Memaknai Kebangsaan Lewat Jejak Budaya Kuningan

Oleh: Stefanus Poto Elu

Suasana syahdu menyambut rombongan dosen Character Building (CB) BINUS University saat melangkah masuk Cagar Budaya Nasional Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan, 15 Agustus 2026. Kunjungan ini bukan sekadar agenda keluar kantor biasa. Ini adalah perjalanan hati dan pikiran. Sekitar 30 dosen melipir untuk menyelami kekayaan tradisi Sunda Wiwitan.

Ketua Umum Yayasan Tri Mulya Tri Wikrama yang menaungi Paseban Tri Panca Tunggal, Dewi Kanti Setianingsih menyambut hangat kedatangan para dosen CB BINUS. Ia lalu mengurai cerita di balik Paseban Cigugur yang mulai dikenal luas hari ini.

Ia menjelaskan, paseban bukan sekadar bangunan kayu bergaya tradisional. Di tempat ini, nilai spiritual berpadu erat dengan kebudayaan lokal. Para dosen diajak memahami konsep ketuhanan yang menyatu dengan alam. Masyarakat Sunda Wiwitan menghayati hubungan yang harmonis antara manusia, Pencipta, dan lingkungan sekitar. Nilai spiritual ini mengajarkan rasa syukur yang mendalam atas setiap jengkal tanah dan udara yang dihirup.

Sisi budaya yang tersimpan di Paseban terasa begitu hidup. Seni karawitan, tata busana adat, hingga arsitektur bangunan menyimpan makna filosofis yang dalam. Setiap sudut ruangan menceritakan penghormatan terhadap leluhur. Budaya di sini bukan pajangan museum. Budaya adalah denyut nadi kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Sejarah Paseban Tri Panca Tunggal berakar kuat pada perjuangan menjaga identitas tradisi. Didirikan sejak awal abad ke-20, “rumah budaya” ini menjadi benteng pertahanan adat dan ajaran budi pekerti. Masyarakat setempat mengarungi rintangan zaman untuk mempertahankan keyakinan mereka. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana nilai-nilai kehidupan Sunda Wiwitan terus dirawat dari generasi ke generasi. Sikap toleransi, kebersamaan, dan keteguhan prinsip menjadi fondasi utama yang menjaga keberadaan mereka hingga hari ini.

Di Linggarjati

Sehari sebelumnya, para dosen datang ke Museum Gedung Perundingan Linggarjati. Dari namanya, sangat jelas, kita sedang mencecap sejarah pra-kemerdekaan. Dari bilik-biliknya yang kini terawatt dan masih terjaga keaslinan bangunannya, tersimpan cerita tentang para pendiri bangsa yang bertaruh ide dan diplomasi demi mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menelusuri lorong Gedung Museum Linggarjati menghadirkan imajinasi saya dan para dosen ke masa lalu. Ruang-ruang pertemuan, meja kayu tua, dan foto-foto hitam-putih menjadi saksi bisu perjuangan diplomasi di awal kemerdekaan Indonesia. Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali gigihnya usaha untuk bebas mengucap kata “merdeka”.

Nilai sejarah di Linggarjati memberikan pelajaran berharga kepada saya tentang pentingnya merawat kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hadiah yang jatuh dari langit. Kemerdekaan adalah hasil perjuangan panjang yang membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan kearifan bertindak. Memahami sejarah Linggarjati membantu saya dan para dosen menyegarkan kembali rasa nasionalisme.

Dalam Keindonesiaan

Outing awal tahun ajaran ini menjadi ruang yang hangat bagi para dosen CB BINUS. Di tengah kesibukan akademik, perjalanan ke Kuningan dua hari ini coba kembali merajut keakraban antardosen. Canda-tawa-diskusi ringan selama perjalanan menjadi dukungan nyata secara psikologis bagi para dosen, yang akan segera kembali bergelut di kelas dan dalam tugas-tugas akademik.

Hemat saya, perjalanan ini membawa dampak yang sangat positif bagi pengembangan pembelajaran di kampus. Pengalaman personal yang diperoleh dari Paseban dan Linggarjati menjadi bahan ajar yang nyata ketika bicara tentang keindonesiaan di kelas. Nilai-nilai keberagaman, toleransi, dan sejarah kebangsaan tidak lagi diajarkan sebatas teori dalam buku teks. Para dosen dapat membagikan kisah nyata yang mereka lihat, dengar, dan rasakan secara langsung.

Generasi muda membutuhkan narasi kebangsaan yang hidup dan membumi. Lewat pengalaman ini, dosen CB BINUS siap menginspirasi mahasiswa untuk mencintai kebudayaan lokal dan menghargai sejarah bangsa. Perjalanan ke Kuningan telah memberi bekal berharga: sebuah kesadaran bahwa menjadi Indonesia berarti upaya terus-menerus merawat kebhinekaan dengan penuh syukur.

Stefanus Poto Elu