Non Cogito, Ergo Cadaver Vivus Sum
Oleh: Tedi Lesmana Marselino
Seperti biasa, ketika tugas presentasi kelompok, saya akan mengajukan kasus untuk dikomentari oleh setiap anggota kelompok. Saya ingin tahu sejauh mana mereka mengeksplorasi kasus tersebut, sekaligus menerawang wawasan mereka.
Tentu selalu ada yang menjadi pionir (terpaksa) untuk menjawab paling dulu. Saya tidak pernah menyalahkan atau membenarkan jawaban mereka, sebab saya hanya ingin tahu opini mereka. Anggota lainnya biasanya hanya menimpali, “Sama, Pak!” lalu sedikit menambahkan. Saya heran, kenapa harus sama, seolah-olah jika berbeda adalah sesuatu yang aib. Apakah ini basa-basi turun-temurun atau kemalasan berpikir?
Tetapi, ada satu anggota yang tampak aneh dan gelisah. Ia tidak menjawab (bahkan menjawab “sama pun” seperti yang lain, ia tidak berani berkata demikian). Dia mendekati temannya satu per satu, bertanya dan mengonfirmasi seolah meminta keyakinan, “Apa yang harus saya katakan?”
Saya berkata, “Saya hanya ingin pendapat kamu, tidak ada jawaban salah/benar. Just speak up.” Kata-kata itu tampaknya tidak membuat kegelisahannya mereda. Ia tampak hilir mudik kembali mengafirmasi kepada setiap temannya untuk meyakinkan diri apa yang harus dikatakan. Tetapi, teman-teman lainnya hanya bergumam tidak jelas seolah juga tidak yakin atau “takut”—saya juga tidak begitu pasti.
Meskipun begitu, karena saya terus “memaksa” dia harus bicara (apa pun itu), akhirnya muncul juga satu kalimat singkat dari mulutnya. Saya katakan, “Nah, begitu dong! Terima kasih untuk pendapatnya.”
Dari kejadian tadi, saya menjadi bertanya-tanya: mengapa hanya menyatakan opini menjadi suatu kegelisahan yang sangat mendalam? Mengapa ia harus mengonfirmasi kepada setiap temannya hanya untuk mengutarakan pendapat “bebas”? Apakah ia tidak punya pendapat? Apakah ia tidak punya opini? Apakah ia selama ini tidak pernah menjadi dirinya yang otentik?
Apakah kata-kata sederhana “Apa pendapatmu?” menjadi suatu kegelisahan eksistensial? Mungkin dia terhenyak bahwa selama ini dia tidak pernah memiliki otentisitas. Apakah selama ini ia hanya membeo orang tuanya? Apakah ia menjadi echo chamber lingkungannya? Apakah ia hanya memeluk identitas kolektif teman-temannya atau apa? Jadi, ketika dituntut untuk mengutarakan pendapat, kegelisahan eksistensial mengagetkan seperti hantu pocong di siang bolong, menghentak kesadaran.
“Hah?! Apa? Aku tidak punya pendapat? Aku tidak tahu? Kenapa aku? Kenapa tanya? Kenapa harus beropini? Aku tidak pernah menjadi diriku sendiri? Aku adalah lingkunganku? Aku hanya copycat? Aku bukan aku, dan aku tidak tahu siapa diriku? Aku hollow?”
Saya sendiri bukan psikolog. Saya tidak tahu ini gejala apa. Apa ini mau dianggap biasa, atau suatu gejala psikopatik tertentu? Sayang tidak ada Descartes di sana, yang mungkin akan bangkit sebentar dari kuburnya untuk membantu menginjak pedal gas mesin otaknya, lalu setelahnya kembali ke liang lahat, melanjutkan tidur abadinya.
Berandai-andai, saya coba mewakili suara hati Descartes, bahwa ketika seseorang bahkan tidak mampu dan/atau tidak mau berpendapat, ini adalah suatu persoalan. Tidak ada kemandirian berpikir, tidak ada eksistensi kognitif. Cogito tidak lagi menjadi ergo sum, sebab sejak awal tidak ada cogito. Seluruh perangkat berpikir yang ada di dalam tempurung otak itu seolah diparkir dan tidak diinisiasi gasnya. Tidak ada mekanisme internal untuk memicu inisiasi kemandirian berpikir. Kalau tidak ada lagi “aku” cogito, yang tersisa hanya generasi (Z)ombie.
Non cogito, ergo cadaver vivus sum (Aku tidak berpikir, maka aku adalah mayat hidup).
Ini adalah persoalan dasar, dan perubahan zaman menambah beban pasivitas kemalasan berpikir (inersia kognitif) ini dengan keharusan memanfaatkan teknologi semacam LLM. Tanpa LLM saja situasi ini sudah merupakan persoalan, apalagi dengan “alat bantu” pasivitas berpikir.
Manusia akhirnya hanya menjadi operator dan bukan subjek mandiri itu sendiri. Manusia adalah instrumen LLM, bukan subjek penggunanya.
Manusia tidak lagi memegang kendali kuda, tetapi bertanya kepada kuda: kita hendak ke mana? Bahkan untuk membuat teks prompt (pemandu) LLM, mungkin seseorang perlu bertanya dulu, “Tolong buatkan prompt untuk membuat prompt, saya tidak tahu harus berkata apa.”
Ini adalah masa dekadensi kognitif dengan akselerasi sistemik. Jangan sampai, kita hanya menyerahkan ijazah pada ‘zombie’ yang otaknya dilaminating.