Living Zombie

Oleh:  Tedi Lesmana M

Menurut perhitungan teoretis, umur biologis seseorang sekitar 120 tahun (Hayflick limit). Masa usia tadi adalah kemampuan optimum setiap sel-sel di tubuh beregenerasi (40-60 kali membelah diri). Realitasnya rata-rata hidup sekitar 70-an tahun. Usia harapan hidup ini dianggap ‘normal’. Di bawah itu dianggap di bawah rata-rata, dan setelahnya di atas rata-rata.

Apabila usia 75 tahun saya gunakan sebagai ‘acuan’ rata-rata harapan hidup di Indonesia, saya hendak menunjukkan bahwa sekitar 25 tahun, hidup kita dijalani untuk belajar, 25 tahun untuk bekerja dan 25 tahun ‘sisanya’ memasuki masa senja.

Tulisan ini tidak hendak membahas usia di atas, hanya hendak menunjukkan bahwa sekitar 30% hidup kita dijalani dalam dunia pendidikan (misalkan strata S1). Persentase itu tentu bisa bertambah bagi mereka yang melanjutkan studi terus menerus atau menekuni hidupnya di dalam dunia pendidikan.

Sepertiga hidup dijalani di dalam dunia pendidikan, ini bukan hanya besar, namun sangat strategis, sebab periode itu dijalani di awal kehidupan. Periode pendidikan bukan hanya menentukan orientasi hidup tetapi juga membentuk pola pikir manusia modern.

Tetapi kehidupan bukan tentang dunia pendidikan. Dunia pendidikan hanya sebagian kecil dari kehidupan itu sendiri. Masih ada dunia di ‘luar’ sana, yaitu masyarakat, dunia pekerjaan, kehidupan yang lebih luas, dan banyak hal lagi.

Sebagai periode awal, dunia pendidikan membentuk pola pikir dan penyikapan terhadap dunia (setelah keluarga). Namun sadarkah bahwa dunia pendidikan adalah dunia artifisial. Dunia pendidikan bukan dunia sebenarnya. Dunia pendidikan mengkonstruksi nilai-nilai ideal, yang sejatinya itu tidak terjadi begitu saja (taken for granted) di masyarakat luas.

Nilai-nilai ‘ideal dunia pendidikan’ adalah ‘tawaran’ dan seringkali ‘kalah’ melawan semangat pragmatisme hidup. Meskipun pragmatisme sendiri adalah ‘nilai’ juga, tetapi ‘bukan’ semacam idealisme dunia artifisial pendidikan. Pragmatisme lebih mengakar kuat dalam kehidupan keseharian. Pragmatisme adalah bentuk lain dari oportunisme sebagai salah satu metode bertahan hidup (survival of the fittest) yang sangat primitif. Pragmatisme adalah ‘Das Man’, ketika log kayu mengikuti arus sungai. Jadi idealisme dunia pendidikan seperti ‘anti gravitasi’ realitas kehidupan itu sendiri. Idealisme adalah berenang melawan arus.

Idealisme adalah gagasan normatif yang dikonstruksi secara rigid dalam dunia pendidikan. Begitu juga semangat meritokrasi, itu hanya terjadi dalam konteks pemerolehan prestasi akademik. Faktanya di masyarakat luas yang heterogen dalam banyak dimensi; terdapat apa yang disebut sebagai kebohongan, penipuan, manipulasi, saling sikut, kebencian, dan banyak hal yang selama di dunia pendidikan ‘disaring’ seolah hal-hal tadi tidak ada. Ini adalah faktisitas Geworfenheit (thrownness) ke mana eksistensi manusia hadir, pada realitas apa adanya.

