{"id":7850,"date":"2026-05-14T12:26:21","date_gmt":"2026-05-14T05:26:21","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=7850"},"modified":"2026-05-14T12:26:21","modified_gmt":"2026-05-14T05:26:21","slug":"relasi-dan-pernikahan-belajar-menjadi-pasangan-sebelum-menjadi-orang-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/05\/relasi-dan-pernikahan-belajar-menjadi-pasangan-sebelum-menjadi-orang-tua\/","title":{"rendered":"Relasi dan Pernikahan: Belajar Menjadi Pasangan Sebelum Menjadi Orang Tua"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Petrus Hepi Witono<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>\u00a0<\/em><em>*Permenungan dari Event buku Untuk apa Keluarga &#8211; A Place Called \u201cHOME\u201d: Menemukan makna pulang bersama Rani Anggraeni Dewi.<\/p>\n<p><\/em><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center\">\u201cLove is an action, never simply a feeling.\u201d &#8211; Bell Hooks, <em>All About Love<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\">Di tengah banyaknya konten tentang pernikahan romantis di media sosial, sering kali kita lupa bahwa relasi yang sehat bukan dibangun dari foto estetik atau kata-kata manis semata, melainkan dari kemampuan dua orang untuk bertumbuh bersama. Pernikahan bukan hanya soal menemukan orang yang tepat, tetapi tentang kesiapan menjadi pasangan yang baik. Dalam diskusi yang disampaikan oleh Ibu Rani, muncul satu gagasan penting bahwa sebelum belajar menjadi ayah atau ibu, seseorang seharusnya terlebih dahulu belajar menjadi suami atau istri yang baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Masalahnya, banyak orang masuk ke dalam hubungan tanpa benar-benar memahami dirinya sendiri. Akibatnya, konflik dalam rumah tangga sering tidak berasal dari persoalan besar, tetapi dari luka, ego, dan ekspektasi yang tidak pernah dibicarakan sebelumnya. Banyak pasangan gagal berkomunikasi karena terbiasa menyembunyikan emosi. Padahal komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan kemampuan untuk saling mendengar tanpa merasa paling benar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hubungan yang sehat juga tidak berarti hubungan tanpa konflik. Pernikahan yang terlihat tenang belum tentu bahagia. Ada pasangan yang terlihat harmonis di depan publik, tetapi sebenarnya memendam banyak luka yang tidak pernah selesai. Konflik sebetulnya bukan musuh dalam relasi. Konflik justru dapat menjadi ruang untuk mengenal pasangan lebih dalam, selama kedua pihak mau belajar mengelola emosi dan menjaga rasa hormat satu sama lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kepercayaan menjadi fondasi paling penting dalam hubungan. Tanpa kepercayaan, pasangan akan mudah curiga, defensif, dan merasa sendirian di dalam rumah tangga. Kepercayaan bukan muncul begitu saja, melainkan dibangun melalui konsistensi, keterbukaan, dan rasa aman secara emosional. Ketika seseorang merasa diterima apa adanya, maka ia akan lebih mudah menunjukkan sisi rentannya kepada pasangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam salah satu bagian diskusi, hubungan diibaratkan seperti pilot dan co-pilot yang duduk berdampingan. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Keduanya sama-sama memegang kendali dan saling membantu saat keadaan berubah. Gambaran ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan kompetisi, tetapi kolaborasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Relasi yang sehat bukan tentang menemukan pasangan sempurna. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Yang ada hanyalah dua orang yang bersedia belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama. Pernikahan yang kuat lahir dari keberanian untuk terus memahami satu sama lain, bahkan ketika keadaan tidak selalu mudah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Petrus Hepi Witono \u00a0*Permenungan dari Event buku Untuk apa Keluarga &#8211; A Place Called \u201cHOME\u201d: Menemukan makna pulang bersama Rani Anggraeni Dewi. \u201cLove is an action, never simply a feeling.\u201d &#8211; Bell Hooks, All About Love Di tengah banyaknya konten tentang pernikahan romantis di media sosial, sering kali kita lupa bahwa relasi yang sehat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":3721,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[148,506,2396],"class_list":["post-7850","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-keluarga","tag-kepercayaan","tag-pernikahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7850","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7850"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7850\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7851,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7850\/revisions\/7851"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7850"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7850"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7850"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}