Mentalitas Orang Indonesia

Oleh:  Dr. Madya Andreas Agus Wurjanto, S.Th., M.Th.

Prof. Dr. Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan (1974)” mengidentifikasi beberapa sifat atau mental orang Indonesia. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut;

  1. Sifat meremehkan mutu: Bekerja asal-asalan dan tidak peduli pada kualitas hasil akhir.
  2. Mentalitas menerabas (shortcuts): Ingin jalan pintas yang instan dan sering kali menempuh cara-cara tidak jujur.
  3. Kurang percaya pada diri sendiri: Ragu atas kemampuan bangsa sendiri dan kerap meremehkan potensi lokal.
  4. Kurang disiplin murni: Kepatuhan yang hanya muncul karena ada pengawasan, bukan kesadaran diri.
  5. Tidak bertanggung jawab: Suka melimpahkan kesalahan kepada orang lain atau keadaan.

Dengan memperhatikan sekian tahun lamanya saya sebagai orang Indonesia, saya secara pribadi, merasa sangat prihatin bahwa ternyata setelah sekian lama, semenjak beliau mengutarakan pendapatnya tersebut di tahun 1974, hingga hari ini, nampaknya mentalitas itu belum juga berubah. Dari hal yang paling sederhana saja, ketaatan berhenti di lampu merah saat berkendara, terlihat bahwa bangsa kita ternyata belum juga mampu membedakan bahwa jika lampu merah yang menyala seharusnya berhenti, jika kuning berhati-hati, dan jika hijau barulah silakan kembali berkendara. Kebiasaan melawan arah (contraflow) liar ketika kemacetan terjadi, telah menjadi pemandangan hampir setiap hari di ruas-ruas jalan pinggiran kota besar. Apakah memang ini dapat kita sebut sebagai ‘kearifan lokal’ khas Indonesia, sehingga jika mempertanyakan siapakah orang asli Indonesia, maka jawabannya adalah orang-orang yang suka melanggar aturan, menerabas, dan mentalitas lainnya yang dituturkan oleh Prof. Dr. Koentjoroningrat.

Budayawan Mochtar Lubis menambahkan pendapatnya, yang tak jauh beda dari apa yang disampaikan oleh Prof. Koentjoroningrat tentang mentalitas seperti apa yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Beliau menyampaikan dalam pidato budayanya, bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan sifat munafik, feodal, dan lebih percaya takhayul. Menyedihkan rasanya jika memperhatikan semua pendapat tersebut. Namun menurut saya itulah fakta, realita yang sungguh nyata dalam kehidupan kita bangsa Indonesia.

Pertanyaan sederhanyanya adalah, akankah bangsa ini mampu berubah, terentaskan dari mentalitas dan karakter yang membahayakan ini? Jika berbicara kemungkinan, sudah barang tentu mungkin bisa, namun jika berbicara seberapa besar kemungkinannya, sepertinya tipis sekali kemungkinannya. Perlu effort yang sangat besar dari seluruh lapisan masyarakat yang ada dan bisa jadi membutuhkan waktu yang sangat lama. Saking frustrasinya akan harapan bagi perubahan masyarakat Indonesia, Assc. Prof. Gema Goeyardi menyampaikan pendapatnya bahwa, “…siapapun presidennya, Indonesia sulit berubah….” Semua ini terjadi karena, menurutnya, tata kelola dan sistem pemerintahan di Indonesia sudah berurat berakar sejak ratusan tahun lalu, sehingga tidak mudah diubah hanya dalam waktu singkat oleh seorang pemimpin saja. Hambatan utama dari perubahan negeri ini bukan hanya sekadar karena siapa yang menjabat sebagai presiden, melainkan persoalan faktual birokrasi yang rumit, pungutan liar, serta penegakan hukum di tingkat operasional yang sangat rapuh.

Jika melihat realitas yang ada, mungkin bangsa ini memang tidak mau ‘terburu-buru‘ untuk menjadi bangsa maju. Sepertinya bangsa ini masih merasa bekerja asal-asalan, ragu pada kemampuan diri, munafik, pola feodal, dan suka menerabas serta merendahkan mutu sebagai ‚‘kearifan lokal‘ yang teramat sayang untuk ditinggalkan. Untuk kemajuan dan perubahan, bangsa ini sepertinya lebih memilih ungkapan masyarakat jawa: “Alon-alon asal kelakon…“ (pelan-pelan yang penting jadi). Alon, pelan jika dengan perhitungan kualitas yang matang akan menguntungkan, tetapi alon, pelan karena malas akan berbahaya bagi kemajuan bangsa. Semoga kita segera siuman akan kenyamanan semu ini….

Dr. Madya Andreas Agus Wurjanto, S.Th., M.Th.