Mengenang Martha Tilaar: Pejuang Perempuan yang Mengangkat Kekayaan Herbal Nusantara ke Dunia Modern
Oleh: Christian Siregar
Tulisan ini berangkat dari kenangan perjumpaan penulis bersama Dr. Nuah P. Tarigan (alm) dan Bp. Pangondian (Hondi) dengan ibu Martha Tilaar di PT Martina Berto, kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur, lebih dari sepuluh tahun silam. Pada Rabu, 14 Oktober 2026, beliau dikabarkan mengembuskan napas terakhir.
Martha Tilaar dikenal sebagai pengusaha perempuan, pelestari budaya, dan pelopor industri kecantikan berbasis kekayaan alam Nusantara. Melalui kiprahnya, ia menunjukkan bahwa tanaman herbal dan ramuan kecantikan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk modern yang bernilai ekonomi tanpa kehilangan akar budaya Indonesia.
Kunyit, jahe, temulawak, kemiri, dan berbagai tanaman lokal lainnya menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan produk perawatan tubuh dan kecantikan. Martha Tilaar memadukan pengetahuan tradisional dengan penelitian, inovasi formulasi, pengendalian mutu, dan teknologi modern. Baginya, modernisasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan mengembangkan warisan leluhur agar tetap relevan dan bermanfaat bagi generasi masa kini.
Kontribusinya juga mengingatkan bahwa keberhasilan industri tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari manfaatnya bagi masyarakat. Industri berbasis bahan alami melibatkan petani, tenaga produksi, peneliti, pelaku usaha kecil, dan perempuan yang turut menciptakan nilai tambah bagi perekonomian. Teknologi seharusnya meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan martabat manusia, penghargaan terhadap tenaga kerja, dan kelestarian lingkungan.
Semangat tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan nilai-nilai Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan tanggung jawab untuk menjaga alam sebagai anugerah Tuhan. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan pentingnya menghormati pekerja dan memberdayakan perempuan. Persatuan Indonesia tercermin dalam pelestarian warisan budaya Nusantara. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan mendorong dialog dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Sementara itu, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengingatkan bahwa manfaat pembangunan harus dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.
Dari perjalanan Martha Tilaar, kita belajar bahwa mencintai Indonesia bukan sekadar mengagumi kekayaan alam dan budayanya, melainkan berani mengembangkan potensi tersebut melalui ilmu pengetahuan, kreativitas, dan inovasi yang bertanggung jawab. Generasi muda, khususnya perempuan Indonesia, dapat meneruskan semangatnya dengan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Pada akhirnya, Pancasila harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar dihafalkan. Warisan Martha Tilaar mengajarkan bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang berakar pada budaya bangsa, didorong oleh inovasi, menghormati martabat manusia, dan menghadirkan kesejahteraan bersama.
Selamat jalan, Ibu Martha Tilaar. Semoga karya dan semangat perjuangan Ibu terus menginspirasi generasi penerus untuk membangun Indonesia dengan kreativitas, kepedulian, dan kebanggaan terhadap kekayaan Nusantara.