{"id":3360,"date":"2022-03-16T11:29:10","date_gmt":"2022-03-16T04:29:10","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=3360"},"modified":"2022-03-16T11:29:11","modified_gmt":"2022-03-16T04:29:11","slug":"ojo-dumeh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2022\/03\/ojo-dumeh\/","title":{"rendered":"Ojo Dumeh"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Oleh: Hari Sriyanto<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kata \u2018Ojo Dumeh\u2019 berasal dari bahasa Jawa, yang kalau kita artikan adalah \u2018ojo\u2019 artinya Jangan, dan \u2018dumeh\u2019 berarti mentang-mentang. Dengan demikian \u2018ojo dumeh\u2019 artinya \u201cJangan mentang-mentang\u201d. Bagi masyarakat Jawa kata \u2018ojo dumeh\u2019 merupakan pepatah lama yang dimaksudkan agar kita selalu sadar dan rendah hati. Ada banyak pepatah Jawa&nbsp; yang lebih bermakna sebagai larangan dan bukan anjuran. Salah satu contohnya adalah kata \u2018ojo dumeh\u2019 (jangan mentang-mentang). Meski hanya dua kata, \u2018ojo dumeh\u2019 memiliki makna yang dalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau ada nasihat yang diawali dengan kata \u2018ojo\u2019 maka kita harus mencari makna anjuran yang terkandung di dalamnya. Demikian juga dengan nasihat \u2018ojo dumeh\u2019. Kata \u2018ojo dumeh\u2019 intinya mengharuskan kita untuk sadar bahwa semua yang kita miliki tidaklah abadi. Kekuasaan yang kita miliki, akan ada masa akhirnya, fisik yang yang prima, nantinya akan menua, kekayaan yang kita miliki, bisa jadi akan hilang. karena semuanya hanya titipan dari Yang Maha Kuasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Di era kebebasan ini, kalimat \u2018ojo dumeh\u2019 rasanya sangat tepat diberikan kepada beberapa pihak yang \u2018merasa diatas\u2019, atau \u2018merasa lebih dibandingkan orang kebanyakan\u2019. Bukan sekali dua kali kita dengar adanya perlakuan semena-mena dilakukan oleh orang yang merasa \u2018kelasnya lebih tinggi dari yang lainnya\u2019. Kejadian semena-mena tersebut sering menjadi polemik di tengah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita masih ingat politisi <strong>Muntaz Rais<\/strong>, terlibat keributan dengan&nbsp; Wakil Ketua KPK <strong>Nawawi Pamolango<\/strong> di dalam pesawat. Saat itu Muntaz Rais &nbsp;diingatkan <strong>Nawawi<\/strong>, karena menggunakan telepon seluler saat pesawat tengah&nbsp;<em>boarding. <strong>Muntaz<\/strong> tidak terima dengan peringatan <strong>Nawawi<\/strong>, hingga terjadi cekcok dan adu mulut, hingga dilaporkan ke pihak keamana bandara. Insiden cekcok juga pernah terjadi <\/em>di Bandara Soekarno Hatta, dimana seorang perempuan yang mengaku-ngaku sebagai anaknya jendral bintang tiga, memaki-maki penumpang lainnya. Ternyata yang dimaki-maki adalah salah seorang anggota DPR dan keluarganya. Kedua insiden tersebut memang berakhir dengan damai, dan ada permintaan maaf dari pihak yang merasa bersalah. Menurut saya, itu&nbsp; terjadi karena korbannya adalah orang yang memiliki \u2019level sama\u201d atau bahkan \u2018lebih tinggi\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana jika yang menjadi korban adalah warga masyarakat biasa, yang levelnya dianggap \u2018lebih rendah\u2019 ?. Akankah ada perdamaian dan permintaan maaf ? Saya yakin tidak ! Pihak yang merasa diatas akan &nbsp;merasa tidak bersalah, dan mengabaikan meminta maaf, meski sebenarnya ia bersalah. Gengsi dan merasa lebih hebat, membuatnya mengabaikan apa itu kata maaf. Ini menunjukkan arogansi dari orang yang merasa memiliki kuasa. Tidak sadarkah dia, &nbsp;kehebatan dan kekuasaaan itu ada masanya ? Lupakah dia dengan pepatah ; \u2018setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya\u2019. Semua&nbsp; yang kita miliki&nbsp; dan nikmati tidak abadi, karena&nbsp; semua adalah titipan dari Tuhan, yang suatu saat pasti akan diminta kembali oleh-Nya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pepatah lain mengatakan kehidupan itu bak roda berputar, kadang diatas, kadang di bawah. Kata \u2018ojo dumeh\u2019 pantas untuk menasehati orang yang sedang di atas, agar&nbsp; tidak menganggap dirinya sebagai orang yang \u2018paling hebat\u2019, \u2018paling penting\u2019,&nbsp; dan \u2018paling\u2019 &#8211; \u2018paling\u2019 lainnya. Saat&nbsp; di atas, \u2018harus sadar bahwa pada saatnya nanti,\u2019 &nbsp;ia juga&nbsp; akan berada di bawah. Dengan demikian, nasihat \u2018ojo dumeh\u2019 juga memberi makna agar orang tidak lupa hari esok, karena apa yang kita nikmati hari ini belum tentu nantinya bisa kita nikmati lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski kata \u2018ojo dumeh\u2019 itu kata pendek, namun mengandung arti yang begitu luas dan dalam. \u2018Ojo dumeh\u2019 mengandung arti ; kita tidak boleh membangga-banggakan apa yang sedang dimiliki, entah itu ketenaran, harta, pangkat atau jabatan, kecantikan, ketampanan, dan lainnya. Apapun yang sedang dimiliki dan dinikmati, harus kita syukuri karena itu pemberian dari-Nya. Kita harus tetap rendah hati, tidak merasa lebih dibandingkan dengan orang lain. Dengan tetap rendah hati, menunjukkan siapa diri kita, dan orang lainpun akan semakin resfek terhadap kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita harus selalu ingat di duniia ini tidak ada yang abadi. Apapun yang saat ini kita miliki, suatu saat bisa hilang. Sehebat apapun seorang pemimpin, suatu saat pasti akan turun, secemerlang apapun seorang bintang, suatu saat akan meredup, secantik apapun seorang Ratu,&nbsp; pasti akan menua dan memudar. Mari kita selalu ingat kata \u2018ojo dumeh\u2019 (jangan mentang-mentang), agar sadar bahwa semuanya ada akhirnya. (Hari Sriyanto \/ D2715)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Hari Sriyanto Kata \u2018Ojo Dumeh\u2019 berasal dari bahasa Jawa, yang kalau kita artikan adalah \u2018ojo\u2019 artinya Jangan, dan \u2018dumeh\u2019 berarti mentang-mentang. Dengan demikian \u2018ojo dumeh\u2019 artinya \u201cJangan mentang-mentang\u201d. Bagi masyarakat Jawa kata \u2018ojo dumeh\u2019 merupakan pepatah lama yang dimaksudkan agar kita selalu sadar dan rendah hati. Ada banyak pepatah Jawa&nbsp; yang lebih bermakna sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":2989,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[383,381,385,382],"class_list":["post-3360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","tag-jawa","tag-ojo-dumeh","tag-pepatah","tag-rendah-hati"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3360"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3360\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3361,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3360\/revisions\/3361"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2989"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}