Dari Keterbuangan Menuju Rumah: Sebuah Refleksi Teologis terhadap Kisah Orang Karen di Gereja All Saints, Smyrna, Tennessee.
Oleh: Christian Siregar (D3046)
Suku Karen berasal dari wilayah pegunungan di Asia Tenggara, terutama di sepanjang perbatasan Myanmar dan Thailand. Mereka dikenal dengan nama yang beragam, seperti Kayin, Kariang, atau Kawthoolese. Secara linguistik, suku ini termasuk dalam kelompok Tibeto-Burma. Pada tahun 1997 Angkatan Darat Myanmar pimpinan Jenderal Maung Aye menginjak bendera Karen dan mengumumkan bahwa “dalam dua puluh tahun Anda hanya akan dapat menemukan orang-orang Karen di museum”. Sejak itu orang Karen makin terdiaspora, mengungsi, bahkan sampai ke Amerika.
Gereja Episkopal All Saints di Smyrna, Tennessee membuka pintunya bagi keluarga-keluarga Karen yang mengungsi. Mereka datang membawa trauma perang, kehilangan tanah, anggota keluarga dan rasa asing di negeri baru. Namun di ruang gereja itu mereka menemukan meja, kasur, bahasa yang dipelajari bersama serta doa yang dinaikkan dalam bahasa mereka sendiri.
Secara teologis, kisah ini menggema pada inti Injil Kerajaan Allah: Allah adalah Allah bagi orang asing.
Pertama, ini adalah teologi Imanuel – Allah menyertai.
Sejak peristiwa Keluaran, Allah berulang kali berkata: “Jangan menindas orang asing, karena kamu juga orang asing di tanah Mesir” (Kel 22:21). Yesus sendiri lahir sebagai pengungsi ke Mesir (Mat 2:13-14). Ketika All Saints membuka ruang bawah tanahnya menjadi rumah sementara, gereja sedang mempraktikkan Imanuel. Tuhan tidak tinggal jauh di surga sana, tetapi hadir dalam selimut yang diberikan, nasi yang dimasak, tanah sekitar gereja yang diolah dan anak-anak Karen yang akhirnya bisa tidur aman. Di sanalah janji Tuhan dalam Matius 25:35 digenapi: “Aku orang asing dan kamu memberi Aku tumpangan.”
Kedua, ini adalah teologi Gereja sebagai Tubuh Kristus.
Gereja bukan gedungnya. Gereja adalah tubuh yang merasakan sakit orang lain (1 Kor 12:26). Orang Karen kehilangan kampung halaman. All Saints kehilangan kenyamanan. Tapi dalam kehilangan bersama itu lahir persekutuan baru. Nyanyian pujian dalam bahasa Karen di mimbar yang biasanya berbahasa Inggris adalah gambaran Wahyu 7:9: “suatu kumpulan besar dari segala bangsa dan suku”. Perbedaan tidak dihapus, tetapi dipeluk. Inilah toleransi dan multikukturalisme yang dihidupi.
Ketiga, ini adalah teologi Harapan Kebangkitan.
Pengungsian terasa seperti Jumat Agung: gelap, tidak pasti, dan penuh luka. Tetapi gereja yang menampung oang-orang yang kehilangan adalah tanda Minggu Paskah. Tanda bahwa Allah sanggup mengubah keterbuangan menjadi kepulangan. Tanah yang hilang di Myanmar tidak menggantikan tanah perjanjian Allah: sebuah rumah yang tidak bisa dirampas (Yoh 14:2).
Refleksi ini mengingatkan kita semua: berkat tersembunyi Allah sering datang dalam rupa orang asing yang mengetuk pintu. Ketika kita membuka pintu, kita bukan hanya memberi tempat tinggal. Kita sedang menyambut Kristus sendiri. Dari keterlukaan pengungsian, Allah sedang merangkai pelukan-Nya melalui tangan-tangan jemaat yang terbuka.