{"id":4248,"date":"2022-11-07T15:39:53","date_gmt":"2022-11-07T08:39:53","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=4248"},"modified":"2022-11-07T15:39:53","modified_gmt":"2022-11-07T08:39:53","slug":"sumpah-pemuda-bagai-tali-pengikat-sapu-lidi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2022\/11\/sumpah-pemuda-bagai-tali-pengikat-sapu-lidi\/","title":{"rendered":"Sumpah Pemuda Bagai Tali Pengikat Sapu Lidi"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: I Kadek Perry Bagus Laksana | 2502040676 | PPTI 13 |<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong>\u201cSebatang lidi tidak berarti apa-apa, tapi bila diikat jadi satu, akan menyapu segalanya\u201d, begitulah\u00a0 peribahasa yang sering kita dengar ketika membahas pentingnya persatuan. Pada kehidupan manusia, satu individu saja tidak akan bisa untuk meneruskan kehidupannya. Terdapat dorongan \u2013 dorongan yang menyebabkan manusia hidup berkelompok yakni dorongan untuk bertahan hidup, dorongan untuk meneruskan garis keturunan, dan dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pekerjaan. Maka dari itu, individu \u2013 individu mulai berkumpul dan membentuk keluarga, keluarga berkumpul membentuk etnis atau kelompok, hingga akhirnya etnis \u2013 etnis bersatu membentuk bangsa dan negara.<\/p>\n<p>Sebelum bangsa Indonesia terbentuk, tiga setengah abad lamanya tanah ini terjajah oleh kolonial Belanda. Melihat hak-hak dan kekayaan dirampas perlahan \u2013 lahan secara paksa tentu bukan hal yang mudah dilalui. Kesengsaraan pun menjadi pemandangan biasa pada masa itu. Tentunya, masyarakat dulu tidak tinggal diam ketika haknya dirampas seperti itu, terdapat berbagai macam perlawanan yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Satu persatu daerah mulai mencoba mengusir penjajah dari tanah mereka. Namun sayang, banyak dari mereka gagal menghadapi kuatnya persenjataan dan permainan politik pemecah belah Belanda.<\/p>\n<p>Sejarah sudah menjadi bukti bahwa perjuangan \u2013 perjuangan yang bersifat kedaerahan tidak akan bisa membebaskan tanah ini dari tangan penjajah. Seperti sebatang lidi yang digunakan untuk \u00a0menyapu dedaunan yang banyak, tentu saja perjuangan daerah itu tidak akan cukup melawan kekuatan besar Belanda kala itu. Melihat itu, pemuda &#8211; pemudi masa itu mulai menyadari persatuan bangsa harus digapai sesegera mungkin untuk membebaskan negeri ini dari tangan penjajah.<\/p>\n<p>Seperti membuat sapu lidi, lidi \u2013 lidi harus dikeringkan terlebih dahulu agar tidak lembab dan berjamur. Menyatukan berbagai macam kalangan masyarakat dengan berbagai latar yang berbeda bukanlah merupakan hal yang mudah dan instan. Terdapat persiapan yang harus dilakukan agar persatuan yang ingin dicapai tidak mudah rusak dan hancur. Selanjutnya setelah lidi \u2013 lidi itu kering, lidi \u2013 lidi tersebut harus diratakan terlebih dahulu. Maka pola pikir dan rasa persatuan harus diselaraskan dan merata di seluruh penjuru Indonesia. Tahap terakhir dalam sapu lidi adalah mengikatnya dengan tali yang kuat, tali yang akan menyatukan semua lidi menjadi satu sapu yang kokoh. Maka dari itu diciptakan lah Sumpah Pemuda itu sebagai tali pengikat kelompok \u2013 kelompok masyarakat daerah menjadi sebuah <strong>bangsa<\/strong> yang satu dan kokoh. Sehingga lidi \u2013 lidi yang tadinya lemah menjadi satu kesatuan kokoh yang dapat mengusir penjajah sekalipun.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: I Kadek Perry Bagus Laksana | 2502040676 | PPTI 13 | \u00a0\u201cSebatang lidi tidak berarti apa-apa, tapi bila diikat jadi satu, akan menyapu segalanya\u201d, begitulah\u00a0 peribahasa yang sering kita dengar ketika membahas pentingnya persatuan. Pada kehidupan manusia, satu individu saja tidak akan bisa untuk meneruskan kehidupannya. Terdapat dorongan \u2013 dorongan yang menyebabkan manusia hidup [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":4249,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[496,720,716],"class_list":["post-4248","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-mahasiswa","tag-bangsa-indonesia","tag-para-pemuda","tag-sumpah-pemuda"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4248","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4248"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4248\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4251,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4248\/revisions\/4251"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4249"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4248"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4248"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4248"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}