{"id":7287,"date":"2025-08-22T11:12:05","date_gmt":"2025-08-22T04:12:05","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=7287"},"modified":"2025-08-22T11:13:49","modified_gmt":"2025-08-22T04:13:49","slug":"la-pulga-dan-stoikisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2025\/08\/la-pulga-dan-stoikisme\/","title":{"rendered":"La Pulga dan Stoikisme"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Markus Kurniawan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam kancah sepak bola dunia, siapa yang tidak mengenal Lionel Messi? Pria bertubuh mungil berusia 38 tahun ini memiliki prestasi yang tidak ada bandingnya dalam dunia sepak bola. Ia mencetak lebih dari <strong>870 gol<\/strong>\u00a0sepanjang karier, dengan\u00a0<strong>474 gol di La Liga<\/strong> (terbanyak dalam sejarah La Liga) dan\u00a0<strong>112 gol untuk timnas Argentina<\/strong>\u00a0dari 193 pertandingan. Di Barcelona saja, Messi mencetak 672 gol dalam 520 pertandingan (resmi), memimpin kesebelasannya meraih 10 gelar La Liga, 7 Copa del Rey, dan 4 Liga Champions, termasuk dua treble, prestasi yang belum pernah dicapai siapa pun hingga saat ini. Prestasi individu pun luar biasa:\u00a0<strong>8 Ballon d\u2019Or<\/strong>,\u00a0<strong>6 Sepatu Emas Eropa<\/strong>, rekor\u00a0<strong>assist terbanyak resmi (388)<\/strong>, dan slogan \u201cpaling banyak trofi tim\u201d dalam sejarah sepak bola (45 trofi). Puncak prestasinya adalah ketika membawa Argentina menjuarai\u00a0<strong>Copa Am\u00e9rica<\/strong>\u00a0(2021, 2024) dan\u00a0<strong>Piala Dunia 2022<\/strong>\u2014dengan penghargaan\u00a0<em>Golden Ball<\/em>\u00a0serta peran penting sepanjang turnamen . Ia juga memimpin dalam gol dan assist sepanjang sejarah Piala Dunia dan Copa Am\u00e9rica. Silahkan memverifikasi data diatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Para komentator dan pelatih kaliber dunia memberikan banyak julukan kepadanya karena aksi-aksinya mengolah bola dilapangan. Peter Drury (komentator Inggris, ITV &amp; SuperSport) menjulukinya sebagai makhluk angkasa luar yang tidak berasal dari bumi ini. \u00a0Martin Tyler (Sky Sports, Inggris) menjulukinya sebagai pesulap dari Rosario (<em>\u201cThe magician from Rosario.\u201d<\/em>). Tyler bahkan berkomentar: \u201cBegitu Messi mendapat bola, yang bisa kau lakukan hanyalah berdoa\u201d. Pep Guardiola dan Luis Enrique tanpa ragu memujinya sebagai pemain terbaik yang pernah ada.Yang saya kutipkan hanyalah sebagian kecil saja dari komentar-komentar yang bernada menyanjung dan kagum dengan sosok Messi. Media-media memberi beragam julukan padanya antara lain \u201cLa Pulga\u201d (julukan dari media lokal Argentina artinya \u201csi kutu\u201d, karena tubuh Messi yang tergolong kecil bagi pesepakbola), \u201cEl Mes\u00edas\u201d\u00a0,\u201cGOAT\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kalau kita melihat semua paparan diatas, Messi sudah cukup untuk disebut legenda terbesar sepak bola. Tapi yang menarik justru bukan hanya itu, melainkan cara ia mencapai semua itu, yaitu dengan kerendahan hati, dengan pilihan untuk berbagi bola, dengan menjadikan tim sebagai pusat permainan. Itulah yang membuatnya berbeda dengan banyak pesepakbola hebat lain: ia bukan tipe pemain yang gila rekor gol. Tentu, jumlah golnya menakjubkan, tapi yang sering membuat orang kagum justru kesediaannya untuk mengoper bola pada rekan yang lebih punya peluang. Bagi Messi, kemenangan tim jauh lebih penting ketimbang ambisi pribadi. Sikap inilah yang, menurut saya, bisa dibaca bukan sekadar gaya bermain, melainkan sebuah <em>virtue<\/em>\u2014kebajikan dalam arti klasik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ribuan tahun lalu, salah seorang tokoh aliran filsafat Stoa bernama Cicero (106-43 SM) menulis sebuah kalimat yang indah: <em>\u201cGloria virtutem tamquam umbra sequitur.\u201d\u00a0 <\/em>\u201cKemuliaan mengikuti kebajikan seperti bayangan.