{"id":7846,"date":"2026-05-07T17:05:27","date_gmt":"2026-05-07T10:05:27","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=7846"},"modified":"2026-05-07T17:05:27","modified_gmt":"2026-05-07T10:05:27","slug":"gerhana-akal-budi-adalah-sihir-menelusuri-krisis-akal-budi-dari-frankfurt-hingga-konya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/05\/gerhana-akal-budi-adalah-sihir-menelusuri-krisis-akal-budi-dari-frankfurt-hingga-konya\/","title":{"rendered":"Gerhana Akal Budi adalah Sihir: Menelusuri Krisis Akal Budi dari Frankfurt hingga Konya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Sitti Aaisyah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Nevzat Tarhan, seorang psikiater Turki yang menggeluti ajaran Rumi, menulis sesuatu yang tidak biasa dalam karyanya Hz. Mevlana ile Aile Terapisi. Pada uraian kisah ke-15 mengenai \u00a0kisah hikmah tentang pernikahan, Tarhan mendefinisikan ulang sihir sebagai sesuatu yang bukan melulu urusan jin atau yang terkait mantra mistis, melainkan sebagai kondisi di mana manusia absen dari kebijaksanaannya sendiri akibat distorsi modernitas. Kondisi mabuk cinta digambarkannya sebagai gerhana akal. Dalam kondisi gerhana akal, seseorang tidak dapat melakukan hal-hal yang cerdas. Ia kehilangan penilaian objektifnya, terperangkap dalam ilusinya sendiri. Televisi, media sosial, arus informasi yang tak henti, tontonan yang memesona, semuanya,\u00a0 adalah wajah baru dari sihir yang sesungguhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Redefinisi ini terdengar provokatif, bahkan mungkin mengundang skeptisisme. Namun justru di sini letak kejeniusannya: Tarhan tidak sedang bermain-main dengan metafora. Ia melakukan sesuatu yang secara epistemologis sangat sahih, \u00a0menggeser pertanyaan dari &#8220;apa sihir itu secara metafisik?&#8221; ke &#8220;apa yang dilakukan sihir terhadap akal manusia?&#8221; Dan dalam perpindahan pertanyaan itulah, sebuah jembatan tiba-tiba terbentang antara tradisi sufi Anatolia dan teori kritis Frankfurt.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mark Horkheimer, seorang filsuf perintis ajaran Mazhab Frankfurt menulis karya The Eclipse of Reason (1947). Horkheimer membangun argumentasinya di atas satu dikotomi yang tajam: reason objektif versus reason subjektif. Sebagai konteks, latar belakang penulisan karya ini adalah di masa kejayaan Nazism di bawah kepemimpinan Hitler yang bengis, dimana genosida dijustifikasi sebagai tindakan moral pembersihan Jerman dari kaum Yahudi yang dianggap pariah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Reason objektif adalah akal budi yang bertanya tentang tujuan: apa yang baik, apa yang adil, dan bagaimana seharusnya manusia hidup? Ia memiliki kandungan substantif, terhubung pada nilai-nilai yang melampaui kepentingan pragmatis sesaat. Sebaliknya, reason subjektif atau yang lebih dikenal sebagai rasionalitas instrumental hanya bertanya tentang cara, seperti apa yang paling efisien? apa yang paling berguna? Reason ini netral secara moral, kosong dari pertimbangan tentang kebaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tesis Horkheimer mengkritisi modernitas yang dianggapnya telah menggelapkan reason objektif dan menyisakan hanya reason subjektif. Akal budi telah diformalkan, dicopot dari isinya, dilepaskan dari pertanyaan tentang tujuan hidup yang bermakna. Akibatnya, reason menjadi alat yang bisa digunakan membenarkan apa saja, termasuk kekejaman paling sistematis sekalipun, selama ia efisien dan \u00a0menguntungkan. Pencerahan (<em>Aufkl\u00e4rung<\/em>) yang seharusnya membebaskan manusia dari mitos dan dogma, justru \u00a0menjadi mitos baru, tanpa ada gugatan, diterima sebagai sebuah kenyataan apa adanya sehingga melahirkan sistem perbudakan dalam bentuk yang jauh lebih halus dan masif. Iya, perbudakan merasuk ke dalam sanubari, aliran darah, dan kerja sistem saraf, mendorong manusia bergerak dan menyetujui menjadi budak di dalam sistem secara sukarela.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di sinilah Frankfurt dan Konya saling bertemu. Apa yang disebut Horkheimer sebagai &#8220;gerhana akal budi&#8221; merupakan \u201cjiwa yang tersihir\u201d dalam diksi Tarhan. Kondisi jiwa yang tersihir meski hadir secara fisik, tetapi absen dari hikmah. Atau meski berpikir terasa rasional namun pemikiran itu sendiri absen dari kritik. Kalimat terasa terapalkan secara otomatis, sangsi untuk berbeda dari yang teori sebelum-sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Horkheimer \u00a0bersama Theodor Adorno mempertebal krisis akal ini dengan menggambarkan bagaimana industri budaya memproduksi manusia-manusia yang terstandardisasi, yang kebutuhan dan hasratnya dibentuk oleh pasar dan media massa. Televisi, radio, film, kesemuanya bekerja sebagai mesin penyeragaman kesadaran, mematikan kapasitas kritis, dan menawarkan hiburan sebagai pengganti dari pemikiran. Berpikir tidak lagi menyenangkan. Sesaat masuk ke dalam ruang pemikiran yang dingin, manusia modern tidak bisa tahan lama dan segera ingin berlari keluar mencari hiburan untuk melarikan diri dan \u201cmenenangkan\u201d jiwa yang sesungguhnya sedang gelisah namun disangkal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tarhan, dari arah yang sama sekali berbeda membawa tradisi sufisme dan psikiatri klinis\u00a0 sampai pada diagnosis yang analog mendedah bagaimana media modern, terutama televisi, menciptakan kondisi kelalaian yang teramat sangat, suatu kondisi di mana manusia hidup di permukaan realitas tanpa pernah menyentuh kedalamannya. Ini bukan sekadar kelelahan mental biasa; ini adalah krisis kebijaksanaan. Menariknya, kata Arab sihir (\u0633\u0650\u062d\u0652\u0631 ( secara etimologis mengandung makna &#8220;sesuatu yang memesona dan mengalihkan sehingga mengaburkan realitas.