Dehumanisasi dalam Dunia Pendidikan Tinggi: Sebuah Ancaman bagi Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Oleh: Christian Siregar (D3046)

Dunia pendidikan tinggi seharusnya menjadi tempat di mana ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dapat berkembang. Namun di balik harapan besar itu, ada sebuah fenomena yang menguatirkan, yaitu dehumanisasi. Dehumanisasi dalam dunia pendidikan tinggi adalah proses di mana manusia dianggap sebagai objek, bukan sebagai subjek yang memiliki perasaan, kebutuhan dan hak.

Dehumanisasi dalam pendidikan tinggi dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Salah satu contoh adalah pendekatan pendidikan yang terlalu fokus pada penelitian dan publikasi, sehingga mengabaikan aspek-aspek lain dari kehidupan akademis, seperti pengajaran, bimbingan, dan pengembangan karakter. Dosen dianggap sebagai mesin yang hanya perlu menghasilkan publikasi, bukan sebagai pendidik yang memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan potensi mahasiswa.

Selain itu, dehumanisasi juga dapat terjadi dalam bentuk penggunaan teknologi yang tidak tepat guna. Penggunaan teknologi canggih berbasis internet dalam pendidikan tinggi dapat menjadi alat yang efektif, namun jika tidak digunakan dengan bijak, justru dapat menyebabkan mahasiswa menjadi lebih terisolasi dan kehilangan kemampuan berinteraksi dengan dosen dan teman-temannya.

Dampak dehumanisasi dalam pendidikan tinggi sangatlah besar. Pertama, dosen  dapat kehilangan wibawa dan peran inti (core competence)-nya sebagai pengajar. Kedua, mahasiswa dapat kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif, karena mereka hanya diajarkan untuk mengikuti prosedur dan menghafal informasi. Ketiga, dehumanisasi dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan empati dan kemampuan untuk berinteraksi dengan manusia lain, sehingga mereka menjadi kurang mampu untuk bekerja sama dan berkomunikasi dengan efektif.

Untuk mengatasi dehumanisasi dalam pendidikan tinggi, perlu ada perubahan dalam pendekatan pendidikan. Pendekatan pendidikan harus lebih holistik, yaitu memperhatikan aspek-aspek lain dari kehidupan akademis, seperti pengajaran, bimbingan, dan pengembangan karakter. Selain itu, perlu ada peningkatan kemampuan dosen untuk memahami kebutuhan dan perasaan mahasiswa, sehingga mereka dapat memberikan pendidikan yang lebih personal dan efektif.

Dalam jangka panjang, dehumanisasi dalam pendidikan tinggi dapat menyebabkan kemunduran dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari pentingnya pendidikan yang humanis, yaitu pendidikan yang memperhatikan kebutuhan dan perasaan manusia.

Dalam menghadapi dehumanisasi, perlu ada kerja sama antara dosen, institusi pendidikan, mahasiswa, pemerintah (pengambil kebijakan), orangtua mahasiswa dan masyarakat. Lingkungan pendidikan yang menjadikan individu sebagai subyek dan memanusiakan manusia perlu diciptakan dengan sadar. Dengan demikian, kita dapat menciptakan generasi yang lebih baik, yaitu generasi yang lebih sadar, lebih kreatif dan lebih mampu untuk mencapai kebahagiaan.

Christian Siregar