{"id":1647,"date":"2020-05-02T11:05:49","date_gmt":"2020-05-02T04:05:49","guid":{"rendered":"http:\/\/binus.ac.id\/character-building\/?p=1647"},"modified":"2020-05-02T11:05:52","modified_gmt":"2020-05-02T04:05:52","slug":"memberi-sebagai-pengorbanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/2020\/05\/memberi-sebagai-pengorbanan\/","title":{"rendered":"Memberi Sebagai Pengorbanan"},"content":{"rendered":"\n<p>By : Jamson Siallagan<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang wanita protes karena pacarnya sudah jarang memberinya hadiah setelah mereka jadian \/ pacaran. Ia bertanya mengapa pacarnya tidak seperti dulu sering memberinya hadiah ketika masih berusaha untuk mendekatinya. Jawaban sang pacar sangat mengejutkan, \u201capakah ada orang yang memancing memberi cacing kepada ikan sudah ketangkap\u201d? Ternyata pemberian hadiah selama ini hanya sebagai umpan agar si wanita menerima cintanya. Memberi karena ada agenda tersembunyi, ketika agendanya sudah tercapai maka otomatis pemberian juga terhenti.<\/p>\n\n\n\n<p>Motivasi memberi karena ada agenda yang tersembunyi. Memberi agar mendapatkan cintanya\/menjadi pacar, memberi dengan tujuan mendapatkan kembali dengan jumlah yang lebih besar. Motivasi ini sifatnya transaksional.<\/p>\n\n\n\n<p>Motivasi yang benar adalah memberi dengan kasih. Suatu ketika seorang pria yang akan menikah ditanya oleh seorang pendeta:<\/p>\n\n\n\n<p>Pendeta: \u201capakah engkau benar-benar mencintainya? Bagaimana kamu bisa yakin?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Pria&nbsp;&nbsp;&nbsp; : \u201cya, saya sangat mencintainya, dan saya yakin, karena saya mau menghabiskan seluruh hidupku untuk selalu bersamanya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Memberi hidup kepada orang lain dibutuhkan komitmen untuk mau berkorban. Pemberian terbesar dan terbaik adalah memberi dengan kasih, dan kasih terbesar adalah seorang yang menyerahkan nyawanya kepada orang lain \/ sebuah pengorbanan diri bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengorbanan merupakan aksi yang melampaui kewajiban kita, tindakan yang tidak wajib bagi kita, tindakan yang tidak dapat dituntut oleh siapapun untuk kita lakukan. Namun dengan kerelaan dan kesungguhan hati kita mau melakukan untuk orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang suami marah-marah kepada anaknya, \u201ckamu kerjanya main games mulu\u2026tidak belajar dengan baik. Papi sudah berkorban demi kamu. Papi berngkat kerja jam 5 pagi, pulang jam 6 sore. Kamu tidak menghargai pengorbanan papi? Seorang pria berkata kepada pacaranya, \u201chujan kuterpa, aku naik motor untuk menemuimu. Ini pengorbananku untukmu, sayangku\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Apakah itu sebuah pengorbanan? Bukan. Itu kewajiban. Pengorbanan adalah tindakan atau memberi hal yang sangat bernilai bagi kita kepada orang lain, dan sebenarnya tidak ada keharusahan untuk melakukannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah contoh tentang pengorbanan: Seorang mahasiswa memiliki uang dua juta rupiah buat beli sepatu, karena sepatunya yang lama sudah sangat buruk. Namun ketika seorang teman kampusnya sakit dan tidak memiliki uang untuk berobat, ia memberikan uang tersebut untuk membantunya temannya yang sakit. &nbsp;Tidak ada yang mengharuskan melakukannya, dan ia juga sedang butuh sepatu baru. Ia tidak salah jika ia tetap membeli sepatu baru. Namun karena kasihnya kepada temannya ia rela berkorban, memberi uang untuk pengobatan temannya dan ia tetap memakai sepatu buruknya. Ia memberi sebagai wujud pengorbanan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>By : Jamson Siallagan Seorang wanita protes karena pacarnya sudah jarang memberinya hadiah setelah mereka jadian \/ pacaran. Ia bertanya mengapa pacarnya tidak seperti dulu sering memberinya hadiah ketika masih berusaha untuk mendekatinya. Jawaban sang pacar sangat mengejutkan, \u201capakah ada orang yang memancing memberi cacing kepada ikan sudah ketangkap\u201d? Ternyata pemberian hadiah selama ini hanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-1647","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1647","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1647"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1647\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1648,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1647\/revisions\/1648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1647"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1647"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/character-building\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1647"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}