Ampunan Tuhan dan Ampunan Manusia
Oleh: Arcadius Benawa
Pada mata kuliah CB Agama khususnya pada week 10 dibahas ihwal Ampunan Tuhan dan Ampunan Manusia dalam topik berjudul “Willing to Forgive”. Bahwa pada dasarnya Tuhan itu maha pengampun dan manusia berat untuk mengampuni. Itu sebabnya, kalau manusia mau mengampuni harus mengacu pada sikap Allah itu sendiri yang maha pengampun.
Bahkan di zaman dulu yang bawah sadar masih terbawa sampai sekarang berlaku hukum pembalasan. Mata ganti mata, gigi ganti gidi, hutang nyawa harus dibayar nyawa. Maka agama manapun mengajarkan Umat untuk tidak membiarkan dorongan instingtif tersebut, melainkan meneladan sifat Allah yang maha pengampun. Pasalnya, kalau kita mengikuti dorongan instingtif tersebut sikap pengampunan kita terbatas dan menjadi gelaplah dunia ini oleh hukum pembalasan.
Injil Matius 18: 21-35 mengisahkan Petrus murid terkasih Yesus Kristus yang mengajukan pertanyaan tentang pengampunan. Sampai berapa kali orang harus mengampuni sesamanya yang bersalah? Hebatnya lagi saat Petrus bertanya sudah ia sertai dengan kondisi yang sudah melampaui standard hukum yang berlaku waktu itu: “Sampai tujuh kali kah?” Asumsinya, Sang Guru akan mengiyakan, karena sudah sangat bagus. Hukum lama saja hukum pembalasan: mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa. Mengampuni sampai 7 kali jauh sudah lebih baik karena bisa mengampuni sampai 3 kali saja sudah bagus. Namun jawaban Sang Guru mengejutkan: “Bukan. Bukan sampai 7 kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali!”
Sebuah gugatan tentu akan cepat muncul: mungkinkah? Jawaban pun mudah didapat: Tidak mungkin, kalau mengalaskan kemampuan mengampuni itu pada sikap dasar manusia yang pendendam dan menghitung-hitung kesalahan orang lain, sambil menunggu saat yang tepat untuk membalas. Maka Sang Guru memberi perumpamaan tentang hamba yang berhutang pada Tuannya dan hamba yang berutang pada sesama hamba.
Dari kisah yang disampaikan Sang Guru menjadi jelas betapa Sang Tuan yang merepresentasikan sikap Allah yang maha pengampun memberi lebih dari apa yang diminta hambanya. Hambanya meminta penundaan pembayaran atas hutangnya yang besar, yakni sebesar 10 ribu talenta itu. Jumlah yang kalau dikurs setara dengan gaji 16.000 pegawai selama 10 tahun. Bahkan Raja Herodes selama 1 tahun “hanya” 900 talenta. Maka 10 ribu talenta itu sungguh jumlah yang sangat besar. Apalagi kalau dibandingkan dengan utang sesama hamba yang hanya 100 dinar. Jumlah itu kalau dikurs setara dengan gaji 3,5 bulan pekerja di kebun anggur. Jumlah yang relatif sangat kecil dibandingkan 10 ribu talenta. Hamba yang berhutang 10 ribu talenta pada Tuannya itu tidak hanya dikabulkan permintaannya untuk menunda saat pembayaran, tetapi bahkan dihapuskan hutangnya. Artinya, pengampunan Tuhan atas kesalahan dan dosa yang amat sering kita alami, tidak diperhitungkan. Diampuni-Nya. Oleh karena itu, mestinya menjadi kekuatan kita untuk mengampuni kesalahan sesama kita yang sejujurnya relatif tidak seberapa besar bila dibandingkan dengan dosa-dosa kita pada Tuhan. Hal itu digambarkan dengan hutang yang hanya 100 dinar. Tetapi ternyata itu pun tidak dilakukan oleh hamba yang telah dihapuskan hutangnya oleh Tuannya. Maka murkalah Tuan itu.
Dengan demikian, mengampuni sesama itu merupakan konsekuensi dari martabat kita sebagai Umat Allah yang dasarnya adalah kasih. Dan kasih tidak mungkin tanpa pengampunan dan belas kasih sebagaimana kita alami juga dalam relasi kita dengan Allah, mesti menjadi spirit kita dalam berelasi dengan sesama. Kalau Allah sampai memperhitungkan dosa dan kesalahan kita, siapakah yang dapat tahan? (Mikha 7: 18-19). Mari kita songsong hari kemenangan dalam hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Paskah dengan spirit rela saling memaafkan dan mengampuni sebagaimana Allah yang kita sembah dan muliakan maha pengasih dan pengampun.