Better Living Starts with Us: Membangun Generasi Muda Ekologis untuk Masa Depan Lebih Baik

Spirit mengubah masa depan yang lebih baik melalui gaya hidup berkelanjutan mewarnai kegiatan talk show bertajuk “Better Living Starts with Us” yang diselenggarakan di Kampus Binus University Bekasi. Acara ini dihadiri ratusan mahasiswa, dosen, dan karyawan yang bersama-sama merefleksikan peran generasi muda dalam menjaga lingkungan hidup, mewujudkan pembangunan berkelanjutan (SDGs), dan membangun budaya hidup yang lebih bertanggung jawab khususnya terhadap alam.

Kegiatan ini menghadirkan 4 narasumber yang memiliki kepedulian pada isu lingkungan yakni: Dr. Frederikus Fios (Character Building Development Center Binus University), Artis Cinta Laura Kiehl (Change Maker Partner Langkah Membumi), Enrico Caspar (Sustainability Team-Blibli), Saka Dwi Hanggara (Campaign Manager-Waste Change).

Dalam event ini, Doktor bidang Etika Lingkungan sebagai akademisi Binus University, Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th., menegaskan tantangan lingkungan hidup dewasa ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknologi atau kebijakan semata, melainkan lebih daripada itu sangat membutuhkan perubahan cara pandang (paradigma) mendasar mengenai cara manusia memandang alam. Selama berabad-abad manusia cenderung melihat alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas demi memenuhi kepentingan ekonomi dan kebutuhan manusia. Saatnya antroposentris bergeser pada ekosentrisme untuk masa depan bumi yang lebih baik.

“Kita perlu mengubah paradigma kita tentang alam. Alam bukan sekadar objek yang dapat digunakan sesuka hati untuk memuaskan nafsu serakah manusia, melainkan subjek moral yang memiliki nilai intrinsik. Alam harus dihargai, dihormati, dan diperlakukan secara bijaksana. Masa depan bumi sangat ditentukan oleh sejauh mana manusia mampu membangun relasi yang etis dengan lingkungan hidupnya,” ujar Doktor Fios.

Ia menjelaskan bahwa generasi muda perlu bertumbuh menjadi manusia ekologis, yaitu pribadi yang menyadari keterhubungan antara dirinya dengan alam dan seluruh ekosistem kehidupan. Kesadaran tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui pengurangan sampah, penghematan energi, penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab, serta keterlibatan aktif dalam berbagai gerakan lingkungan yang bersifat personal maupun kolektif.

Doktor Fios menyampaikan juga bahwa projek fenomenal sebagai perwujudan konkret mahasiswa Binus dalam kepedulian pada lingkungan yakni melakukan kampanye dan kegiatan lingkungan yang dilakukan dalam proyek-proyek kuliah Character Building untuk mendukung program SDGs khususnya isu lingkungan. Hal ini sudah dilakukan oleh CBDC Binus University 4 tahun terakhir.

Sementara itu, artis, aktivis, dan pegiat pendidikan Cinta Laura Kiehl mengajak generasi muda untuk memulai perubahan dari kebiasaan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya hidup sederhana, hemat, dan tidak berlebihan dalam mengonsumsi berbagai sumber daya.

“Gaya hidup ramah lingkungan tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Kita bisa memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi pemborosan makanan, menggunakan barang secara bijaksana, menghemat listrik, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Hidup sederhana bukan berarti hidup kekurangan, tetapi hidup dengan kesadaran ekologis,” kata Cinta Laura.

Cinta Laura juga menyoroti kondisi kualitas udara di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya yang semakin memprihatinkan. Menurutnya, polusi udara merupakan pesan keras kepada kita bahwa manusia perlu segera mengubah cara hidup agar tidak mewariskan krisis lingkungan yang lebih berat kepada generasi mendatang.

“Udara yang kita hirup hari ini semakin kotor dan itu menggelisahkan kita semua, terutama kita sebagai generasi muda. Jika kita tidak bertindak sekarang, maka masa depan akan menjadi jauh lebih sulit. Anak muda harus berani menjadi suara perubahan dan memperjuangkan kebaikan bagi lingkungan hidup kita,” tegasnya.

Dari perspektif dunia usaha, Enrico Caspar dari Blibli menjelaskan bahwa sektor bisnis memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan pembangunan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa keberhasilan bisnis pada masa kini tidak lagi hanya diukur melalui keuntungan ekonomi, tetapi juga melalui kontribusinya terhadap masyarakat dan lingkungan.

“Perusahaan perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam seluruh proses bisnis. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan sosial. Itulah esensi pembangunan berkelanjutan yang menjadi fokus SDGs,” jelas Enrico Caspar.

Sementara Bapa Saka Dwi Hanggara pada kesempatan ini memberikan sharing berkaitan dengan perlunya mengubah sampah menjadi bisnis yang berkelanjutan. Dan anak muda dapat mencoba itu sebagai suatu peluang untuk berkembang dan sukses di masa depan.

Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut menunjukkan tingginya antusiasme peserta terhadap isu lingkungan hidup, keberlanjutan, dan peran generasi muda dalam menciptakan perubahan positif. Berbagai pertanyaan dan gagasan disampaikan oleh mahasiswa terkait pengelolaan sampah, transisi energi bersih, pengurangan jejak karbon, hingga penguatan gerakan lingkungan di tingkat kampus.

Kegiatan “Better Living Starts with Us” akhirnya menghasilkan satu kesimpulan bersama: masa depan yang lebih baik tidak dapat ditunggu, melainkan harus dibangun mulai hari ini. Melalui kesadaran ekologis, gaya hidup sederhana, dan praktik bisnis yang bertanggung jawab, generasi muda memiliki peranan strategis untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Frederikus Fios, perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil yang dilakukan secara konsisten. “Better Living Starts with Us bukan hanya slogan. Ini merupakan panggilan moral bagi kita semua untuk merawat bumi, menghormati alam sebagai sesama subjek kehidupan, dan mewariskan lingkungan yang lebih sehat kepada generasi yang akan datang.”

Frederikus Fios