Penghargaan Atas Makanan

Oleh: Eder Timanta Sitepu, S.Th., M.Th.

Bonus demografi menjadi salah satu bahasan yang ramai diperbincangkan oleh berbagai pihak di Indonesia. Bonus demografi digadang-gadang menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia menjadi negara maju di tahun 2045. Meski demikian, bonus demografi juga menjadi salah satu tantangan serius apabila tidak tersedia lapangan kerja yang cukup untuk angkatan kerja yang begitu besar. Salah satu tantangan besar dalam merespons bonus demografi adalah ketahanan pangan masyarakat Indonesia. Bonus demografi dapat dijadikan peluang dalam meningkatkan ketahanan pangan Indonesia melalui banyaknya angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian. Namun, fakta menunjukkan bahwa minat untuk bekerja di sektor pertanian  semakin lama semakin menurun. Hal ini tentu berdampak langsung dengan ketahanan pangan negara Indonesia.

Thomas Maltus pernah memaparkan sebuah teori tentang ketidakseimbangan antara pertumbuhan penduduk yang terus bertambah dengan ketersediaan pangan. Malthus mengistilahkan pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur (misal dari 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya) tidak akan dapat mengimbangi kemampuan produksi yang pertumbuhannya mengikuti deret hitung (misalnya dari 1 menjadi 2, 3, 4 dan seterusnya). Dengan kata lain, pertumbuhan jumlah penduduk akan bertambah lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi manusia.

Selain itu, faktor yang membuat ketahanan pangan di Indonesia semakin rentan adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi industri dan perumahan.  kondisi tersebut diperparah oleh perubahan iklim yang menurunkan jumlah produksi sektor pertanian.  Realitas-realitas terkait ketahanan pangan  di atas tentu menjadi sinyal kuat yang memperingatkan Indonesia bahwa cepat atau lambat ketahanan pangan negara kita akan semakin terancam.

Kondisi ketahanan pangan tersebut tentu membuat narasi untuk hidup berkecukupan menjadi sesuatu yang sangat penting, khususnya penghargaan terhadap makanan. Penghargaan kepada bahan-bahan makanan menjadi sesuatu harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus memastikan agar orang-orang di sekitar memiliki penghargaan yang tinggi terhadap makanan. Penghargaan terhadap makanan dapat dilakukan dengan tindakan mengambil porsi makanan secukupnya; menghabiskan makanan yang telah diambil; menghargai setiap orang yang terlibat dalam proses penyediaan makanan; dan berbagi makanan kepada orang yang sangat membutuhkan makanan.

Penghargaan terhadap makanan juga dapat kita maknai dengan menanamkan paradigma bahwa makanan harus dihargai dalam semangat kebersamaan. Tradisi makan bersama yang diterapkan dalam berbagai budaya-budaya di dunia memiliki makna yang penting dalam kaitannya dengan sikap kita terhadap makanan.  Pada momen makan bersama setiap orang akan mengambil makanan secukupnya. Hal itu dilakukan agar orang setelahnya juga mendapatkan makanan yang cukup. Demikian juga ketika mulai mengkonsumsi makanan, setiap orang tidak hanya memperhatikan piringnya saja, tetapi memperhatikan piring orang di sekitarnya sambil menawarkan untuk menambah makanan. Selain itu, pada makan bersama, setiap orang akan menahan diri untuk tidak makan berlebihan karena kuatir akan mengambil bagian orang lain. Dengan kata lain, makan bersama bukan sekadar peristiwa mengkonsumsi makanan semata tetapi juga sekaligus menjadi ruang dalam mewujudkan keselarasan, keseimbangan dan solidaritas dalam satu komunitas bersama.

Ketahanan pangan memang menjadi sebuah tantangan besar di masa kini. Setiap orang punya tanggung jawab untuk mengusahakannya. Kontribusi yang dapat kita berikan dalam menjaga ketahanan pangan berbeda-beda. Kalau kita tidak bisa menjadi seorang petani, setidaknya kita tidak membuang-buang makanan yang kita masak atau beli.

Eder Timanta Sitepu, S.Th., M.Th