Akibatnya para ‘lulusan’ gagap dalam kehidupan, tipu-muslihat dianggap ‘musuh’ yang tidak adil. Padahal itu sudah ada jauh sebelum sekolah-sekolah artifisial itu ada. Para lulusan terdidik ini dilatih untuk ‘mengabaikannya’ dalam dunia yang steril dan mereka gagap ketika faktisitas itu merupakan keseharian kehidupan. Seperti anak domba yang baru lahir dari rahim ‘induk’ yang nyaman, masuk ke tengah-tengah padang serigala.

Sekolah adalah dunia ‘steril’, sehingga pola pikir ‘kaum terdidik’ modern ini tidak menjejak pada faktisitas realitas. Dunia pendidikan adalah  dunia kognitif dan struktural yang dirancang bukan untuk ‘persiapan hidup’ tetapi sebatas rantai pasok masyarakat industri dan masyarakat pengetahuan (modern). Dunia pendidikan bukanlah ‘gambaran sejati’ dunia. Dunia pendidikan adalah struktur masyarakat artifisial modern yang menjadi ‘pasangan’  masyarakat industri.

Dunia pendidikan seperti pabrik ‘nut’ (mur) dan masyarakat industri modern seperti ‘bolt’ (baut). Manusia-manusia yang ke luar dari sekolah-sekolah adalah manusia ‘mur’ yang sudah dirancang dan siap  (Zuhandenheit; ready-to-hand; lihat Martin Heidegger, Sein und Zeit, 1927)) pada baut yang sudah disiapkan (masyarakat industri, barang dan jasa dalam sistem kapitalisme).

Sejak awal dunia pendidikan sudah melakukan enframing (Gestell; membingkai) manusia. Kreativitas ‘dimatikan’, berpikir kritis dibuat ‘tumpul’, dan kesadaran dibuat ‘pingsan’. Semua dirancang untuk mengikuti arus utama; menjadi follower (pengikut) daripada menjadi subjek yang otentik, kreatif, dan mandiri. Menjadi ‘berbeda’ adalah ‘aib’ di dalam masyarakat ‘satu dimensi’ (lihat Herbet Marcuse, One Dimensional Man, 1964). Semua harus ikut barisan, seperti tentara korea utara yang tertib berderap. Ke luar barisan adalah ‘hukuman mati’.

Ketika manusia ‘otentik’ masuk sekolah, jiwanya telah di-shutdown (dimatikan) saat tamat belajar; sebab sekolah bertujuan untuk menjadikannya ‘mur-mur’ industri. Dunia pendidikan membunuh kemanusiaannya itu sendiri. Industri (barang dan jasa) telah berderap dengan ritmenya. Just in time satu-satunya ideologi. Semua adalah rantai pasok yang begerak tanpa henti demi suatu kontinuitas pertumbuhan kapitalisasi. Living zombie mengikutinya tanpa mampu lagi bertanya, jiwanya terserap senyap dalam irama ‘mesin’ menyisakan tubuh biologis tanpa jiwa. Modernisme seperti drakula penghisap ‘darah kehidupan’ para pekerja ‘pabrik’.

Jutaan tahun manusia berevolusi untuk menjadi great troubleshooter, great thinker, dan great creator; sekarang semuanya menjadi ‘robot zombie’ yang ‘harus’ patuh pada irama musik konser yang seragam yaitu industri dan kapitalisme. Tubuh kita memang hidup tetapi jiwanya sudah lama sekarat. Jadi betul AI akan ‘menyamai’ manusia, bukan karena AI yang ‘mendekati’ manusia, tetapi karena manusialah yang mendekati mesin. Ini adalah ironi post-human (pascahuman).  Namun apakah manusia Dasein menyisakan otentisitas kehendaknya?

Akhirnya, saat usia biologis sudah memasuki fase akhir, apakah masih ada ‘jiwa yang hidup’ yang akan menyongsong kematian?

 Referensi:

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Hayflick_limit
  2. https://ayosehat.kemkes.go.id/usia-harapan-hidup-penduduk-di-indonesia-meningkat-bagaimana-cara-hidup-panjang-dengan-sehat-dan-sejahtera
Tedi Lesmana M