Kilas Balik Sejarah Sumpah Pemuda 1928
Oleh: Tedi Lesmana M.
Meskipun kebangkitan nasional yang menjadi tonggak kesadaran nasional bangsa Indonesia mulai meninggalkan semangat feodalisme yang mencengkeram saat itu; gerakan ini masih terasa elit, kedaerahan, dan priyayi Jawa sentris.
Lepas daripada keterbatasan itu, gerakan ini setidaknya telah membuka wacana baru dalam iklim kolonialisme dan feodalisme yang membelenggu saat itu. Angin segar ini setidaknya membuka gagasan yang lebih inklusif meskipun masih terbatas dengan berdirinya Sarekat Islam (1911), Indische Partij (1912), dan Perhimpunan Indonesia (1919-an) di negeri Belanda.
Organisasi-organisasi ini setidaknya menginspirasi macam-macam pergerakan terorganisasi seperti gerakan para pemuda dengan kelompok-kelompok jong (Belanda: pemuda atau muda), seperti: Jong Java (1918), Jong celebes (1918) , Jong Sumatren Bond (1917), Jong Ambon (1918), Jong Bataks Bond (1925), Jong Minahasa (1919), Islamieten Bond (1925), Sekar Rumpun (1911/1919), dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (1926).
Sejak momen kebangkitan nasional (seperti dikenal kemudian) pada tahun 1908, secara organik muncul kesadaran bersama bahwa kemerdekaan hanya mungkin diperjuanglan dalam gagasan persatuan dan kesatuan. Dari situ gerakan-gerakan tadi meskipun merupakan suatu kemajuan yang amat sangat, tidaklah cukup jika gerakan bersifat kelompok, ekslusif atau kedaerahan. Dari sinilah muncul kemawasan membangun kesadaran bersama yang lebih bersifat kesatuan (nasional). Oleh sebab itu diinisiasilah suatu Kongres Pemuda I (1926) untuk merumuskan kegelisahan-kegelisahan pemikiran tadi.
Terjadilah Kongres Pemuda I, pada 30 April – 2 Mei 1926 yang berlokasi di Gedung Katholieke Jongelingen Bond (KJB), Jakarta (saat itu bernama Batavia) dengan alasan kepraktisan karena lebih mudah diakses oleh para pemuda dan lagi banyak gedung-gedung pertemuan lainnya saat itu dikuasai pemerintah Hindia Belanda.
Sebagai Kongres I pemuda, setidaknya ada manfaat yang berhasil dicapai seperti: langkah awal menuju persatuan nasional, membangun rasa persatuan dan kebangsaan di kalangan pemuda, yang saat itu masih terpecah dalam organisasi kedaerahan, mempererat hubungan antar organisasi pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, meningkatkan kesadaran kebangsaan dan semangat untuk berjuang bersama demi kemerdekaan dan mempersiapkan wadah persatuan pemuda Indonesia. Setidaknya Kongres I pemuda menjadi titik awal kebangkitan semangat persatuan pemuda Indonesia.
Kongres Pemuda I ditindaklanjuti dengan Kongres Pemuda II, 27–28 Oktober 1928, diadakan selama dua hari, di tiga tempat berbeda di Batavia (Jakarta sekarang), yaitu:
- Pada hari sabtu, 27 Oktober 1928 (pagi). Di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB) – Jalan Lapangan Banteng (sekarang Museum Katedral), diisi dengan pembukaan kongres dan pidato tentang pentingnya persatuan bangsa.
- Pada hari sabtu sore – malam, 27 Oktober 1928. Di Gedung Oost-Java Bioscoop – di Koningsplein (sekarang sekitar Lapangan Banteng Selatan), diisi dengan pembahasan tentang pendidikan dan peran pemuda dalam kebangsaan.
- Pada hari minggu, 28 Oktober 1928 (pagi hingga sore). Di Gedung Indonesische Clubhuis Kramat 106 (kini Museum Sumpah Pemuda), diisi dengan sidang terakhir, pembacaan rumusan ‘Sumpah Pemuda’ oleh Soegondo Djojopoespito, dan penutupan dengan lagu “Indonesia Raya” oleh Wage Rudolf Supratman.
Berikut rumusan Sumpah Pemuda 1928.
Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Setidaknya Kongres II pemuda ini dihadiri oleh perwakilan Jong Java, Jong Sumatra Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes (Jong Minahasa), Jong Ambon, Jong Islamieten Bond (JIB), Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Sekar Rukun – pemuda Sunda, dan Pemuda Kaum Betawi. Ada pula pengamat dan undangan dari kalangan Tionghoa dan peranakan yang aktif dan turut mendukung gagasan nasionalisme Indonesia (Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, Tjio Djin Kwie)— meski belum secara formal menjadi peserta organisasi.
Beberapa tokoh kunci lainnya dalam Kongres II pemuda ini di antaranya dapat disebutkan: Soegondo Djojopoespito (ketua Kongres dari PPPI), Muhammad Yamin (sekretaris dari Jong Sumatranen Bond selaku penggagas isi Sumpah Pemuda), W.R. Supratman (memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” untuk pertama kali), Amir Sjarifuddin Harahap (kelak jadi Perdana Menteri), Djoko Marsaid (Jong Java), Suharto (Jong Java), Raden Katjasungkana, Sarmidi Mangoensarkoro (pendidik), dan Poernomowoelan (salah satu peserta perempuan).
Suasana Kongres Pemuda II sangat emosional, hangat, dan idealistis. Para pemuda datang dengan semangat persaudaraan dan keinginan menghapus sekat-sekat daerah, suku, dan agama. Bahasa Melayu mulai digunakan sebagai bahasa pengantar bersama, yang kemudian mereka nobatkan sebagai “bahasa Indonesia.” Di tengah penindasan kolonial, mereka berani berbicara tentang “Tanah Air, Bangsa, dan Bahasa Indonesia” secara terbuka; sebuah tindakan yang radikal dan berani di masa itu. Saat lagu “Indonesia Raya” dimainkan diam-diam dengan biola oleh W.R. Supratman, peserta kongres berdiri hening. suasananya disebut oleh saksi sebagai menggetarkan jiwa dan membuat banyak orang menitikkan air mata.
Bersatulah Indonesiaku selama-lamanya.
Catatan: diolah dari berbagai sumber.