Tasawuf dan Kepemimpinan

Oleh: Sitti Aaisyah

Alkisah, seorang sufi besar bernama Syekh Sirri al-Saqathi didatangi oleh murid-muridnya yang mengabarkan bahwa telah terjadi kebakaran hebat di pasar Baghdad. Hampir semua toko terbakar hangus, namun hanya tokonya yang selamat dari kobaran api. Dengan refleks, sang sufi yang mendengar kabar tersebut berucap “Alhamdulillah”. Namun, setelah menyadari ucapannya itu, ia menyesal setengah mati dan memohon ampun selama 30 tahun karena telah berucap alhamdulillah di tengah duka yang dialami oleh masyarakat lainnya.

Ajaran tasawuf yang mistik mengajarkan manusia untuk mengolah jiwa agar tidak terpenjara oleh ego yang sering kali lebih berkuasa dan menyebabkan manusia lepas kontrol dan dikuasai hawa nafsu, egoisme, dan ketamakan. Kisah sufi Sirri menunjukkan bagaimana dia lebih mencintai nasib baik yang menimpanya daripada kemalangan yang dirasakan oleh orang lain. Ia sesaat menjadi seorang yang egois, yang hanya mementingkan dirinya dan keberuntungannya dibanding penderitaan orang lain. Meski sesaat, sufi Sirri telah lalai dari mengontrol hatinya yang berpotensi menyakiti perasaan orang lain yang sedang berduka.

Kisah yang sama dialami sufi agung, Maulana Rumi, yang sepeninggal guru spiritualnya, Syams al-Tabriz, Ia kemudian menjadi terkurung dalam kesedihan. Para muridnya bertanya, mengapa sang guru begitu bersedih ditinggal oleh sang guru yang tiba-tiba pergi tanpa pesan? Rumi berkata, aku belajar dari guruku, ketika dalam kedinginan aku tidak akan mencari kehangatan seorang diri ketika yang lain tidak bisa mendapatkannya. Ketika dalam kelaparan, aku tidak akan mencari makanan untuk mengenyangkan perutku seorang diri ketika yang lain sedang merasakan lapar tak tertahankan. Bagaimana aku tidak bersedih ketika kehilangan seseorang yang mengajarkanku pelajaran hakikat seperti itu?

Pada 28 Februari 2026 yang lalu, seorang pemimpin spiritual, Imam Tertinggi kaum Syiah Iran, Ayatullah Ali Khamenei, terbunuh oleh rudal yang dilontarkan Zionis Israil-Imperialis USA di kediamannya yang sederhana. Orang bertanya, mengapa Iran dengan militerisme terbaik di kawasan Arab tidak mampu melindungi pemimpin tertingginya dari serangan lawan? Berdasarkan kesaksian militer Iran, Imam Khamaenei menolak bersembunyi di bunker. Ia memilih menyambut kesyahidannya di rumah, semata-mata karena dia tidak mampu menikmati persembunyian yang nyaman sedang umatnya seluruhnya setiap saat terancam oleh hujan rudal musuh.

Disini, peran pelatihan pendidikan tasawuf menjadi sangat penting dalam pembentukan karakter manusia yang menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi” yang artinya “setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. Sangat penting memiliki pemimpin yang memiliki kematangan intelektualitas dan spiritual. Dengan bekal tersebut, seorang pemimpin akan berdiri paling depan menanggung penderitaan rakyatnya dan bersukacita ketika melihat rakyatnya hidup bahagia dan sejahtera. Bukan yang justru berbuat sebaliknya, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri pribadi dan golongan, lalu nirempati terhadap penderitaan rakyat yang setiap saat keegelisahannya  semakin membuncah. Wallaahu a’lam bishshawab.

Sitti Aaisyah