Pusat Doa Bukan Ego Pendoa
Oleh: Arcadius Benawa
Pada CB Agama sesi 2 topiknya adalah “Agama pada umumnya”. Di dalam topik itu antara lain dijelaskan ihwal 5 karakteristik dasar agama pada umumnya, yakni memiliki kepercayaan, simbol-simbol, praktik ibadah, umat/pengikut, dan pengalaman spiritual. Mengacu pada karakteristik agama pada umumnya seperti itu, kiranya dapat dipastikan siapapun kita sebagai umat beragama pastilah pernah berdoa sebagai wujud konkret dari praktik ibadah kita baik secara individual maupun komunal/berjamaah.
Pada refleksi singkat kali ini sorotan diberikan pada praktik doa secara personal. Dari sekian banyak doa yang paling laris yang banyak didaraskan kiranya adalah doa permohonan. Tentu saja tidak salah memraktikkan doa permohonan, karena seperti kata penulis lagu disebutkan Tuhan itu tempat kumengadu. Dan aduan yang paling sering kita panjatkan kiranya adalah mengadu atas banyaknya kebutuhan atau permohonan. Di dalam Kitab Suci pun banyak disinggung juga soal doa.
Kali ini kita akan fokus pada Injil Lukas 18: 9-14 yang menyajikan Perumpamaan yang disampaikan Yesus tentang doa orang Farisi (ahli agama) dan doa pemungut cukai. Ada kontras yang mencolok antara sikap doa orang Farisi dan sikap doa si pemungut cukai. Yang orang Farisi merepresentasikan kesombongan rohani, sedangkan sikap doa si pemungut cukai merepresentasikan sikap yang rendah hati. Kesombongan orang Farisi itu ditampilkan dalam doanya yang sarat dengan puji-pujian pada dirinya sendiri (“aku tidak sama seperti orang lain, terutama tidak sama dengan si pemungut cukai”). Sementara si pemungut cukai berdoa dalam sikap yang memohon belas kasihan Allah (“Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!”).
Kalau kita cermati tampak jelas bagaimana keduanya itu berdoa. Doa Orang Farisi (Ahli Taurat/Agama) bertolak belakang dengan doa si pemungut cukai.
Sikap yang ditunjukkan orang Farisi dalam berdoa adalah berdiri, percaya diri, meninggikan diri dengan membandingkannya dengan orang lain. Dengan sikap seperti itu ia berdoa: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Lukas 18:11-12). Tentu saja tidak salah kalau orang itu bersyukur atas kebaikan yang telah dapat ia lakukan, namun menjadi tidak dibenarkan karena orang Farisi itu dalam berdoa berfokus pada ego-nya dengan melakukan pembenaran diri sendiri (meninggikan diri) dengan mengungkapkan perasaannya yang merasa lebih suci daripada orang lain, dan mengandalkan perbuatan baik secara detil: “aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak merampok, tidak lalim, tidak berzinah, dan tidak menjadi pemungut cukai; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Dalam doa tentu boleh saja bersyukur bahwa kita dapat hidup tanpa melanggar aturan sosial, aturan agama, dan macam-macam aturan yang ada di dalam masyarakat. Bersyukur bahwa bisa hidup tanpa mengambil hak orang lain (tidak merampok). Juga tidak salah bahwa dapat menjalankan perintah moral maupun perintah Tuhan (Aku berpuasa dua kali seminggu dan memberi perpuluhan). Menjadi tidak dibenarkan ketika keberesan hidup formal itu dijadikan alasan menepuk dada seraya menghina sesama sebagai the looser.
Sementara sikap si pemungut cukai dalam berdoa dibenarkan oleh Yesus. Pasalnya, doa yang didaraskan si pemungucut cuka dilakukan dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Itu sebabnya tempat doa umat Islam disebut Masjid, yang berarti tempat bersujud (tidak ada bersujud dengan posisi membusungkan dada). Ini kontras dengan yang dilakukan orang Farisi yang “berdiri”. Di hadapan Tuhan yang kudus itu tampak ketakpantasan kita, karena senyatanya kita telah berdosa terhadap Tuhan dan sesama. Ketika doa berpusat pada Tuhan menjadi jelas bahwa tidak ada satu alasan pun bagi kita untuk menyombongkan diri dan menghina sesama. Itu sebabnya Yesus berkata bahwa yang dibenarkan oleh Allah adalah si pemungut cukai, tidak si orang Farisi.
Keangkuah si Farisi menutup matanya untuk melihat keagungan dan kekudusan Allah dan lebih berfokus pada pencapaian dirinya yang ia pakai untuk menghina orang lain. Sedangkan si pemungut cukai dibenarkan oleh Yesus karena dalam doanya si pemungut cukai merepresentasikan sikap yang tepat di hadapan Allah, yakni mengakui ketidak pantasannya dalam kerendahan hati dengan membungkuk dan menebah dadanya sehigga orang lain tidak terhalang untuk melihat keagungan dan kebesaran kasih Allah dalam ampunan dan belas kasih-Nya yang tiada tara. Maka semoga setiap kali berdoa, biarlah Tuhan lebih dimuliakan dan kita merendahkan diri di hadapan-Nya yang maha mulia dan maha kudus. Semoga.