{"id":7725,"date":"2026-02-24T09:45:52","date_gmt":"2026-02-24T02:45:52","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=7725"},"modified":"2026-02-24T09:45:52","modified_gmt":"2026-02-24T02:45:52","slug":"the-world-is-not-all-you-can-eat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2026\/02\/the-world-is-not-all-you-can-eat\/","title":{"rendered":"The World is Not All You Can Eat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Oleh: Petrus Hepi Witono<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong><strong><em>\u201cThe Earth provides enough to satisfy every man\u2019s need, but not every man\u2019s greed.\u201d <\/em><\/strong><strong><em>\u2014 Mahatma Gandhi<\/em><\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>Sebuah akun media sosial The Woke Salaryman mengeluarkan sebuah komik pendek 26 halaman berjudul \u201cThe world is not all you can eat\u201d. Apakah anda pernah makan di restoran prasmanan? Di sebuah restoran prasmanan (buffet), sering terlihat orang mengambil makanan sebanyak mungkin, bahkan sampai piringnya menggunung (seperti orang kelaparan). Pastinya, mereka takut rugi karena sudah membayar mahal, sehingga berusaha mengambil semua yang bisa didapat. Namun ironisnya, banyak dari mereka tidak mampu menghabiskan makanan itu dan akhirnya dibuang. Fenomena kecil ini ternyata mencerminkan cara berpikir manusia dalam kehidupan modern: mengambil lebih dari yang dibutuhkan tanpa memikirkan orang lain atau dampaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Komik ini menjelaskan adanya tiga masalah besar dalam masyarakat kita saat ini: <strong>konsumsi berlebihan<\/strong>, <strong>rasa berhak (entitlement), dan sikap tidak peduli (apathy).<\/strong> Kita hidup di dunia yang mendorong kita untuk terus membeli \u2014 barang baru, lebih besar, dan lebih canggih \u2014 karena dianggap bisa membuat kita bahagia dan sukses. Padahal setelah kebutuhan terpenuhi, tambahan barang tidak benar-benar meningkatkan kebahagiaan. Sama seperti orang yang sudah kenyang tetapi tetap mengambil makanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu muncul pola pikir \u201csaya sudah bayar, jadi saya bebas melakukan apa saja\u201d. Orang merasa berhak memakai fasilitas sesuka hati, membuang sampah sembarangan, tidak hemat energi, dan enggan memperbaiki barang karena lebih mudah membeli baru. Jika dilakukan banyak orang, dampaknya besar: sumber daya terbuang, lingkungan rusak, dan perubahan iklim semakin parah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Masalah ketiga adalah ketidakpedulian. Banyak orang berpikir, \u201citu bukan tanggung jawab saya, perusahaan besar atau pemerintah saja yang harus memperbaiki.\u201d Padahal perusahaan hanya mengikuti permintaan konsumen. Jika masyarakat menuntut barang murah, cepat, dan praktis tanpa peduli lingkungan, maka perusahaan akan menyediakannya. Ketika jutaan orang bersikap acuh, kerusakan terjadi jauh lebih cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pesan utama komik ini bukan melarang konsumsi, tetapi mengajak konsumsi secara sadar \u2014 ambil secukupnya, gunakan dengan bijak, dan pikirkan dampaknya. Perubahan kecil dari banyak orang akan menjadi perubahan besar bagi bumi.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>\u201cWhat you do makes a difference, and you have to decide what kind of difference you want to make.\u201d <\/em><\/strong><strong><em>\u2014 Jane Goodall<\/em><\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>\u00a0<\/em><\/strong>*Selamat menjalankan Ibadah Puasa serta pertobatan Ekologis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Petrus Hepi Witono \u00a0\u201cThe Earth provides enough to satisfy every man\u2019s need, but not every man\u2019s greed.\u201d \u2014 Mahatma Gandhi \u00a0Sebuah akun media sosial The Woke Salaryman mengeluarkan sebuah komik pendek 26 halaman berjudul \u201cThe world is not all you can eat\u201d. Apakah anda pernah makan di restoran prasmanan? Di sebuah restoran prasmanan (buffet), [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":3721,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[2278,2279,95],"class_list":["post-7725","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-jane-goodall","tag-mahatma-gandhi","tag-puasa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7725","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7725"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7725\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7726,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7725\/revisions\/7726"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7725"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7725"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7725"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}