Meningkatkan Kepedulian terhadap Lingkungan Sekitar melalui gerakan TNR di Indonesia bersama Let’s Adopt Indonesia
Oleh: Mario Nugroho Willyarto
Lingkungan yang baik bukan hanya tentang kebersihan dan kenyamanan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan makhluk hidup lain yang berbagi ruang dengannya. Di sekitar kita, kucing-kucing liar berjuang untuk bertahan hidup, menghadapi risiko kelaparan, penyakit, dan bertambahnya populasi tanpa penanganan yang memadai. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan perlu tumbuh bersama empati, rasa tanggung jawab, dan penghargaan terhadap kehidupan. Melalui gerakan Trap-Neuter-Return (TNR), yaitu menangkap, mensterilkan, dan mengembalikan kucing ke lingkungan asalnya, masyarakat dapat mengambil langkah nyata untuk mengendalikan populasi kucing liar secara manusiawi sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka. Kejadian kekerasan terhadap hewan, terutama hewan terlantar, semakin meningkat. Hal ini semakin diperparah dengan masalah overpopulasi, yang menjadikan hewan terlantar sebagai sasaran empuk akibat berbagai faktor. Bersama Let’s Adopt Indonesia, gerakan ini tidak hanya menjadi upaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan harmonis, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk memperkuat karakter manusia Indonesia yang berbelas kasih, peduli, bertanggung jawab, dan gotong royong. Sebab, kepedulian terhadap makhluk hidup bukan sekadar tindakan menolong, melainkan cerminan nilai kemanusiaan dan karakter bangsa yang perlu ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan melakukan kontrol populasi, diharapkan kegiatan ini dapat membantu menurunkan tingkat kekerasan terhadap hewan dan menjadi contoh untuk kegiatan serupa di kota Malang dan sekitarnya nanti.
TNR Malang

Di Kota Malang, LAI bekerja sama dengan komunitas Perkumpulan Kucing Domestik Indonesia (PKDI) untuk melaksanakan kegiatan ini sejak Mei 2022. Penangkapan dan pelepasan kucing liar ini dilakukan di Kebun Bibit Mojolangu, Kota Malang. “Kegiatan ini meliputi penangkapan kucing liar, kebiri atau steril, dan pelepasan kembali kucing yang sudah disteril ke tempat asal mereka,” jelas Carol. Menurut Carol, hingga Jumat (3/6/2022), mereka telah melakukan steril pada 62 ekor kucing. “69 ekor kucing yang tertangkap, 62 ekor yang berhasil disteril. Yang tidak berhasil disteril itu dikarenakan kucing sakit atau belum cukup umur,” ungkap Carol. Sebelumnya, LAI pernah melakukan TNR di beberapa kota, seperti di Bekasi Depok dan Semarang. Total ada lebih dari 600 ekor kucing liar yang berhasil disteril. Steril sendiri merupakan pengangkatan alat reproduksi pada kucing, yakni testis pada kucing jantan dan rahim serta indung telur pada kucing betina. Dengan begitu, mereka tidak akan berkembang biak dan populasi kucing liar bisa terkendali. Pengangkatan ini tentunya dilakukan oleh dokter hewan sehingga tidak menyakiti hewan tersebut. Setelah steril, kucing-kucing tersebut juga masih bisa hidup normal.
TNR Semarang.
Let’s Adopt Indonesia bersama tim TNR Semarang berhasil melakukan steril kepada 20 ekor kucing yang belum tertangkap di TNR pertama yang terdiri dari 15 ekor kucing betina dan 5 ekor kucing jantan yang mayoritas sudah memasuki usia produktif. Ledakan populasi di area TNR Semarang berhasil diatasi, untuk saat ini.
Program dapat berhasil berkat kerjasama yang solid antara tim lapangan, klinik dan tim LAI sendiri, tapi bukan berarti perjalanannya selalu mulus. Salah satu cerita adalah Batman, kucing yang baru muncul di area TNR, dia masih muda dan super waspada, jadi tim Semarang cukup kesulitan menangkap ‘superhero’ ini. Batman seringkali sengaja nongkrong sambil nontonin tim TNR, hanya untuk menghilang kalau didekati. Cerita si Batman ini adalah alasan mengapa LAI selalu meminta TNR dilakukan oleh tim yang sudah mengenal area dan koloni target dengan baik supaya proses penangkapan (yang cukup makan waktu dan tenaga) bisa berjalan dengan efektif. Tim juga dapat memantau kucing-kucing yang lolos dari proses penangkapan, untuk ditargetkan kembali di program berikutnya.
Cerita lain datang dari Cemeng, si preman kompleks. Cemeng ini juga playboy sejati, ada kemungkinan sebagian besar kucing muda di kompleks area TNR Semarang ini merupakan keturunannya. Kondisi Cemeng selama ini memang kurang baik, apalagi usianya juga sudah tua. Namun, kondisi Cemeng makin mengkhawatirkan karena terlihat semakin kurus, lesu dan menolak makan. Untungnya, berhasil ditangkap di kegiatan TNR kali ini. Saat diperiksa sebelum operasi, ternyata gigi kucing malang ini tertutupi karang gigi tebal, yang menyebabkan gusinya turun (resesi gingiva). TNR membantu kucing-kucing seperti Cemeng untuk mendapatkan perhatian medis dan perawatan untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Selain disterilkan, Cemeng juga diberikan vitamin, obat dan giginya di-scaling. Kucing tua ini kembali sehat dalam waktu singkat dan kini sudah berkeliaran lagi di kompleksnya, kali ini dengan kuping yang sudah dieartip!
Kepedulian yang besar selalu bisa dimulai dari langkah kecil. Melalui gerakan TNR bersama Let’s Adopt Indonesia, kita tidak hanya membantu kucing liar hidup lebih sehat dan sejahtera, tetapi juga belajar menjadi manusia yang lebih peduli, bertanggung jawab, dan penuh kasih. Karena menjaga lingkungan bukan hanya tentang tempat kita tinggal, melainkan juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama makhluk hidup. Mari tumbuhkan empati, kuatkan karakter, dan wujudkan Indonesia yang lebih peduli—satu aksi kecil, satu kehidupan yang lebih baik.