{"id":4178,"date":"2022-11-03T12:21:54","date_gmt":"2022-11-03T05:21:54","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=4178"},"modified":"2022-11-03T12:21:54","modified_gmt":"2022-11-03T05:21:54","slug":"pancasila-di-tengah-ketidakpastian-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2022\/11\/pancasila-di-tengah-ketidakpastian-dunia\/","title":{"rendered":"Pancasila di Tengah Ketidakpastian Dunia"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Oleh: &nbsp;<\/strong>Vincent Kartamulya Santoso | PPTI 12 | <strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Ketidakpastian tak akan berakhir hingga kita menghidupkan generasi yang mengerti dengan pasti&nbsp; apa yang harus dijadikan pegangan dalam kehidupan berbangsa ini.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dunia sedang mengalami ketidakpastian arah. Bukan hanya pandemi Covid-19 yang tak&nbsp; kunjung usai, namun krisis pangan dan inflasi juga bertebaran di semua negara. Adanya isu&nbsp; terjadinya resesi ekonomi tahun 2023 di banyak negara membuat masyarakat global ketar-ketir,&nbsp; tak terkecuali Indonesia. Perlambatan 2023 akan berbasis luas, dengan negara-negara yang&nbsp; menyumbang sekitar sepertiga dari ekonomi global siap untuk berkontraksi tahun ini atau tahun&nbsp; depan (Gourinchas, October 11, 2022). Muncul berbagai pertanyaan di benak masyarakat&nbsp; Indonesia, Apakah Indonesia juga akan mengalami resesi? Apakah Indonesia akan selamat jika&nbsp; terjadi resesi? Apa yang harus kita lakukan jikalau terjadi resesi? Satu hal sudah yang sudah pasti,&nbsp; kita butuh pegangan dalam menjalani kehidupan kita. Ibarat orang yang akan terjatuh, secara naluri&nbsp; ia akan mencari pegangan agar tidak terjatuh. Bangsa Indonesia memiliki pedoman dan pegangan&nbsp; hidup tersendiri yang lahir pada 1 Juni 1945, Pancasila. Setiap perilaku dan keputusan pejabat&nbsp; pemerintahan dan semua rakyat Indonesia harus berdasar pada Pancasila. Melihat ke belakang dari&nbsp; resesi-resesi yang pernah terjadi di Indonesia, terutama yang baru-baru ini terjadi, resesi pada saat&nbsp; pandemi Covid-19, perekonomian di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan. Namun dengan berdasar pada Pancasila dan gotong royong di antara kita, Indonesia bisa bangkit dan&nbsp; menuju era <em>New Normal. <\/em>Kembali ke permasalahan awal, <strong>Bagaimana Pancasila dapat&nbsp; menuntun kita melewati ketidakpastian dunia saat ini?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertama<\/strong>, kita lihat dari sila pertama Pancasila, \u201cKetuhanan Yang Maha Esa\u201d. Bangsa&nbsp; Indonesia telah menyatakan iman dan pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ketika kita&nbsp; berada dalam ketidakpastian, akan muncul banyak pilihan yang membuat kita harus memilih. Kita&nbsp; sebagai bangsa yang beragama, dalam menyikapi pilihan-pilihan yang ada, perlu dilandasi&nbsp; <strong>kecerdasan spiritual<\/strong>. Seperti di saat awal dan puncak pandemi Covid-19, kita menguatkan&nbsp; keimanan kita menghadapi rintangan yang muncul dengan berdoa agar kita bisa mengambil&nbsp; keputusan dengan bijak.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kedua<\/strong>, dari sila kedua Pancasila, \u201cKemanusiaan yang Adil dan Beradab\u201d. Setiap manusia&nbsp; memiliki derajat, hak, dan kewajiban yang sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.&nbsp; Di situasi yang sulit, aspek kemanusiaan dari berbagai sisi kehidupan perlu menjadi perhatian serta&nbsp; menjadi dasar penyelenggaraan negara dan relasi antar sesama manusia. Kita tidak boleh egois dan<\/p>\n\n\n\n<p>hanya mementingkan diri kita sendiri. Manusia di manapun dan kapanpun akan selalu memiliki&nbsp; martabat yang sama, sehingga kita tidak boleh memerlakukan orang lain semena-mena. Selain itu&nbsp; juga, kita sebagai rakyat memiliki kewajiban untuk taat pada kebijakan yang dikeluarkan oleh&nbsp; pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ketiga<\/strong>, kita melihat dari sila ketiga Pancasila, \u201cPersatuan Indonesia\u201d. Rasa nasionalisme&nbsp; dan gotong royong adalah salah satu faktor kunci menangani ketidakpastian. Kita bahu-membahu&nbsp; untuk mengatasi ketidakpastian ini dan melepas ego kita masing-masing. Fokuslah bukan pada diri&nbsp; sendiri melainkan kepentingan bersama. Kita dapat melihat implementasinya dari pandemi<\/p>\n\n\n\n<p>kemarin, semua rakyat Indonesia saling bahu-membahu dan memberikan pertolongan satu sama&nbsp; lain. Banyak orang yang melakukan penggalangan dana untuk membantu yang terdampak. Karena&nbsp; gotong royong itulah, sekarang terlihat bahwa Indonesia perlahan mulai bangkit.