Danau Sentani dan Gunung Berapi
Oleh: Oki Hermawati
Tanah Papua konon adalah tanah yang indah hadiah dari surga yang turun ke dunia. Cerita itu rupanya menjelma menjadi kenyataan ketika penulis pertama kali menginjakkan tanah di Papua. Selama beberapa hari di Papua, penulis menyaksikan keindahan alam tanah Papua yang terasa alami dimana pegununungan, danau, laut dan daratan menghiasi alam Papua bagaikan perempuan cantik alami tanpa riasan wajah tambahan. Interaksi penulis dengan orang-orang Papua baik orang asli Papua atau pendatang di Papua memberikan banyak cerita indah mengenai kearifan lokal dari daerah Papua. Salah satu hal yang menarik ketika mereka bercerita tentang penggambaran emosi yang dikaitkan dengan kondisi alam yang ada disana. Penggambaran ini tercermin dalam dua narasi yaitu danau Sentani dan gunung berapi. Mereka berkata, “Saya kalau marah seperti gunung berapi, tetapi setelah itu tenang seperti danau Sentani.” Perkataan itu sulit dipahami penulis sampai akhirnya penulis berada di danau Sentani.
Danau Sentani yang berada di wilayah Papua merupakan salah satu danau terbesar yang membentang di bawah kaki pegunungan Cycloops, yang mencakup kabupaten Jayapura sampai kota Jayapura. Perasaan takjub akan bentangan luas danau yang dikelilingi gunung dan ketenangan air menimbulkan suatu rasa nyaman ketika melewatinya pada siang hari. Malam hari ketika penulis menikmati makan malam di sekitar danau Sentani, tampak ketenangan yang berbeda, malam nan gelap tetapi tampak bulat benar bulan bewarna kuning kemerah-merahan seperti kuning telur ayam kampung menghiasi danau itu. Malam yang gelap tidak membuat gelap danau Sentani karena banyak sinar mengelilinginya. Penulis memilih untuk berdiri lama merasakan ketenangan danau Sentani, tidak ada suara, sesekali tiupan lembut angin yang semilir. Pancaran ketenangan danau ini kuat bahkan saat malam hari nan gelap.
Penggambaran emosi, ““Saya kalau marah seperti gunung berapi, tetapi setelah itu tenang seperti danau Sentani” yang digambarkan oleh rekan dari Papua ini menjadi relevan ketika penulis berada di ketenangan danau Sentani. Bagaimana dengan gunung berapi? Jangan ditanya! Barusan kita melihat dan mungkin sedikit merasakan akibat dari meletusnya gunung anak Krakatau, “batuk-batuknya” gunung Semeru dan beberapa gunung berapi lainnya di wilayah cincin api di Indonesia. Jadi bagaimana kita menggambarkan emosi kita? Apakah kita pilih seperti gunung berapi atau pilih danau Sentani, atau kita mau memadukan keduanya secara seimbang sehingga menjadi berhikmat dalam keduanya? Pilihan ada di kita semua. Tetap tenang menjalani hidup seperti danau Sentani dan tetap membara seperti gunung berapi menggapai mimpi. Salam sehat!