Sepenggal Cerita di Kuningan: Menemukan Makna dalam Sebuah Perjalanan

 Oleh: Lifia Yola Febrianti, S.Pd., M.Pd

Kita biasa mengeja dunia lewat teori dan garis margin yang rapi. Pagi itu di sepanjang perjalanan, dunia tidak lagi hadir dalam bentuk deretan kutipan dan tumpukan kertas yang menagih tenggat. Di dalam kabin bus yang melaju tenang, batas-batas formalitas yang biasanya membentang mendadak lenyap. Cerita-cerita sederhana tanpa slide presentasi mengalir di antara deretan kursi yang berjajar rapat.

Ada tawa yang mendadak pecah karena gurauan lama. Tentu saja, hanya mereka yang berada pada dekade tersebut yang memahaminya, yang lainnya ikut tertawa saja. Bahkan lewat cerita legenda pun kita nyaris percaya karena tak perlu ada landasan teori yang harus mengiringinya. Metodenya bisa apa saja karena hasilnya tak perlu membuktikan hipotesis yang ada. Inilah kisah yang tak membutuhkan pembuktian. Kisah-kisah di luar urusan mengajar yang akhirnya menemukan ruang untuk didengar.

Bungkus makanan ringan berpindah tangan dari satu deret kursi ke kursi lainnya membawa kehangatan yang jujur dan riang. Entah karena penumpangnya menikmati perjalanan atau perut pagi yang baru bangun keroncongan. Semua terasa nikmat, makanan dingin pun terasa hangat. Air putih terasa seperti jus alpukat. Roti tawar terasa seperti sandwich berisi telur dan irisan tomat.

Hingga kita sampai di alam Kuningan yang menyambut dengan lanskap indah yang menyegarkan pikiran. Di sana, gemericik air dan kerumunan ikan-ikan menyapa selamat siang. Ikan-ikan itu melenggok indah merayu para pelana untuk mengabadikan kenangan.

Para pelana pada akhirnya terbagi dalam dua kategori. Satunya menjadi penikmat alam, satunya lagi menjadi penikmat ikan pengisap kulit mati. Bagi penikmat alam, memori telepon genggam perlu punya ruang kosong untuk menghasilkan puluhan jepretan. Bagi penikmat ikan pengisap kulit mati, cukup duduk diam, menahan geli, dan menunggu ikannya pergi.

Sampai pada akhirnya sang surya hendak pamit ke peraduan, kita masih sempat menikmati semburat jingga di ufuk barat di kaki Gunung Ciremai. Hanya ada warna hijau dan jingga. Seketika sel konus mata lupa dengan warna layar hitam dan langit kelabu Jakarta. Kita nikmati senja dengan canda dan tawa, lupa bahwa sebentar lagi malam kan tiba.

Malam hari, kita duduk melingkar tanpa sekat teori dan gelar, menyantap hidangan sederhana, dan saling mendengarkan dengan hati yang terbuka. Ada yang selama ini banyak diam, ternyata punya banyak rahasia terpendam lalu membuka rahasia itu dengan gelak tawa. Ada juga orang yang paling tegas, tetapi punya selera humor tak terbatas. Ada juga yang berbicara kaku, tetapi meliuk lentur saat musik bertalu-talu.

Cerita ini menjadi bukti bahwa perjalanan kemarin menjadi ruang paling jujur dan setia. Ada momen saling menunggu saat ada yang tertinggal, saling mengulurkan tangan saat jalan licin, dan saling berbagi saat haus dan lapar. Ruang itu terbentuk dari kehangatan yang hadir tanpa direncanakan. Dari sanalah kita sadar, kita bukan hanya rekan kerja yang berjalan searah, melainkan juga keluarga yang saling menjaga dan menguatkan. Kenangan ini akan tetap hidup dalam ingatan dan menjadi bukti bahwa kita pernah melangkah bersama begitu lekat dan apa adanya.

Cerita ini berakhir sementara karena lampu akan dipadamkan, siap-siap mati lampu ya sayang, mari berdansa dan ikuti irama.

Lifia Yola Febrianti, S.Pd., M.Pd