{"id":614,"date":"2019-07-04T06:54:09","date_gmt":"2019-07-04T06:54:09","guid":{"rendered":"http:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=614"},"modified":"2019-07-06T02:06:41","modified_gmt":"2019-07-06T02:06:41","slug":"apa-itu-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2019\/07\/apa-itu-karakter\/","title":{"rendered":"Apa itu Karakter?"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh: * Dr. Antonius Atosokhi Gea, S.Th., MM <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika orang semakin banyak berbicara tentang karakter, semakin menyadari penting dan urgensinya kepemilikan karakter yang baik, pertanyaan sederhana yang muncul adalah apa sebenanya karakter itu? <\/p>\n\n\n\n<p>Hal yang bisa membantu untuk mengetahui apa itu karakter, bisa dimulai dengan cara sederhana saja. Bisa bertanya pada beberapa orang dalam suatu organisasi atau perusahaan, hal-hal apa saja yang mereka anggap baik dan mereka harapkan dimiliki oleh orang-orang di tempat kerja, umpamanya atasan mereka. Mungkin dari catatan yang mereka buat, terungkap hal-hal seperti berikut: atasan atau pimpinan yang dianggap baik itu adalah yang bersikap jujur, terbuka, disiplin, peduli, bertanggungjawab, punya visi, setia, tekun, menghargai setiap orang, tidak pilih kasih, dan sebagainya. Dengan ungkapan-ungkapan seperti itu sebenarnya orang secara tidak langsung sudah mulai berbicara tentang apa itu karakter. Hal-hal yang disebutkan itu merupakan nilai-nilai (<em>values<\/em>), dan disebut sebagai karakternya seseorang manakala hal itu tampak secara konsisten dalam diri orang itu, yang selalu tampak dalam dirinya dalam banyak situasi. Dengan demikian maka karakter (kadang juga disebut watak) dapat dimengerti sebagai nilai-nilai yang sudah terinternalisasi dengan baik dalam diri seseorang, sudah menjadi bagian dari hidupnya, menjadi kecenderungan dan pilihan tetapnya, yang tampak dalam sikap dan perilakunya, berwujud pengejawantahan atau ekspresi &nbsp;nilai-nilai tertentu yang dianggap baik dalam kehidupan. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/encrypted-tbn0.gstatic.com\/images?q=tbn:ANd9GcSJeQG8G4_3lP3UZWgTaQQuZD8TXyXuF_qEhhfH2DAYdIDfChQD\" alt=\"Image result for unsplash\" width=\"424\" height=\"282\" \/><figcaption>sumber foto: unsplash.com<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Orang yang memiliki watak bertindak menurut\nkeyakinan-keyakinannya, bahkan mau mengambil sikap atau pendirian yang\nterkadang kurang disenangi orang lain, demi mempertahankan integritas. Para\npahlawan dan orang-orang kudus menunjukkan watak yang baik dan kuat ketika\nmereka menolak berkompromi dengan hal-hal yang tidak baik dan tidak benar.\nSalah seorang dapat diambil sebagai contoh,\nyakni Thomas More. Dia membangun karirnya dari\nprofesi sebagai advokat biasa, lalu menjadi anggota parlemen, diplomat ulung,\ndan kemudian menjadi <em>Lordchancellor<\/em>. Thomas More adalah lulusan dari Universitas Oxford. Dia\nmemiliki empat orang anak yang dididiknya dengan tegas. Karena ia sangat\ndisegani rakyat jelata, maka raja Henry VIII, yang sedang merencanakan\npemisahan Gereja di Inggris dari Roma, mencari dukungan dengan mengangkat\nThomas More menjadi pucuk pimpinan pemerintahan. Akan tetapi Thomas menolak\nmembantu raja dalam hal kawin cerai. Sikapnya yang tegas ini memojokkan\nposisinya. Karena itu ia minta mundur dari jabatannya. Namun baru setelah ia mengajukan\npermohonan berhenti untuk kedua kalinya, raja mengabulkannya. Kemudian Thomas\nmenyepi di pedalaman. Karena tidak menghadiri pesta pernikahan raja dengan\nselirnya, ia ditangkap. Kemudian dibebaskan lagi. Tapi beberapa waktu kemudian\nia dituntut mengangkat sumpah mengakui raja sebagai kepala Gereja di Inggris.\nThomas menolak bersumpah. Maka ia dipenjarakan dan harta miliknya disita.\nKeluarganya sangat menderita dan memintanya supaya bersumpah saja sama seperti\nbanyak uskup dan bangsawan yang diam-diam menambah pada rumus sumpah \u201c&#8230;\nsejauh itu tidak berlawanan dengan hukum ilahi\u201d. Thomas tidak mau ikut main\nsandiwara itu. Suara hatinya jelas. Dan dengan setia ia mengikuti keyakinan\nhatinya. Desakan puterinya pun tak dapat mengubah keyakinannya, walaupun Thomas\nsangat sedih melihat kemelaratan mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Keteguhan\npada keyakinan ini tampak dalam drama Robert Bolt, <em>A Man for All Seasons<\/em>. Adegan berikut ini terjadi dalam sebuah sel\npenjara ketika anak Thomas More, Margaret, datang untuk membujuknya bersumpah kepada\nAkta Suksesi Henry VIII (abad ke-16) di mana More memiliki banyak keberatan:<\/p>\n\n\n\n<p>More&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : &nbsp;&nbsp; Kamu ingin aku bersumpah terhadap Akta\nSuksesi?