{"id":3115,"date":"2021-09-09T10:58:44","date_gmt":"2021-09-09T03:58:44","guid":{"rendered":"http:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=3115"},"modified":"2021-09-09T10:58:45","modified_gmt":"2021-09-09T03:58:45","slug":"makna-pembentukan-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2021\/09\/makna-pembentukan-karakter\/","title":{"rendered":"Makna Pembentukan Karakter"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh: Simon Mangatur Tampubolon, S.Th., S.Pdk., M.A.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata \u201ckarakter\u201d sendiri, berasal dari bahasaYunani: (charakter. Baca: khar-ak-tar&#8217;) yang memiliki pengertian: \u201cDuplikat yang tepat seperti aslinya\u201d atau bisa disebut juga \u201cmewakili\/menggambarkan\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Ibrani 1:3 dituliskan sebuah gambaran Yesus :<\/p>\n\n\n\n<p>Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud (carakthr charakter) Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Maha besar, di tempat yang tinggi,<\/p>\n\n\n\n<p>Kata \u201cGambar Wujud\u201d dalam ayat tersebut dalam bahasa Yunani menggunakan kata \u201ccarakth (khar-ak-tare&#8217;)\u201dyang berarti sebuah gambaran yang sama persis atau sebuah hasil reproduksi dalam segala hal. Dengan demikian definisi awal dari karakter adalah apa yang muncul dalam diri seseorang yang merupakan hasil reproduksi \u2013 produksi kembali \u2013 dari sesuatu yang menjadi Hakekat atau Pribadi Asli.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengenakan karakter Kristus berarti menjadikan Yesus sebagai Pribadi Asli yang diduplikat atau diproduksi kembali dalam diri seseorang. Proses ini akhirnya menjadikan pribadi tersebut menyerupai pribadi yang Asli yaitu Yesus dalam nilai-nilai dan sikap yang dimiliki oleh Yesus. Di sini terjadi suatu proses dimana sifat, nilai dan sikap yang ada pada diri Yesus dinyatakan kembali dari diri pribadi yang mengenakan Dia.<\/p>\n\n\n\n<p>Tim LaHaye mendefinisikan Karakter, sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarakter merupakan diri anda sebenarnya\u2026 Ini merupakan hasil dari temperamen alami anda yang dimodifikasi oleh pelatihan, pendidikan, pendirian-pendirian dasar, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, dan motivasi-motivasi masa kanak-kanak. Kadang-kadang karakter ditunjukan juga sebagai \u201cjiwa\u201d dari seseorang, yang dibentuk oleh pikiran, emosi dan kehendak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Definisi tersebut memberikan gambaran sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p>TEMPERAMEN + PENDIDIKAN DALAM SEGALA ASPEK + MOTIVASI = KARAKTER<\/p>\n\n\n\n<p>Rumusan tersebut bekerja dinamis dalam kehidupan manusia yang penuh pengalaman yang membentuk pola pikir, pola rasa dan pola kehendak yang akan terlihat dalam saat-saat penuh tekanan atau saat-saat penuh keberuntungan atau ditinggikan.<\/p>\n\n\n\n<p>1 Petrus 3:4, menyatakan: \u201ctetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Karakter adalah manusia batiniah yang tersembunyi, tetapi muncul dan teruji disaat-saat yang penuh tekanan atau ditinggikan, dan secara kristiani berasal dari roh lemah lembut dan tentram yang ditawarkan oleh Yesus.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi bila dikenakan kepada kita manusia, kata \u201ckarakter\u201d ini menunjuk kepada:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Diri yang sebenarnya.<\/li><li>Diri yang terduplikat<\/li><li>Diri yang tersembunyi<\/li><li>Diri yang terbentuk<\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Simon Mangatur Tampubolon, S.Th., S.Pdk., M.A. Kata \u201ckarakter\u201d sendiri, berasal dari bahasaYunani: (charakter. Baca: khar-ak-tar&#8217;) yang memiliki pengertian: \u201cDuplikat yang tepat seperti aslinya\u201d atau bisa disebut juga \u201cmewakili\/menggambarkan\u201d. Dalam Ibrani 1:3 dituliskan sebuah gambaran Yesus : Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud (carakthr charakter) Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":3113,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-3115","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3115","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3115"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3115\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3116,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3115\/revisions\/3116"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3113"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3115"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3115"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3115"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}