Ketika GOAT Memilih Mengoper Bola
Oleh: Cicilia Damayanti
Setiap perhelatan Piala Dunia selalu melahirkan perdebatan yang sama: siapa yang pantas menyandang gelar GOAT (Greatest of All Time)? Biasanya jawabannya dicari melalui statistik—jumlah gol, koleksi trofi, atau deretan rekor yang berhasil dipecahkan. Namun, ada satu kualitas yang justru sering luput dari perhatian, yakni kemampuan membaca permainan dan memastikan seluruh tim tetap melangkah menuju kemenangan.
Semakin hebat seorang pemain, semakin ketat pula penjagaan yang diterimanya. Ruang gerak dipersempit, setiap sentuhan bola diawasi, bahkan strategi lawan kerap dibangun hanya untuk menghentikannya. Dalam situasi seperti itu, pemain yang hanya mengejar kejayaan pribadi cenderung memaksakan diri mencetak gol. Sebaliknya, seorang GOAT memahami bahwa kemenangan tidak selalu lahir dari aksi individual. Ia membaca ruang, mengenali peluang, lalu pada saat yang tepat memilih mengoper bola kepada rekan yang berada pada posisi terbaik.
Operan itu bukan tanda menyerah, apalagi bukti bahwa kualitasnya menurun. Daniel Memmert dalam Teaching Tactical Creativity in Sport (2015) menjelaskan bahwa pemain elite dibedakan bukan semata-mata oleh keterampilan teknis, melainkan oleh kemampuan membaca situasi permainan, mengenali ruang, dan mengambil keputusan paling efektif dalam waktu yang sangat singkat. Kemampuan inilah yang dalam psikologi olahraga dipahami sebagai bentuk tertinggi dari game intelligence. Pemain besar mengetahui bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang mencetak gol, tetapi oleh siapa yang mampu membaca permainan.
Bangsa yang hanya menunggu seorang pahlawan tidak sedang membangun masa depan; bangsa itu sedang menunda kedewasaan.
Metafora sepak bola tersebut terasa relevan ketika Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan perjalanan bangsa terus berlanjut. Persoalannya bukan lagi siapa yang sedang memegang bola kekuasaan, melainkan kepada siapa bola itu akan dioper agar arah pembangunan tetap terjaga.
Dalam praktik politik, gagasan “mengoper bola” sering kali mengalami distorsi. Kekuasaan dipandang sebagai sesuatu yang harus dipertahankan selama mungkin atau diwariskan kepada lingkaran yang paling dekat. Regenerasi akhirnya berubah menjadi sekadar pergantian figur, bukan pergantian kualitas.
Padahal, pemimpin yang besar tidak mengoper bola kepada keluarga, sahabat, atau kelompoknya semata. Ia mengoper kepada mereka yang memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan membawa permainan ke tingkat yang lebih tinggi. Seperti seorang gelandang yang melihat ruang kosong sebelum orang lain menyadarinya, pemimpin dituntut mampu membaca potensi, menyiapkan penerus, dan percaya bahwa masa depan bangsa tidak boleh bergantung pada satu nama.
Prinsip yang sama juga berlaku dalam kehidupan bernegara. Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam The Narrow Corridor (2019) menunjukkan bahwa kebebasan dan kemakmuran tidak dibangun di atas figur yang kuat, melainkan pada institusi yang kuat. Bangsa yang bertahan bukanlah bangsa yang terus mencari penyelamat, melainkan bangsa yang membangun sistem sehingga kepemimpinan dapat terus berlanjut tanpa bergantung pada satu orang.
Gagasan tersebut sejalan dengan konsep Level 5 Leadership yang diperkenalkan Jim Collins dalam Good to Great(2001). Collins menjelaskan bahwa pemimpin terbaik bukanlah mereka yang terus mencari sorotan, melainkan mereka yang memadukan kerendahan hati pribadi dengan tekad profesional untuk membangun organisasi yang tetap unggul setelah mereka tidak lagi memimpin. Pandangan ini diperkuat Robert K. Greenleaf dalam Servant Leadership (1977) yang menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin diukur dari kemampuannya melahirkan pemimpin-pemimpin baru, bukan sekadar mempertahankan kekuasaan. Kepemimpinan sejati bukanlah tentang membuat diri sendiri tidak tergantikan, melainkan memastikan sistem tetap berjalan ketika dirinya telah meninggalkan panggung.
