Character Building dan Pendidikan Anti-Tone Deaf

Oleh: Agung Setiawan, S.Hum., M.Hum

Seberapa tone deaf  kah kita hari ini? seberapa tuli kah nurani kita akhir-akhir ini?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, namun menyimpan kegelisahan moral yang mendalam. Tone deaf bukan sekadar ketidakmampuan menangkap nada dalam musik, melainkan ketidakmampuan merasakan denyut kemanusiaan di sekitar kita. Dalam konteks sosial, tone deaf berarti tumpulnya empati, matinya rasa malu, dan hilangnya kepekaan terhadap ketidakadilan yang terus berlangsung.

Beberapa tahun ke depan, terutama para mahasiswa Binus University mungkin akan mengajukan pertanyaan yang sama ketika mengingat kembali pengalaman mereka dalam pembelajaran Character Building. Bukan sekadar mengenang aktivitas simbolik yang pernah dilakukan, melainkan mempertanyakan: apakah nilai-nilai itu benar-benar hidup dalam diri kita hari ini?. Pembelajaran Character Building sering kali diwujudkan dalam aktivitas nyata: menanam pohon, berbagi dengan mereka yang membutuhkan, duduk dan berinteraksi bersama anak-anak panti asuhan, atau terlibat dalam kegiatan sosial lainnya. Tujuan utama Character Building bukanlah menciptakan kenangan akan “kebaikan sesaat”, melainkan membangun ingatan moral—sebuah kesadaran batin yang kelak memunculkan rasa malu ketika kita menyimpang dari nilai yang pernah kita hidupi.

Di titik inilah Character Building bekerja secara utuh: bukan pada saat kegiatan dilakukan, tetapi pada saat nilai itu kembali menggugat nurani di masa depan. Dengan begitu Character Building juga sekaligus merupakan pendidikan Anti-Tone Deaf dengan karakteristik menghidupkan kepekaan moral dan menghidupi rasa malu, menolak sikap netral palsu dalam menghadapi fenomena kezaliman, penindasan, ketidakadilan, kesenjangan sosial, perpecahan, dan intoleransi. Manusia yang bertumbuh secara karakter bukanlah manusia yang selalu sempurna, melainkan manusia yang masih memiliki rasa tidak nyaman melihat ketidakadilan, rasa terganggu melihat penderitaan, dan rasa malu ketika diam di hadapan kezaliman. Ketika seseorang tidak lagi merasakan apa-apa saat melihat penindasan, tidak lagi tersentuh oleh kesenjangan, dan tidak lagi terenyuh oleh penderitaan sesama, di situlah tone deaf menjadi masalah serius dalam pendidikan karakter. Rasa malu merupakan indikator pertumbuhan karakter. Dalam banyak tradisi etika dan pendidikan moral, rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan penanda kematangan karakter. Rasa malu menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki standar moral internal, bukan sekadar mengikuti norma eksternal.

Character Building yang berhasil akan melahirkan manusia yang malu ketika bersikap tidak adil, malu ketika bersikap intoleran, malu ketika memilih diam demi kenyamanan pribadi. Sebaliknya, hilangnya rasa malu sering kali menjadi awal dari pembenaran atas kekerasan, diskriminasi, dan ketidakpedulian. Jika suatu hari kita masih merasa terganggu oleh ketidakadilan, masih merasa malu ketika mengkhianati nilai yang pernah kita pelajari, dan masih tersentuh oleh penderitaan sesama—maka pendidikan karakter itu belum gagal. Dan mungkin, justru di sanalah manusia benar-benar bertumbuh.

Rasa malu itu muncul ketika suatu hari kita berkata:

Saya pernah menanam pohon, mengapa kini saya tega menebangnya?”

“Saya pernah berbagi, mengapa kini saya justru melakukan korupsi?”

Agung Setiawan, S.Hum., M.Hum