The Odyssey: Pendidikan Karakter dalam Sebuah Perjalanan

Oleh: Agung Setiawan, S.Hum., M.Hum.

Odysseus, seorang pahlawan yang kembali pulang ke rumah sebagai seorang manusia. Pulang ke Ithaca tanpa membawa predikat rajanya namun sebagai seorang suami dan ayah bagi Penelope dan Telemachus. Kesadaran diri dan kesombongan menjadi kunci dari wiracarita epik The Odyssey karangan Homer ini. Bagaimana kesadaran diri telah berkali-kali menyelamatkan nyawa bahkan membawa kemenangan, sedangkan kesombongan membawa perjalanan terasa amat panjang dan membuat terombang-ambing dalam ketidakpastian. Ide kuda Troya tidak akan muncul jika Odysseus tidak sadar diri bahwa dirinya hanyalah seorang suami dan ayah yang ingin cepat pulang merangkul kembali keluarganya secepat mungkin, mungkin juga perang Troya tidak akan pernah selesai. Begitupun ketika menghadapi perangkap Cyclops Polyphemus dan berhasil membutakan mata demigod itu tidak lah akan pernah terjadi jika dia tidak sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan memperkenalkan diri sebagai “Nobody” untuk mengecoh sang Cyclops. Namun dorongan ego dan kesombongan membuat dirinya mengaku bahwa dirinya adalah seorang raja, seorang pahlawan dan dengan mudah membuatnya sebagai target kutukan Poseidon yang menjadikan perjalanan pulang tinggal sejengkal lagi menjadi bertahun-tahun lamanya serta menghadapi banyak rintangan. Mengambil pelajaran dari peristiwa ini dan pengalaman tragedi dari Agamemnon ketika dia pulang sebagai seorang penguasa,  akhirnya menyadarkan kembali Odysseus bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Berbekal kesadaran itu lah dia kembali dengan selamat ke pangkuan keluarganya.

Ada sebuah perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai ketika kita kembali dan membawa pengalaman transformasi sebagai manusia. Bagaimana seseorang dibentuk oleh peristiwa di sepanjang perjalanan. Sebuah perjalanan untuk mengenali asal usul, menghadapi dan menghidupi perbedaan, membangun ikatan dan ingatan, kembali dengan pemahaman baru tentang siapa diri kita sendiri dan siapa yang berjalan bersama kita. Keberagaman merupakan sesuatu yang perlu dihidupi bersama dengan konsekuensi bahwa karakter terbentuk dalam setiap perjalanan yang seakan tidak pernah selesai dan tanggung jawab dari siapa kita ketika kembali. Sebuah tim terbentuk melalui pengalaman bersama berziarah melalui sejarah, budaya dan spiritualitas. Perjalanan seperti ini lah yang yang ada dalam Gathering Dosen CBDC Binus University 14-15 Agustus 2026 Cirebon-Kuningan.

Dalam perjalanan ini tidak ada tumbuhan Lotus, monster Cyclops, raksasa kanibal Laistrigones, penyihir Circe, maupun Siren, Skilla, dan Kharibdis serta nimfa Kalipso. Sebagai gantinya justru perjalanan sebagai sebuah bangsa, perjalanan refleksi historis dan kultural serta spiritual kebangsaan.  Perjalananan ini menjadi laboratorium karakter sekaligus bagaimana pendidikan karakter tumbuh melalui hidup bersama, menghidupi kembali pentingnya dialog dan komunikasi mencapai titik temu melalui refleksi historis di Gedung Perundingan Linggarjati. Selanjutnya menumbuhkan kebersamaan dan solidaritas atas keberagaman keberagama-an pada komunitas lokal Sunda Wiwitan di Cagar Budaya Paseban Tri Panca Tunggal dan ziarah spiritual di Gua Maria Fatima Sawer Rahmat. Dari setiap peristiwa dalam perjalanan ini mengajarkan bahwa pendidikan karakter pertama-tama perlu dihidupi oleh mereka yang mengajarkannya. Selanjutnya melalui kerendahan hati yang tinggi membangkitkan kesadaran “Nobody” bahwa kita semua sama-sama anak bangsa yang sama-sama berbakti dan mengabdi. Sebab karakter bukan hanya sesuatu yang diajarkan namun sesuatu proses yang dibangun bersama melalui perjalanan, perjumpaan dan cara kita memperlakukan sesama.

Agung Setiawan, S.Hum., M.Hum.