Listening Is the First Leadership Act

Oleh: Petrus Hepi Witono

Bagi Gen Y dan Gen Z yang sedang membangun karier—baik sebagai supervisor, entrepreneur, maupun calon pemimpin organisasi—The New CEO karya Dr. Ty Wiggins kayaknya terasa seperti “manual realita” soal kepemimpinan. Saya menangkap intinya. Buku ini tidak menjual motivasi kosong, tetapi membongkar momen paling menentukan dalam karier seorang pemimpin: hari-hari pertama saat memegang tanggung jawab besar.

Banyak orang mengira menjadi CEO berarti kekuasaan dan kebebasan, padahal justru sebaliknya—kesepian, tekanan ekspektasi, dan risiko salah langkah yang dampaknya panjang. Dari awal buku kita diajak memahami bahwa persepsi orang terhadap pemimpin terbentuk sangat cepat, sehingga sikap, komunikasi, dan keputusan awal harus dilakukan dengan kesadaran diri.

Dr. Ty Wiggins menunjukkan bahwa momen awal kepemimpinan adalah fase paling menentukan. Bukan soal terlihat pintar, tetapi bagaimana kamu mendengar, memahami situasi, dan tidak buru-buru ingin dianggap hebat.

Banyak generasi muda terjebak mindset “harus langsung membuktikan diri”. Kita ingin cepat dihormati, cepat berdampak, cepat sukses. Buku ini justru membongkar mitos itu. Para CEO dunia yang diwawancarai mengaku kesalahan terbesar mereka adalah ingin menang terlalu cepat. Mereka mengubah banyak hal sebelum memahami budaya organisasi, akhirnya kehilangan kepercayaan tim. Pelajarannya sangat relevan: kepemimpinan bukan sprint, tapi proses membangun legitimasi sosial.

CEO BUBBLE. Bagian paling relate buat saya adalah konsep CEO Bubble — kondisi ketika pemimpin terlalu dipuji, terlalu dijaga jaraknya, dan akhirnya kehilangan realita. Ini mirip ketika seseorang mulai “naik level” lalu lingkarannya makin sempit dan hanya mendengar hal menyenangkan. Bagi Gen Y dan Gen Z yang hidup di era personal branding, buku ini seperti pengingat: semakin tinggi posisi, semakin penting menjaga kejujuran informasi. Pemimpin bukan orang paling tahu, tapi orang paling mau tahu.

PRIORITAS. Pemimpin tidak harus mengerjakan semuanya, tetapi harus menentukan apa yang paling penting lebih dulu — membangun tim yang tepat, komunikasi terbuka, dan budaya kerja sehat. Keberhasilan jangka panjang datang dari kepercayaan, bukan performa instan.

Terkait dengan Pendidikan karakter Pancasila sendiri, buku ini menanamkan nilai integritas, tanggung jawab sosial, musyawarah (mendengar sebelum memutuskan), kepemimpinan melayani, serta kerendahan hati—nilai yang selaras dengan karakter warga negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila: gotong royong, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.

* Diinspirasikan dari buku The New CEO karya Dr.Ty Wiggins

Petrus Hepi Witono