Tanda “Jalan Pulang” dari Kuningan
Oleh: Petrus Hepi Witono
Saya sudah lama tidak mampir ke Cisantana, Kuningan untuk “merayakan” Jalan Salib. Kali ini, perjalanan membawa kami bukan sekadar untuk bertamasya, tetapi juga untuk berziarah. Jalan menuju Gua Maria terasa akrab sekaligus berbeda. Yang saya ingat, dulu jalannya lebih banyak bebatuan; kini langkah terasa lebih tertata. Namun, yang tidak berubah adalah suasana hening yang perlahan mengajak kita meninggalkan keramaian dunia.
Pada perhentian pertama, seorang dosen yang ikut berziarah bertanya, “Boleh makan gak pas ziarah Jalan Salib ini?” Saya duga sepertinya dosen ini lapar. Saya menjawab, “Jangan, Pak.” Bukan karena makanan itu sesuatu yang salah, tetapi karena ziarah Jalan Salib ini merupakan latihan kecil untuk sejenak menahan keinginan raga. Ada saatnya tubuh kita perlu belajar diam, supaya batin memiliki ruang untuk berbicara.
Kami kemudian berjalan perlahan, menapaki jalan menuju bukit Golgota, tempat permenungan tentang Yesus yang wafat di salib. Lilin dinyalakan pada setiap perhentian bersama doa-doa pengharapan. Wajah, tangan, dan kaki kami dibasuh dengan mata air, seolah mengingatkan bahwa hidup pun membutuhkan pembaruan. Seakan-akan, kita datang membawa banyak beban, lalu perlahan belajar meletakkannya.
Namun, di tengah perjalanan, mata saya berhenti pada sebuah tulisan: “JALAN PULANG.”
Saya terdiam cukup lama.
Bukankah kita datang dengan menanjak, tetapi akhirnya harus turun? Bukankah setiap ziarah memiliki titik kembali? Jalan pulang ternyata bukan sekadar arah untuk meninggalkan bukit. Kata-kata ini seperti pesan bahwa setelah berdoa, kita harus kembali menjalani hidup.
Kita naik untuk mencari keheningan, tetapi turun untuk membawa keheningan itu ke dalam kehidupan. Kita berdoa agar mampu mengampuni, lalu pulang untuk belajar memaafkan. Kita memohon kekuatan, lalu pulang untuk menghadapi persoalan. Kita meminta rezeki, lalu pulang dengan belajar bersyukur. Kita memohon petunjuk, lalu pulang untuk berani melangkah.
Mungkin itulah makna terdalam “jalan pulang”: kita tidak pulang sebagai orang yang sama.
Ziarah yang baik bukan hanya membawa kita semakin dekat kepada tempat suci, tetapi membuat kehidupan kita setelahnya mengarah pada penjernihan dalam cara kita berpikir, berbicara, bekerja, dan memperlakukan sesama.
Di Kuningan, saya belajar bahwa perjalanan Jalan Salib “naik ke atas” adalah perjalanan menuju Tuhan dalam keheningan. Tetapi perjalanan turun adalah perjalanan menemukan Tuhan di tengah kehidupan.
Sebab pada akhirnya, ziarah tidak selesai ketika kita meninggalkan bukit. Ziarah baru selesai ketika doa yang kita panjatkan menemukan jalannya pulang melalui tindakan kita. Setiap jalan pulang menyimpan pertanyaan: setelah ini, sesungguhnya kita akan menjadi siapa?