TEKAD
Oleh: Petrus Hepi Witono
PUKUL 05 PAGI.
Untuk Sahabatku Inay,
Selamat menempuh langkah yang baru.
Selamat Pagi. ketika kamu membaca ini, saya bersyukur dirimu adalah salah satu teman baik yang bikin nyaman untuk bertukar pikiran. Dan yang menariknya, dirimu memiliki kepribadian yang mirip dengan mendiang ibuku.
Tiba-tiba saja aku teringat kepribadian ibuku, si Zodiak Taurus, sebagai wanita dengan tekad kuat. Mungkin ini memang ciri si Taurus. Ketika ia mengambil sebuah keputusan apapun itu, dia selalu membutuhkan tekad yang besar. Tekad sendiri sebenarnya adalah keteguhan hati untuk mencapai sesuatu walaupun harus menghadapi berbagai rintangan. Tekad bukan sekadar keinginan. Keinginan bisa berubah-ubah, tetapi tekad membuat seseorang tetap berjalan bahkan ketika jalannya terasa berat. Seperti yang pernah ditulis Napoleon Hill dalam Think and Grow Rich: “Strength and growth come only through continuous effort and struggle.”
Tekad yang kuat juga harus terjadi saat kita mengambil sebuah keputusan bernama “RESIGN”. Di balik keputusan RESIGN itu, dibutuhkan dorongan tekad yang kuat, karena kita harus—atau terkadang terpaksa—keluar dari zona nyaman demi kebahagiaan diri kita sendiri di masa depan, baik secara fisik maupun rohani.
RESIGN adalah sebuah kata yang sangat biasa kita dengar di dunia kerja, karena hal tersebut memang lumrah dalam dunia kerja yang profesional. Ada yang datang, dan pasti juga ada yang pergi. Generasi terus berganti, sehingga teman-teman di sekeliling kita tidak selalu bisa menghalangi keputusan yang kita ambil. Kita pun sebenarnya tidak berharap untuk selalu dikenang—namun jika ada yang masih mengingat kita, berarti kehadiran kita pernah berarti. Life must go on. Kita harus tetap melangkah, dan semoga kita dapat melangkah dengan cara yang baik.
Bukan berarti kita melupakan orang-orang yang pernah bekerja bersama kita Loh! Namun terkadang, yang membuat kata RESIGN terasa berat adalah kenangan manis dan pahit yang pernah kita lalui, serta VALUE dari perjalanan panjang dalam mendapatkan ilmu selama bekerja.
VALUE sendiri adalah nilai-nilai yang kita pegang sebagai prinsip hidup. Nilai ini terus berkembang dan tidak pernah benar-benar selesai dalam proses kehidupan kita. VALUE membentuk cara kita berpikir, memilih, dan bertindak. Seperti yang dikatakan Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People: “Values are like fingerprints. Nobody’s are the same, but you leave them all over everything you do.”
Yang paling penting, ketika kita memutuskan untuk RESIGN, kita perlu memastikan bahwa kita telah memperoleh value yang positif untuk portofolio diri kita dan untuk keberlanjutan hidup ke depan. Saya selalu percaya bahwa VALUE sangat menentukan kepribadian seseorang. VALUE membentuk identitas kita. VALUE memang tidak terlihat, tetapi akan selalu menemani perjalanan hidup kita.
Tahu mengapa tokoh Monkey D. Luffy dalam One Piece masih terus hidup dalam kisahnya hingga sekarang? Karena value yang ia pegang dalam mengejar mimpinya.
Tahu mengapa seorang wanita buta yang cerdas seperti Helen Keller mampu terus berjuang mengenal dirinya dan menembus berbagai keterbatasan?
Tahu mengapa Mother Teresa selalu bangkit untuk berkarya, walaupun ia juga pernah merasakan lelah dan tangis?
Tahu mengapa film Children of Heaven memiliki kekuatan cerita yang begitu menyentuh tentang petualangan kakak-beradik saat berhadapan dengan sepasang sepatu yang hilang?
Karena mereka semua memiliki VALUE yang terus mengiringi pilihan TUJUAN HIDUP mereka.
Lalu bagaimana dengan VALUE yang sudah kita dapatkan, apa yang akan kita kembangkan di luar sana? Tentu kita akan terus melangkah. Tekad akan mendorong kita untuk bergerak, sementara VALUE akan menjaga arah perjalanan kita (Ini menurut keyakinan saya).
Seperti yang dikatakan Viktor E. Frankl: “When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.”
Salam cintaku seluas angkasa.
Segelas Kopi Labuan Bajo.