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Keempat<\/strong>, dengan sila keempat yang berbunyi \u201cKerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat&nbsp; Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan\u201d, menunjukkan adanya sifat bijaksana,&nbsp; tanggung jawab dan cinta akan kebenaran dalam kerangka yang berkedaulatan rakyat. Di tengah&nbsp; ketidakpastian yang melanda, harus ada keputusan yang diambil pemerintah yang tentunya harus&nbsp; melalui musyawarah dan kesepakatan bersama yang mencerminkan suara masyarakat. Dari&nbsp; putusan itulah yang selanjutnya dilaksanakan dalam bentuk tindakan demi kepentingan bangsa ini.&nbsp; Seperti yang kita lihat pada awal mula pandemi, pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk&nbsp; melandaikan kurva penyebaran Covid-19 dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan seperti&nbsp; PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tanpa partisipasi masyarakat luas, kebijakan itu&nbsp; hanyalah sekedar angin yang lewat saja. Tetapi karena masyarakat patuh terhadap kebijakan&nbsp; tersebut, kurva penyebaran virus pun berhasil melandai.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Terakhir<\/strong>, dari sila yang dilambangkan dengan padi dan kapas, dengan bunyi \u201cKeadilan&nbsp; Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia\u201d. Keadilan dalam momen yang tidak pasti seperti ini&nbsp; sangatlah genting untuk diperhatikan. Semua orang pasti akan mengalami hal yang serupa di&nbsp; momen seperti ini. Bantuan-bantuan yang diberikan serta kebijakan yang dibuat harus &nbsp;menguntungkan bagi segala pihak tanpa membeda-bedakan. Jika kita berkaca pada pandemi sebelumnya, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diberlakukan kepada semua golongan masyarakat tanpa terkecuali. Begitu pula dengan pemberian vaksin yang merata hingga pelosok&nbsp; sekali pun.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita tahu dunia sedang tidak baik-baik saja. Dunia sedang diselimuti oleh ketidakpastian&nbsp; yang disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari inflasi di mana-mana, konflik antara Rusia dan&nbsp; Ukraina, sumber daya alam yang semakin menipis dan isu resesi yang sedang naik daun. Tak&nbsp; heran, jika di mana-mana terjadi kepanikan, tak terkecuali Indonesia. Walau begitu, kita sebagai&nbsp; rakyat Indonesia harus bangga karena kita mempunyai pegangan yang kuat yakni Pancasila. Setiap&nbsp; tindakan yang kita lakukan harus dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila. Jiwa gotong royong, saling&nbsp; membantu dan kekeluargaan harus dipahami oleh pemerintah dan semua komponen bangsa untuk&nbsp; sama-sama bertahan di badai ketidakpastian ini, Sekarang pertanyaannya hanya satu, kita sudah&nbsp; memiliki pegangan, apakah kita semua bisa memegangnya dengan kuat? Mari kita bersama-sama sebagai rakyat Indonesia berjuang melawan ketidakpastian yang ada dengan berpegang teguh pada&nbsp; Pancasila. Kita berhasil bangkit dari resesi dan tantangan-tantangan yang dihadapi sebelumnya,&nbsp; penulis yakin dengan gotong royong dan bahu-membahu kita semua pasti bisa bertahan di badai ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gourinchas, Pierre-Oliver. (2022, October 11). <em>Policymakers Need Steady Hand as Storm&nbsp; Clouds Gather Over Global Economy. <\/em>Diakses dari<\/p>\n\n\n\n<p>https:\/\/www.imf.org\/en\/Blogs\/Articles\/2022\/10\/11\/policymakers-need-steady-hand-as storm-clouds-gather-over-global-economy<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: &nbsp;Vincent Kartamulya Santoso | PPTI 12 | Ketidakpastian tak akan berakhir hingga kita menghidupkan generasi yang mengerti dengan pasti&nbsp; apa yang harus dijadikan pegangan dalam kehidupan berbangsa ini. Dunia sedang mengalami ketidakpastian arah. Bukan hanya pandemi Covid-19 yang tak&nbsp; kunjung usai, namun krisis pangan dan inflasi juga bertebaran di semua negara. Adanya isu&nbsp; terjadinya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":4179,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[782,112],"class_list":["post-4178","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-mahasiswa","tag-ketidakpastian-global","tag-pancasila"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4178","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4178"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4178\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4180,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4178\/revisions\/4180"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4179"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4178"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4178"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4178"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}