{"id":5330,"date":"2023-11-06T10:08:02","date_gmt":"2023-11-06T03:08:02","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=5330"},"modified":"2023-11-06T10:08:02","modified_gmt":"2023-11-06T03:08:02","slug":"konsep-kesusilaan-li-menurut-xunzi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2023\/11\/konsep-kesusilaan-li-menurut-xunzi\/","title":{"rendered":"Konsep Kesusilaan (li) Menurut Xunzi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>Oleh: Kristan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Xunzi juga merupakan ahli filsafat yang mementingkan <em>li<\/em>, dan <em>li<\/em> hadir untuk memenuhi kebutuhan manusia, <em>li <\/em>di sini juga dikenal sebagi tata aturan bagi masyarakat. Di dalam kitab Xunzi [15] tertulis: \u201cLi atau tata aturan dan upacara adalah panduan bagi pemerintahan sebuah negara.<em> Li<\/em> juga merupakan bimbingan dan dasar bagi kemajuan sebuah negara. Maka<em> li<\/em> adalah aturan yang tertinggi\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selanjutnya di dalam kitab Xunzi [19]:1 tertulis: \u201cManusia sejak lahir memiliki hawa nafsu, jika kehendaknya tidak terpenuhi, maka manusia akan pergi mencari keinginan tersebut. Dalam proses pencarian tersebut tanpa adanya aturan tertentu yang jelas mengatur maka akan mengakibatkan pertarungan.: \u201cPertarungan seperti ini akan menyebabkan kekacauan. Kekacauan akan menyebabkan kemiskinan. Para raja zaman kuno membenci hal ini. Maka <em>li<\/em> tata susila dibentuk untuk menghindari keinginan yang ada pada manusia. Ini untuk menghindari rakyat berjalan di arah yang sesat akibat keinginannya yang tidak terbatas dan juga untuk menghindari rakyat terjerumus kepada keserakahan. Jikalau hal tersebut dapat dihindari, maka sebuah masyarakat akan menjadi baik. Inilah puncak dari wujud tata susila dan peraturan\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Li<\/em> dikaitkan dengan pemahaman bahwa sifat asli manusia adalah jahat. <em>Li <\/em>adalah aturan tertinggi bagi kehidupan manusia. Di dalam kitab Xunzi [2]:2 \u201cCara bagi seseorang untuk memiliki semangat dan menyempurnakan diri perilaku diri sendiri adalah harus menurut kehendak <em>li<\/em>\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selanjutnya di dalam kitab Xunzi [1]:5 tertulis: \u201cMaka jika seseorang menyanjung tinggi kesusilaan dan undang-undang, walaupun dia mungkin tidak memahami dengan baik, tetapi sekurang-kurangnya dia masih akan dikenali sebagai cendekiawan yang berdasarkan <em>lifa<\/em>, jikalau tidak menjunjung tinggi <em>lifa<\/em>, walaupun seorang itu pandai berdebat, maka dia tidak layak dipanggil sebagai cendekiawan yang mengikuti semangat <em>li<\/em>\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di dalam kitab Xunzi [27] tertulis: \u201c<em>Li<\/em> adalah bimbingan bagi pemerintah, melaksanakan pemerintahan tanpa menggunakan <em>li<\/em>, maka pemerintahan itu tidak akan sempurna\u201d. Xunzi menekankan <em>li <\/em>sebagai hal yang harus diikuti oleh semua orang. <em>Li<\/em> menjadi aturan dan teladan masyarakat. Jika perbuatan manusia selalu didalam <em>li<\/em>, maka barulah bisa menjadi manusia yang bijaksana. <em>Li <\/em>juga merupakan dasar bagi pemerintahan sebuah negara. Xunzi menjelaskannya sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\">\u201cNasib sebuah negara tergantung pada <em>li<\/em>\u201d (Kitab Xunzi [16])<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">\u201cJikalau seseorang menjahui diri dari <em>li<\/em>, maka dia tidak akan dapat hidup dalam dunia ini, segala perbuatan yang menjauhi <em>li <\/em>akan mengalami kegagalan, jika sebuah negara menjauhi <em>li<\/em>, maka negara tersebut tidak akan damai\u201d. (Kitab Xunzi [2]:3)<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">\u201cPemerintahan yang menjauhi <em>li<\/em>, tidak akan berjaya\u201d.(Kitab Xunzi[27])275 4) \u201cMemerintah rakyat tanpa menggunakan <em>li<\/em>, tingkah laku pemerintah akan selalu gagal.\u201d (Kitab Xunzi [27]).<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Li<\/em> digunakan untuk melindungi sistem jabatan yang digunakan pada zaman feodal untuk membedakan tua dan muda, kaya dan miskin, mulia dan hina. Di dalam kitab Xunzi [10] tertulis: \u201c<em>Li<\/em> itu akan membuat kaum mulia dan hina memperoleh jabatan tertentu, terdapat jurang antara tua dan muda, kaya dan miskin memperlihatkan status dan jabatan masing-masing\u201d. Xunzi mengatakan bahwa <em>li <\/em>dapat digunakan oleh golongan pemerintah untuk memilih seorang pegawai kerajaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di dalam kitab Xunzi [12] tertulis: \u201cCara mengangkat seorang pegawai haruslah berlandaskan <em>li<\/em>\u201d. Xunzi memperluas pengertian tentang <em>li<\/em> dari bersifat individu kepada kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Kristan Xunzi juga merupakan ahli filsafat yang mementingkan li, dan li hadir untuk memenuhi kebutuhan manusia, li di sini juga dikenal sebagi tata aturan bagi masyarakat. Di dalam kitab Xunzi [15] tertulis: \u201cLi atau tata aturan dan upacara adalah panduan bagi pemerintahan sebuah negara. Li juga merupakan bimbingan dan dasar bagi kemajuan sebuah negara. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":2830,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[1234,1235,1226],"class_list":["post-5330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-kesusilaan","tag-li","tag-xunzi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5330"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5330\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5331,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5330\/revisions\/5331"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2830"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}