Indonesia sesungguhnya tidak pernah kekurangan talenta. Perguruan tinggi melahirkan ilmuwan, daerah-daerah menghadirkan pemimpin yang inovatif, dunia usaha menghasilkan pembaru, dan bonus demografi menghadirkan generasi muda yang kreatif. Bahkan, Indonesia Economic Prospects yang diterbitkan World Bank (2024) mengingatkan bahwa jalan keluar dari middle-income traps angat bergantung pada kualitas modal manusia (human capital) dan sistem meritokrasi yang sehat. Dengan kata lain, daya saing bangsa tidak terutama ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kemampuan menemukan, memberi ruang, dan mempercayai talenta-talenta terbaiknya. Indonesia tidak kekurangan orang-orang hebat. Yang sering kali kurang adalah keberanian memberi mereka ruang untuk memimpin.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup dihitung dari banyaknya proyek yang diresmikan atau tingginya angka kepuasan publik. Warisan yang paling berharga adalah cetak biru kebijakan yang mampu menjadi kompas pembangunan jangka panjang, melampaui siklus politik lima tahunan, dan tetap memberi arah ketika kepemimpinan berganti. Pemimpin sejati tidak sekadar meninggalkan program, tetapi membangun sistem yang memungkinkan bangsa terus bertumbuh tanpa bergantung pada dirinya.
Namun, bahkan seorang GOAT tidak selalu mengangkat trofi di setiap final. Ada pertandingan yang dimenangkan, ada pula yang harus diterima sebagai kekalahan. Aristoteles dalam Nicomachean Ethicsmengingatkan bahwa keutamaan (virtue) tidak dibentuk oleh kemenangan yang terus-menerus, melainkan oleh kebiasaan mengambil keputusan yang benar. Karena itu, kekalahan tidak selalu menghapus kebesaran seseorang, sebagaimana kemenangan tidak selalu membuktikan kebijaksanaannya.
Ada kebijaksanaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar besar: menerima bahwa tidak semua pertandingan harus dimenangkan sendiri. Ia tidak memandang kekalahan sebagai alasan untuk terus menggenggam bola atau mempertahankan peran utama. Sebaliknya, ia memahami bahwa pertandingan selalu lebih besar daripada dirinya. Dalam kehidupan, seperti juga dalam sepak bola, yang membedakan seorang legenda dari sekadar pemain hebat adalah kesediaannya menjadi bagian dari proses yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Di situlah ego berhenti, dan kepemimpinan dimulai.
Indonesia Emas 2045 membutuhkan pemimpin dengan cara pandang seperti itu. Bukan pemimpin yang sibuk memastikan dirinya selalu menjadi pusat perhatian, melainkan pemimpin yang berani membangun sistem, menegakkan meritokrasi, menyusun cetak biru kebijakanyang melampaui masa jabatannya, serta dengan bijaksana mengoper bola kepada mereka yang paling layak melanjutkan permainan. Mengoper bola bukan berarti menyerahkan masa depan kepada orang-orang terdekat atau mereka yang berasal dari lingkaran yang sama. Mengoper bola berarti mempercayakan estafet kepemimpinan kepada mereka yang memiliki kapasitas, integritas, visi, dan kemampuan membawa bangsa melangkah lebih jauh.
Barangkali, sudah saatnya Indonesia memiliki definisi GOAT yang baru. Bukan Greatest of All Time karena paling dominan, melainkan pemimpin yang membuat orang lain ikut menjadi hebat. Pemimpin yang meninggalkan cetak biru kebijakan, bukan sekadar popularitas; yang menguatkan institusi, bukan kultus individu; yang membangun keberlanjutan, bukan ketergantungan.
Pada akhirnya, ukuran terbesar seorang pemimpin bukanlah berapa lama ia mampu memegang bola kekuasaan, melainkan kepada siapa ia berani mengopernya. Sebab masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh siapa yang paling lama bermain, tetapi oleh siapa yang dipersiapkan untuk melanjutkan permainan. Seorang GOAT mungkin tidak memenangkan setiap final, tetapi ia selalu meninggalkan tim yang lebih siap memenangkan pertandingan berikutnya. Bukankah itulah makna terdalam kepemimpinan—dan sekaligus makna kemerdekaan yang sesungguhnya?