{"id":5955,"date":"2024-02-13T12:15:15","date_gmt":"2024-02-13T05:15:15","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=5955"},"modified":"2024-02-13T12:15:15","modified_gmt":"2024-02-13T05:15:15","slug":"kebahagiaan-dan-cara-berpikir-kita-serial-tulisan-tentang-kesehatan-mental-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2024\/02\/kebahagiaan-dan-cara-berpikir-kita-serial-tulisan-tentang-kesehatan-mental-3\/","title":{"rendered":"Kebahagiaan dan Cara Berpikir Kita (Serial Tulisan tentang Kesehatan Mental &#8211; 3)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Murty Magda Pane, ST., M.Si<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kita sudah mengetahui sedikit tentang gangguan mental melalui beberapa jenisnya, yaitu: stress, trauma, depresi, kecemasan, <em>Adverse Childhood Experiences (ACE)<\/em>, somatisasi, permasalahan kognitif dan penurunan energi dari uraian bulan lalu. Uraian tersebut juga menyatakan bahwa gangguan-gangguan mental tersebut menyebabkan terjadinya darurat kesehatan mental pada masyarakat DKI Jakarta, bahkan, mungkin, Indonesia. Yang mencemaskan adalah gangguan-gangguan mental tersebut banyak terjadi pada usia produktif. Bisa kita bayangkan jika orang-orang pada usia produktif ini \u2018menularkan\u2019 gangguan mentalnya kepada orang lain di sekitarnya. Tentunya akan lebih berbahaya lagi, apabila orang-orang yang ada di sekitar orang-orang dengan gangguan mental tersebut, merupakan anggota keluarganya yang tergolong anak kecil atau (sampai dengan) remaja. Tentu saja anggota keluarga tersebut berisiko mengalami gangguan mental yang lebih berat daripada orang-orang usia produktif pada saat ini tersebut di masa yang akan datang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Untuk itu sudah sepatutnya dirancang suatu strategi untuk menangani isu ini. Cara yang mudah dilakukan dalam strategi ini tentunya \u201cmendapatkan kebahagiaan\u201d. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mendapatkan kebahagiaan di saat mental sedang terganggu?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Cara pertama yang bisa saya ajukan adalah mendapatkan makna \u201ckesejahteraan\u201d atau yang populer disebut sebagai <em>wellbeing<\/em>. Dalam ilustrasi yang menggambarkan sebab &amp; akibat dari wellbeing dari suatu populasi tertentu, terdapat bagian level tertinggi tetapi paling sedikit dari populasi tersebut, yang disebut sebagai bagian \u2018kemajuan\/maju\u2019 (<em>flourishing<\/em>). <em>Flourishing<\/em> merupakan pengalaman hidup yang berjalan baik. <em>Flourishing<\/em> bisa didefinisikan sebagai kombinasi dari perasaan baik (<em>good feeling<\/em>) dan berfungsi secara efektif. <em>Flourishing<\/em> juga merupakan sinonim dari level kesejahteraan mental yang tinggi dan melambangkan kesehatan mental. Walaupun tetap ada perbedaan definisi antara <em>flourishing<\/em> dan <em>wellbeing<\/em>, tetapi kondisi flourishing ini bisa kita adopsi sebagai kondisi seseorang yang sehat secara mental. Dimensi-dimensi dari <em>flourishing<\/em> adalah emosi positif, <em>engagement<\/em>, hubungan (<em>relationship<\/em>), makna (<em>meaning<\/em>) dan pencapaian (<em>accomplishment<\/em>) (sumber: Happiness untuk Indonesia: Konsep, Riset, Pengukuran, &amp; Kebijakan Publik \u2013 Nurlaila Effendi (materi untuk Semiloka Darurat Kesehatan Mental Indonesia \u2013 Himpsi Jaya)).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Merujuk pada <em>tagline<\/em> Hari Kesehatan Mental Dunia tahun 2023, \u201cPikiran Kami, Hak Kami\u201d, tentunya strategi peningkatan kesehatan mental berhubungan dengan pikiran kita. Hal ini dapat dimulai dari sistem berpikir (<em>system thinking<\/em>) kita. <em>System thinking<\/em> didefinisikan sebagai cara berpikir untuk memahami dan mengelola masalah yang kompleks. <em>System thinking<\/em> meliputi 3 aspek, yaitu: \u00a0mengasumsikan bahwa setiap persoalan atau fenomena muncul (<em>emerge<\/em>) dari suatu sistem yang kompleks; untuk memahaminya dengan baik, persoalan tersebut perlu dipahami dalam<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">keseluruhan kompleksitasnya; fokus yang sempit dan solusi yang terisolasi sering menimbulkan <em>policy resistance<\/em> dan konsekuensi yang tidak dikehendaki (<em>unintended consequences<\/em>) (sumber: System Thinking untuk Penanganan Kesehatan Mental \u2013 Abdul Malik Gismar (materi untuk Semiloka Darurat Kesehatan Mental Indonesia \u2013 Himpsi Jaya)).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mengacu pada pertanyaan pemicu saya pada artikel bulan lalu, yaitu bagaimana kita menjaga pikiran kita agar tidak terpengaruh emosi negatif yang bisa saja tiba-tiba muncul karena situasi &amp; kondisi tertentu atau mungkin juga mempengaruhi situasi &amp; kondisi tertentu yang didominasi emosi negatif sehingga menjadi emosi positif? Setelah sedikit membahas tentang wellbeing dan system thinking, mungkin kita harus mulai mempertimbangkan faktor <em>wellbeing<\/em> dalam menetapkan dan menyusun <em>system thinking<\/em> kita. Lalu, bagaimana implementasinya? Sepertinya cukup panjang penjelasannya. Saya bahas tentang ini bulan depan, ya? Sampai jumpa lagi bulan lagi di artikel bulan Desember.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Murty Magda Pane, ST., M.Si Kita sudah mengetahui sedikit tentang gangguan mental melalui beberapa jenisnya, yaitu: stress, trauma, depresi, kecemasan, Adverse Childhood Experiences (ACE), somatisasi, permasalahan kognitif dan penurunan energi dari uraian bulan lalu. Uraian tersebut juga menyatakan bahwa gangguan-gangguan mental tersebut menyebabkan terjadinya darurat kesehatan mental pada masyarakat DKI Jakarta, bahkan, mungkin, Indonesia. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":2871,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[1143,1337,110],"class_list":["post-5955","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-berpikir-positif","tag-gangguan-mental","tag-kebahagiaan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5955"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5955\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5956,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5955\/revisions\/5956"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2871"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}