Gen AI: AI Leaders Vs AI Laggards

Oleh: Petrus Hepi Witono

Mengapa Generative AI (Gen AI) masih sering diremehkan, padahal peluangnya begitu besar? Mungkin karena manusia cenderung takut pada sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Setiap revolusi teknologi selalu menghadirkan dua kelompok: mereka yang melihat teknologi sebagai ancaman, dan mereka yang melihatnya sebagai peluang.

Gen AI adalah teknologi kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten baru—teks, gambar, audio, video, kode, hingga ide—berdasarkan pola yang dipelajarinya dari data. Tetapi nilai terbesar Gen AI bukan sekadar kemampuannya “membuat sesuatu”. Nilainya terletak pada kemampuannya memperbesar kapasitas manusia untuk berpikir, bekerja, belajar, mencipta, dan mengambil keputusan.

Fola Yahaya, dalam Quite Possibly the Best Introduction to AI, mengajukan pertanyaan menarik: “Is AI your greatest opportunity or your biggest blind spot?” Filosofinya sederhana: teknologi yang sama dapat menjadi peluang bagi seseorang, tetapi menjadi titik buta bagi orang lain.

Di sinilah muncul istilah AI Leaders dan AI Laggards. AI Leaders bukan sekadar orang atau perusahaan yang paling banyak menggunakan AI. Mereka memiliki strategi AI yang jelas, tingkat kematangan AI yang tinggi, serta berhasil menghasilkan nilai bisnis dari AI. Sebaliknya, AI Laggards adalah mereka yang belum memiliki strategi yang jelas, masih berada pada tahap eksplorasi, atau belum mampu menghasilkan manfaat nyata dari AI.

Menariknya, penelitian Boston Consulting Group (BCG) dengan judul The Widening AI Value Gap: Build for the Future 2025 menunjukkan kesenjangan tersebut semakin besar. Sekitar 60% organisasi dalam studi mereka masih tergolong laggards, sementara perusahaan yang berada di depan AI mampu memperoleh pertumbuhan pendapatan dan penghematan biaya yang lebih tinggi.

Ada filosofi sederhana yang relevan: “The future belongs to those who prepare for it today.” Dalam era Gen AI, persiapan bukan berarti harus menjadi programmer. Kita hanya perlu menjadi pembelajar.

Jangan bertanya, “Apakah AI akan menggantikan saya?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah orang yang menggunakan AI akan menggantikan orang yang tidak mau belajar menggunakannya?”

Karena dalam setiap perubahan besar, teknologi tidak selalu mengalahkan manusia. Yang sering kalah adalah manusia yang menolak berubah.

Petrus Hepi Witono