\u201d (<em>Tusculan Disputations<\/em>, Buku I, bab 45). Kalimat ini pada dasarnya mengingatkan kita agar tidak mengejar ketenaran\/kemuliaan. Bagi penganut aliran Stoa, reputasi, kemuliaan ataupun keberuntungan\u00a0bukan tujuan, tetapi konsekuensi yang datang secara alamiah sebagai akibat dari hidup yang memiliki kebajikan (<em>virtue<\/em>). Yang harus dicari adalah kebajikan. Kalau kebajikan itu dijalani maka kemuliaan akan datang dengan sendirinya, persis seperti bayangan yang selalu menempel pada tubuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam Stoikisme, kebajikan (<em>virtue<\/em>) adalah satu-satunya kebaikan sejati. Kekayaan, kesehatan, kemuliaan bahkan kemenangan sekalipun hanyalah hal-hal \u201cindiferent\u201d- bisa ada, bisa tidak. Yang penting adalah bagaimana seseorang bertindak: adil, bijak, berani, dan mampu menguasai diri. Mengapa? Karena nasib (<em>fortuna<\/em>) adalah hal yang berada diluar kendali manusia, misalnya apakah kita akan menjadi kaya, akan mendapat kemuliaan, dsb. Sedangkan <em>virtue<\/em> (berperilaku adil, menjadi bijaksana, penguasaan diri, kerendahanhati, keberanian) merupakan hal yang bisa dikendalikan. Itu meupakan pilihan. Orang bisa memilih untuk memiliki <em>virtue<\/em> atau tidak. Nah, Stoikisme mengajarkan untuk tidak usah risau dengan yang tidak dapat kita kendalikan, tapi fokus pada yang dapat dikendalikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Messi adalah contoh hidup dari pepatah ini. Ia tidak sibuk berburu sorotan kamera, tidak terlalu peduli apakah namanya berada di puncak daftar pencetak gol sepanjang masa. Tapi justru karena itu, kemuliaan malah datang mengejarnya. Dengan sikap yang tidak mengejar rekor, ia malah meraih hampir semua rekor yang sangat di damba oleh para pemain sepak bola sejagat. Messi seolah menjalankan prinsip ini di lapangan. Ia tidak sibuk mengatur nasib baik atau buruk (<em>fortuna<\/em>) karena itu bukan hal yang bisa dikendalikan. Apakah ia dapat menjadi pencetak gol terbanyak, apakah ia akan menjadi yang terbesar, apakah ia akan menjadi yang paling dipuji, tampaknya hal-hal semacam itu tidak ada dalam kehendaknya. Dalam perspektif kaum Stoa itu adalah hal yang <em>indifferent- <\/em>bisa ada, bisa tidak. Itu bagian yang tidak dapat dikendalikan. Yang bisa dikendalikan adalah pilihan: kapan menembak, kapan mengoper, bagaimana mendukung rekan satu tim. Itulah kebajikan yang ia jalani. Dan, sesuai dengan pepatah Cicero, kemuliaan pun mengikuti langkahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di zaman ketika olahraga sering dipenuhi ego, pencitraan media sosial, dan obsesi rekor, Messi mengingatkan kita bahwa kerendahan hati bukan kelemahan, melainkan kekuatan. Tubuhnya memang kecil, itu sebabnya dijuluki <em>La Pulga,<\/em> si kutu tapi kebajikannya menggetarkan bahkan diluar lapangan. Ia tidak berteriak-teriak di lapangan, tidak menuntut kamera menyorotnya setiap saat. Tapi justru dengan gaya itu ia menjadi ikon global. Saya rasa ini yang membuat banyak orang sulit membencinya\u2014bahkan rival pun sering mengakui kehebatannya. Ia bermain untuk tim, dan dunia memberinya kemuliaan. Messi memberi kita pelajaran filosofis lewat sepak bola. Hidup bukan soal mengejar angka atau prestise, bukan soal menjadi kaya, terkenal, memiliki asset, termasuk memiliki jabatan, tapi soal bagaimana kita bertindak: adil, rendah hati, dan selalu mengutamakan kebaikan bersama. Gol, piala, dan kemasyhuran hanyalah bonus. Persis seperti kata Cicero: kemuliaan tidak perlu dikejar, ia akan datang sebagai bayangan dari kebajikan. <em>Gracias, Messi! Gracias, La Pulga<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Markus Kurniawan Dalam kancah sepak bola dunia, siapa yang tidak mengenal Lionel Messi? Pria bertubuh mungil berusia 38 tahun ini memiliki prestasi yang tidak ada bandingnya dalam dunia sepak bola. Ia mencetak lebih dari 870 gol\u00a0sepanjang karier, dengan\u00a0474 gol di La Liga (terbanyak dalam sejarah La Liga) dan\u00a0112 gol untuk timnas Argentina\u00a0dari 193 pertandingan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":7224,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[1967,1968,1966,1965,1969],"class_list":["post-7287","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-argentina","tag-barcelona","tag-la-pulga","tag-lionel-messi","tag-stoikisme"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7287","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7287"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7287\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7289,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7287\/revisions\/7289"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7287"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7287"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7287"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}