<\/p>\n\n\n\n<p>Margaret&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp;&nbsp;&nbsp; \u201dTuhan\nlebih memperhatikan pikiran-pikiran hati daripada kata-kata dari mulut\u201d.\nBukankah itu yang selalu kau katakan kepadaku?<\/p>\n\n\n\n<p>More&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : &nbsp;&nbsp; Ya!<\/p>\n\n\n\n<p>Margaret&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu,\nucapkanlah kata-kata sumpah dan di dalam hatimu berpikirlah yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>More&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp; &nbsp; Bukankah\nsumpah adalah kata-kata yang kita tujukan kepada Tuhan?<\/p>\n\n\n\n<p>Margaret&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp; &nbsp; Baik\nsekali.<\/p>\n\n\n\n<p>More&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp; &nbsp; Menurutmu\nitu tidak benar?<\/p>\n\n\n\n<p>Margaret&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp; &nbsp; Tidak,\nitu benar.<\/p>\n\n\n\n<p>More&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengatakan\nbahwa hal itu \u201cbaik\u201d adalah sebuah argumen yang lemah Meg. Apabila seorang\nlaki-laki bersumpah, Meg, orang itu memegang hidupnya dalam tangannya sendiri.\nIbarat air (<em>dia meliukkan tangannya<\/em>).\nDan jika dia membuka jari-jemarinya <em>maka<\/em>\n&#8211; dia tidak perlu berharap untuk menemukan dirinya lagi. Sejumlah orang memang\ntidak mampu dalam hal ini, namun aku segan untuk berpikir bahwa ayahmu adalah\nsalah seorang di antara mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesaat\nsebelum lehernya ditebas, ia masih sempat melontarkan humor: \u201cHati-hatilah,\njangan sampai jenggotku terpotong, sebab dia toh tidak ikut bersalah melawan\nraja\u201d. Setelah mengucapkan kata-kata itu kepalanya terkulai di halaman Tower\nLondon (Heuken, 1987, hal. 296-297). <\/p>\n\n\n\n<p>Thomas\nMore adalah salah seorang tokoh sepanjang masa karena dedikasinya pada\nkeyakinan hati nurani. Dia menunjukkan bahwa apabila kita tidak bertindak\nmenurut watak, diri kita bisa hilang, karena pilihan-pilihan moral pada\ndasarnya adalah masalah integritas. Pribadi seseorang disebut berwatak kuat\napabila kekuatan moralnya begitu kukuh. Apa yang diyakininya itu juga yang\ndilakukannya. Watak moral yang baik menunjukkan diri dalam tindakan-tindakan\nyang meneguhkan kesejahteraan manusia dan mencapai tujuan-tujuan di luar\nkemuliaan diri sendiri. Orang disebut berwatak lemah apabila kekuatan moralnya\nterombang-ambing, mudah mengubah pendirian untuk memenuhi janji, atau dengan\nmudah terbawa oleh arus godaan. Maka watak yang baik dan kuat adalah suatu\nprasyarat untuk pelayanan di dalam Tuhan.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Mengacu pada kisah Thomas More di atas,&nbsp; karakter tampil dalam bentuk keyakinan dan ketaatan pada hati nurani. Inilah juga merupakan nilai yang harus dijunjung tinggi. Dan perihal yakin dan taat pada nurani ini sudah sedemikian tertanam dalam diri Thomas More, sudah menjadi bagian dari hidupnya, habitnya, sehingga dalam situasi apapun selalu itu yang menjadi pilihan dasarnya (<em>optio fundamentalis<\/em>). Tidak ada beda antara yang dipikirkan (diyakni), yang diucapkan (selalu dia bela), serta yang akhirnya dilakukannya. Jadi ada kesatuan antara pikiran, kata dan tindakan. Itulah integritas, wajah lain dari karakter (watak), yang isinya selalu berkonotasi positif (terkait hal baik dan benar), seperti bersikap jujur, peduli, bertanggungjawab, menghargai sesama dan berlaku adil, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>*Manager Character Building Binus University.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: * Dr. Antonius Atosokhi Gea, S.Th., MM Ketika orang semakin banyak berbicara tentang karakter, semakin menyadari penting dan urgensinya kepemilikan karakter yang baik, pertanyaan sederhana yang muncul adalah apa sebenanya karakter itu? Hal yang bisa membantu untuk mengetahui apa itu karakter, bisa dimulai dengan cara sederhana saja. Bisa bertanya pada beberapa orang dalam suatu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[],"class_list":["post-614","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sounds-of-character"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=614"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/614\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":620,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/614\/revisions\/620"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}