Pesan Moral dari Piala Dunia

Oleh:  Arcadius Benawa

Pertandingan bola bagi kita di Indonesia selalu kita nikmati saat subuh atau bahkan dini hari pukul 02.00 WIB. Yang menonton tentu saja tidak hanya orang Indonesia sehingga yang meramaikan ihwal bola juga seluruh dunia. Turnamen 4 tahunan ini membuat dunia bersatu, merasa ikut berjuang, dan percaya dengan mimpi terhadap team jagoan masing-masing. Tidak heran di WAG kita (Forum Diskusi Dosen CB) pun selalu dibahas soal World Cup 2026 hingga kini.

Kalau kita refleksikan, hidup kita ini bukankah sebetulnya seperti pertandingan bola. Dalam setiap laga pertandingan bola seharusnyalah ada strategi, mempunyai mental juara, dan tidak gampang menyerah. Strategi untuk tahu kapan harus menyerang, kapan harus meraih mimpi, juga harus tahu kapan mesti bertahan dan kapan harus menjaga gawang hidup kita agar tidak jebol.

Sama seperti di World Cup 2026 ini pasti ada 1 pemain yang bakal disebut MVP (the Most Valuable Player). Maka, apakah kita ini telah mencerminkan sebagai orang paling berharga di lapangan hidup kita masing-masing. Kita ikut bersyukur dan bangga bahwa Manajer CBDC (Character Building Developmeent Center) Bapak Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Hum. lah MVP-nya dengan dinyatakannya beliau sebagai The Best Employee 2025. Selamat dan proficiat untuk Bapak Frederikus Fios. Seiring dengan itu, kita juga mendukung dalam doa semoga ke depan beliau terus menjadi motivator dan  inspirator bagi kita para dosen CB dalam menciptakan gol-gol harapan CBDC maupun kita masing-masing satu per satu. Dengan demikian kebaikan yang kita bangun bersama Bapak Manajer kita mendatangkan trofi kebahagiaan dan kesuksesan yang dapat kita angkat tinggi-tinggi pada akhirnya.

Mari kita terus bermain dengan semangat total food ball dengan mengingat fakta bahwa pemain terbaik bukanlah yang tidak pernah jatuh, tetapi yang selalu bangkit dan berjuang kembali untuk mencetak gol lagi dan lagi.

Berkat Tuhan menyertai kita semua memasuki waktu-waktu yang merupakan peluang mencetak gol-gol kemenangan dalam pengajaran, penelitian, pengabdian, maupun pengembangan diri yang tiada habisnya. Pimpinan kita telah memberikan teladannya, mari kita ikuti jejak keteladanannya.

Arcadius Benawa