Tafsir Konstruktif Lailatul Qadar

Oleh: Sitti Aaisyah

Surah Al-Qadr ayat 1-5 merupakan surah yang mengabarkan tentang adanya malam yang mulia yang setara dengan 1000 bulan atau sekitar 83 tahun 4 bulan. Pada malam Qadar turun Jibril dan malaikat lainnya dari berbagai penjuru langit ke bumi untuk mendoakan manusia yang bertaqwa yang terjaga pada malam itu, beribadah kepada Allah swt sembari memohon ampun atas seluruh dosa yang telah diperbuat dan kemungkinan akan diperbuatnya di masa yang akan datang. Pada malam yang mulia itu, para malaikat membawa rahmat dan keberkahan serta menetapkan seluruh urusan manusia untuk setahun ke depan. Sepanjang malam hanya ada keberlimpahan kebaikan, dari malam hingga terbit fajar. Demikian tafsir yang paling populer di kalangan umat Islam.

Tafsir atas malam Qadar lainnya adalah malam yang diturunkannya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz (storage kisah kehidupan yang terjaga di sisi Allah) ke bumi sebelum kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara bertahap, sehingga malam Qadar menjadi malam yang mulia. Al-Quran sebagai panduan manusia memuat kisah-kisah masa lalu yang dapat menjadi pelajaran penting (retrospektf dan introspektif), aqidah, hukum, bahkan termasuk spill misteri penciptaan semesta yang satu persatu mulai diungkapkan para ilmuan.

Namun, ada satu tafsir yang terasa lebih segar disampaikan oleh Muhammad Syahrur (1938-2019), seorang pemikir kontemporer asal Suriah yang menulis karya monumentalnya, al-Kitāb wa al-Qur’ān: Qirā’ah Mu‘āṣirah. Menurutnya, tafsir Surah Al-Qadr seharusnya tidak hanya bersifat metafisis, namun lebih empiris agar agar bisa menjangkau kesadaran manusia modern. Al-Qur’an adalah bahasa Allah yang berupaya untuk dipahami oleh makhluk yang terbatas. Meski substansi pesan Allah yang berada di lauhul mahfudz itu mutlak dan terjaga sampai akhir zaman, namun Al-Qur’an dapat diterjemahkan secara relatif oleh manusia dengan ruang waktu yang terus dinamis berubah.

Beberapa hal yang disampaikan Syahrur terkait tafsir malam Qadar adalah ayat “lailat al-qadr khair min alf syahr” menggambarkan hukum alam dan kosmologi. Bahwa Al-Qur’an yang memuat aturan universal alam semesta akan senantiasa “menampakkan diri” seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan ekspansi jagat raya. Selain itu, kemulian malam Qadr itu tidak hanya terjadi dalam 1 malam hingga fajar terbit sebagaimana penutup surah “ salaamun hiya hatta mathla’il fajr”, melainkan dipahami dengan cara ta’wil (alegoris) bahwa malam itu adalah simbol kebodohan atau ketidaktahuan dan fajar adalah simbol cahaya pengetahuan berpendar menyinari semesta raya. Peristiwa malam Qadr adalah satu peristiwa evolusi kesadaran yang terus-menerus dalam menyaksikan bagaimana Tuhan yang Maha Sempurna mencipatakan alam raya dengan sangat teliti dan teratur.

Pendekatan tafsir dalam memahami Al-Qur’an melahirkan ekspresi keagamaan dan jalan berkhidmat yang beragam. Banyak umat Islam sangat menantikan malam yang mulia ini di bulan Ramadhan. Tidak ada yang mengetahui pasti kapan turunnya, sehingga para ulama terdahulu memberikan pandangan yang berbeda. Ada yang meyakini malam Qadr turun di salah satu malam dari 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Oleh karena itu, banyak yang melakukan i’tikaf, berdiam diri di masjid dan memutus diri dari hal-hal yang keduniawian. Ada yang mengatakan di antara malam-malam ganjil dari 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Ada yang berpendapat di tanggal 17 Ramadhan. Ada juga yang berpendapat di salah satu malam dari 30 malam bulan Ramadhan, entah di likur awal, tengah ataupun akhir dari bulan Ramadhan. Di Turki dengan bermadzhab Hanafi, di setiap tahunnya telah ditentukan kapan malam Qadr itu, tentu saja dengan perhitungan yang berlaku di dalam mazhab.

Yang menarik dari tafsir Syahrur ini, menyambut malam Qadr itu tidak hanya di dalam bulan Ramadhan, melainkan sepanjang hayat dimana kesadaran bertumbuh di dalam jiwa orang-orang yang beriman untuk menyongsong cahaya petunjuk ke dalam jalan yang benar. Kesadaran bukanlah buah yang instan, melainkan satu pendakian jiwa yang panjang dan meletihkan. Para ulama menyerukan setiap pencari kemuliaan malam Qadr untuk bisa mempersiapkan diri sejak awal Ramadhan, atau bahkan sejak bulan-bulan sebelum Ramadhan agar ketika masuk Ramadhan, jiwa itu siap menyaksikan transformasi kesadaran spiritual yang menakjubkan. Justru dengan pendekatan tafsir Syahrur, persiapan itu dimulai dari saat ini juga (hic et nunc, di sini dan sekarang) yang diawali dari sikap batin hamba mempersiapkan diri dalam mendirikan sholat, dimana sholat adalah ruang berdialog antara Tuhan dan makhluk tanpa sekat. Sabda Nabi Muhammad saw: “Apabila engkau berdiri dalam shalatmu, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah”.

Sholat mencegah manusia dari perbuatan yang keji dan munkar. Sholat adalah jalan bagi makhluk memahami arti keabdiannya. Sholat mendorong lahirnya kesadaran akan arti manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sholat menjadi media penguat pondasi spiritual agar manusia dapat menguak enigma semesta yang masih sangat banyak tertutup tirai. Dan di dalam tabir kegelapan ketidaktahuan manusia, malam Qadr masih terus berlangsung hingga fajar pengetahuan muncul di ufuk timur. Semoga umat Islam semua mendapatkan kemuliaan malam Qadr melalui penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan dan menghantarkannya menjadi khalifah yang sejatinya khalifah, pengelola kelestarian semesta. Wallahu a’lam bishshowab.

Sitti Aaisyah