{"id":5224,"date":"2023-09-06T09:37:06","date_gmt":"2023-09-06T02:37:06","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=5224"},"modified":"2023-09-06T09:37:06","modified_gmt":"2023-09-06T02:37:06","slug":"beragama-itu-untuk-membahagiakan-orang-lain-juga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2023\/09\/beragama-itu-untuk-membahagiakan-orang-lain-juga\/","title":{"rendered":"Beragama Itu Untuk Membahagiakan Orang Lain Juga"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Jamson Siallagan\u00a0 (D5050)<\/strong><\/p>\n<p>Kita mendapatkan kebahagian\u00a0 melalui agama yang\u00a0 kita yakini. Sebuah kebahagian yang subyektif\u00a0\u00a0\u00a0 yang sangat bervariasi antara individu. Apa yang membahagiakan seseorang dalam konteks keagamaan bisa sangat subjektif dan tergantung pada keyakinan, nilai-nilai, dan pengalaman pribadi.<\/p>\n<p>Pengalaman kerohanian yang mendalam\u00a0 sangatlah \u00a0membahagiakan, \u00a0seperti momen ibadah, \u00a0refleksi dalam doa \u00a0atau meditasi yang membuat mereka merasa dekat dengan Sang \u00a0Ilahi. Pengalaman yang membuat seseorang merasa dicerahkan\u00a0 atau mendapatkan wawasan yang mendalam tentang makna hidup atau alam semesta dapat membawa kebahagiaan. Pengalaman diampuni dan dipulihkan dapat membuat seseorang yakin\u00a0 diterima dan diampuni oleh yang ilahi atau melalui ritual keagamaan tertentu dapat membawa perasaan lega dan bahagia. Semuanya itu memberikan ketenangan\u00a0 batin.<\/p>\n<p>Selain memberikan kebahagian bagi diri sendiri, kehidupan keberagamaan yang kita jalani semestinya juga membawa kebahagian bagi orang lain di sekitar kita. Beragama itu untuk membahagiakan orang lain juga. Jika kita\u00a0 mengasihi dan memberikan\u00a0 perhatian kepada orang-orang yang memerlukannya, baik dalam komunitas kita atau dalam lingkup lebih luas, maka akan membawa kebahagiaan kepada orang lain. Mengasihi itu\u00a0 mencakup menghormati dan menghargai keyakinan dan agama orang lain. Membiarkan dan mendukung orang lain yang berbeda untuk menjalankan ibadahnya akan menciptakan\u00a0 lingkungan yang inklusif dan saling menghormati. Memberikan dukungan moral dan emosional kepada individu dalam perjalanan spiritual mereka dapat membantu mereka merasakan kebahagiaan yang lebih dalam dalam keberagamaan mereka. Menjalani kehidupan Bersama di dalam Masyarakat dan menjadi sahabat dengan mereka yang berbeda akan memperkuat ikatan sosial dan memberikan kebahagiaan yang bersamaan. Mengasihi juga dapat kita wujudkan melalui \u00a0pekerjaan amal atau pelayanan sosial sebagai bagian dari keyakinan agama kita dapat membantu mereka yang membutuhkan dan menyebarkan kebahagiaan kepada mereka.<\/p>\n<p>Keberagamaan kita akan membahagiakan orang lain jika kita menjalankannya dengan rasa kasih sayang, perhatian, dan kesediaan untuk membantu mereka yang memerlukan. Tentu hal ini \u00a0didorong oleh sikap yang positif dan praktik yang baik sesuai dengan ajaran agama kita, yang dapat menginspirasi dan memotivasi orang lain juga.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Jamson Siallagan\u00a0 (D5050) Kita mendapatkan kebahagian\u00a0 melalui agama yang\u00a0 kita yakini. Sebuah kebahagian yang subyektif\u00a0\u00a0\u00a0 yang sangat bervariasi antara individu. Apa yang membahagiakan seseorang dalam konteks keagamaan bisa sangat subjektif dan tergantung pada keyakinan, nilai-nilai, dan pengalaman pribadi. Pengalaman kerohanian yang mendalam\u00a0 sangatlah \u00a0membahagiakan, \u00a0seperti momen ibadah, \u00a0refleksi dalam doa \u00a0atau meditasi yang membuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":2884,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[55,110,1031],"class_list":["post-5224","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-agama","tag-kebahagiaan","tag-orang-lain"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5224","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5224"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5224\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5226,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5224\/revisions\/5226"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2884"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}