yang pandai menghafal tetapi miskin daya pikir. Masa depan bangsa tidak tergantung pada angka di kertas laporan, tetapi pada seberapa berani kita membenahi akar masalah saat alarm masih berbunyi nyaring.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Abdul Haris Faisal Rendahnya capaian nilai Tes Kemampuan Akademik tingkat SD dan SMP yang baru-baru ini dirilis, dengan skor Matematika menyentuh angka 40 dan Bahasa Indonesia 60, bukan sekadar statistik yang mengejutkan. Data ini merupakan alarm sistemik yang menandakan adanya krisis fundamental dalam proses pembelajaran di jenjang pendidikan dasar. Angka tersebut tidak lahir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":7858,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[2402,379,2403],"class_list":["post-7857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-nilai-test","tag-pendidikan","tag-test-anjlok"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7857"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7859,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7857\/revisions\/7859"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7858"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}