&#8221; Tarhan tidak sekadar bermetafora, \u00a0ia secara diam-diam menggali kembali akar semantik dari konsep yang telah lama terkubur di bawah penafsiran mistis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Namun ada titik di mana keduanya berpisah jalan, dan perbedaan ini penting untuk tidak diabaikan. Horkheimer melihat masalah ini sebagai struktural: akal budi yang tergelapkan bukan terutama kesalahan individu yang lemah, melainkan produk dari sistem kapitalisme dan rasionalitas instrumental yang bekerja secara sistemis. Faktor eksternal seperti air bah, mampu memporak-porandakan tatanan apapun yang ada di sekitarnya. Akhirnya, solusinya pun harus menyentuh tataran struktural, yaitu kritik terhadap kondisi-kondisi material dan ideologis yang memproduksi gerhana tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tarhan, sebaliknya, bergerak di ranah penyembuhan individual dan spiritual. Ia menarik dari bagian internal manusia, yaitu bagaimana jiwa yang terkontaminasi racun modernisme bisa dipulihkan melalui jalan tasawuf dan terapi. Pendekatannya adalah dari dalam ke luar, memperbaiki batin manusia agar ia bisa kembali kepada fitrahnya. Ini bukan satu pendekatan yang salah, namun tentu saja dipertanyakan ulang: apakah cukup menyembuhkan individu jika kemudian ia dikembalikan ke dalam sistem yang sama yang merusaknya? Penyembuhan tanpa transformasi struktural berisiko menjadi siklus tanpa ujung. Ia dapat terpapar kembali karena tekanan eksternal yang begitu kuat menggoda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Guy Debord dengan <em>The Society of the Spectacle<\/em> (1967) berargumen bahwa kapitalisme modern telah mengubah seluruh kehidupan menjadi tontonan (spectacle). Manusia tidak lagi sungguh-sungguh hidup, melainkan hanya menonton hidupnya sendiri. Televisi bukan sekadar distraksi; ia adalah infrastruktur ontologis dari masyarakat yang telah kehilangan kemampuan untuk hadir secara autentik. Bahkan, hari ini panggung penampilan hadir di setiap tempat dan setiap waktu, sangat dekat dengan manusia yang rata-rata menggunakan gadget. Setiap adegan tampil di hadapan tapi tidak lagi memberi nuansa yang berbeda. Apalagi dengan tren short dan tiktok yang menampilkan video-video singkat, penampilan segera berlalu tak lagi meninggalkan rasa dan pemikiran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Debord, Horkheimer, dan Tarhan adalah tiga pemikir dari tiga tradisi berbeda, berbicara tentang satu kondisi yang sama, yaitu manusia yang absen dari dirinya sendiri. Tarhan menawarkan jalan penyembuhan jiwa dengan jalan spiritual; Horkheimer menawarkan peta untuk memahami mengapa penyakit \u00a0ini bisa mewabah begitu masif. Oleh karena itu, lensa zoom in dan zoom out diperlukan untuk melihat persoalan secara holistik dan sekaligus mendalam. Keduanya dibutuhkan, bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai dua lensa yang saling melengkapi. Mungkin hal tersebut yang paling dibutuhkan di zaman ini, yaitu pengakuan dan penerimaan paling jujur akan kondisi kita yang mengalami gerhana akal budi yang menjadi krisis pribadi dan sekaligus krisis peradaban.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sitti Aaisyah Nevzat Tarhan, seorang psikiater Turki yang menggeluti ajaran Rumi, menulis sesuatu yang tidak biasa dalam karyanya Hz. Mevlana ile Aile Terapisi. Pada uraian kisah ke-15 mengenai \u00a0kisah hikmah tentang pernikahan, Tarhan mendefinisikan ulang sihir sebagai sesuatu yang bukan melulu urusan jin atau yang terkait mantra mistis, melainkan sebagai kondisi di mana manusia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":3923,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[2389,2390,2391,2392],"class_list":["post-7846","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-akal-budi","tag-frankfurt","tag-guy-debord","tag-horkheimer"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7846","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7846"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7846\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7847,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7846\/revisions\/7847"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3923"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7846"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7846"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7846"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}