Cogito, Ergo Sum

Oleh: Petrus Hepi Witono

Pukul 12.00 malam, telepon saya berdering. Di layar tertulis nama adik. Begitu saya angkat, terdengar suara hangat, “Happy birthday, abangku.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tapi bagi saya, itu adalah perjalanan panjang yang akhirnya menemukan damai. Itu bukan sekadar ucapan ulang tahun. Itu adalah penerimaan.

Sejujurnya, sejak kecil saya adalah anak adopsi dari sebuah rumah sakit. Saya pernah hidup dengan ejekan “anak pungut.” Kata-kata itu tidak pernah saya balas dengan amarah. Saya memilih tersenyum. Tapi tidak banyak yang tahu, sejak kelas 2 SD hingga remaja, saya bergumul dengan pertanyaan tentang identitas pribadi “WHO AM I”. Saya membawa “beban” ini setiap kali merayakan ulang tahun. Saya iri melihat teman-teman yang tumbuh bersama ayah dan ibu kandung mereka. Sementara saya belajar menerima kenyataan tanpa kehadiran keduanya.

Bagi saya hingga hari ini, ulang tahun bukan soal banyaknya ucapan atau perayaan. Ulang tahun adalah momen refleksi. Momen untuk bertanya: sudah sejauh mana saya bertumbuh? Apa makna hidup yang sedang saya kejar? Siapa diri saya sebenarnya?

Perjalanan hidup saya penuh liku. Ada salah langkah, ada penyesalan, ada luka yang pernah saya simpan sendiri. Namun satu kutipan terasa begitu relevan: “We are all more than the worst thing we’ve done.” — Lynette Noni, The Prison Healer. Kita semua lebih besar daripada kesalahan terburuk kita. Ulang tahun menjadi pengingat bahwa kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri, memaafkan masa lalu, dan melangkah dengan versi diri yang lebih matang.

Saat kuliah teologi, saya belajar tentang René Descartes dengan ungkapannya, Cogito, ergo sum — “Aku berpikir, maka aku ada.” Di tengah keraguan tentang asal-usul dan identitas, saya sadar satu hal: selama saya mampu berpikir, merefleksikan, dan menyadari diri, maka keberadaan saya sah. Kesadaran adalah bukti eksistensi. Bukan label, bukan omongan orang, bukan masa lalu.

Untuk generasi Z yang sering bertanya “siapa aku sebenarnya?”, mungkin jawabannya bukan di validasi media sosial atau pengakuan orang lain. Jawabannya ada dalam refleksi diri. Dalam keberanian menerima cerita hidup, seberat apa pun itu.

Doaku untuk Almarhum Ayah dan Bunda,

Kedua orangtuaku yang hebat.

Saya bersyukur, saya dicintai.

Petrus Hepi Witono