From Stage to Nation: Membangun Nasionalisme Generasi Z Melalui Industri Kreatif
Oleh: Philips Apriadi Wijaya
Philips.wijaya@binus.ac.id
Di era globalisasi, konsep nasionalisme mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika pada masa lalu nasionalisme identik dengan simbol-simbol negara, upacara kenegaraan, maupun hafalan nilai-nilai kebangsaan, maka bagi Generasi Z nasionalisme lebih banyak diwujudkan melalui karya, kreativitas, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Pergeseran ini menunjukkan bahwa nasionalisme tidak kehilangan relevansinya, melainkan bertransformasi mengikuti karakteristik generasi digital yang lebih ekspresif, kolaboratif, dan dekat dengan budaya populer. Temuan tersebut sejalan dengan artikel From Stage to Sentiment, yang menyatakan bahwa nasionalisme Generasi Z lebih tepat dipahami sebagai proses yang diaktifkan (activated) melalui pengalaman budaya dibandingkan sebagai identitas yang bersifat statis.
Salah satu contoh nyata implementasi pendekatan tersebut adalah Nescafé Ideas on The Go, sebuah kolaborasi antara BINUS University dan Nescafé yang diselenggarakan pada 30 April 2026. Berbeda dengan kegiatan pendidikan kewarganegaraan konvensional, acara ini mengintegrasikan talkshow inspiratif bersama Marissa Anita dan Raisa dengan pertunjukan musik oleh Sal Priadi dalam satu pengalaman pembelajaran yang utuh. Mengangkat tema: “Nation Character Building Untuk Generasi Muda Melalui Industri Creative”
Tema tersebut merepresentasikan paradigma baru bahwa industri kreatif bukan hanya menghasilkan produk ekonomi, tetapi juga membentuk cara suatu bangsa dipahami, dipersepsikan, dan direpresentasikan di tingkat global. Bagi Generasi Z, nasionalisme tidak lagi hanya diwujudkan melalui penghormatan terhadap simbol negara, tetapi melalui kemampuan menciptakan karya yang membawa identitas Indonesia ke panggung dunia.
Dalam perspektif akademik, format acara tersebut sangat relevan dengan model konseptual yang dikembangkan dalam penelitian From Stage to Sentiment. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa nasionalisme kontemporer berkembang melalui dua jalur utama (dual-pathway mechanism), yaitu cognitive engagement dan affective engagement.
Jalur kognitif dibangun melalui dialog, refleksi, dan pertukaran gagasan mengenai identitas kebangsaan, sedangkan jalur afektif terbentuk melalui pengalaman emosional bersama seperti konser musik nasional. Integrasi kedua jalur tersebut terbukti lebih efektif dalam mendorong peningkatan dimensi Participation and Contribution, dibandingkan sekadar memperkuat identitas nasional yang memang sudah relatif tinggi sejak awal.
Apabila dikaitkan dengan Nescafé Ideas on The Go, talkshow bersama Raisa dan Marissa Anita berfungsi sebagai ruang cognitive engagement. Diskusi mengenai bagaimana film, musik, dan konten digital membangun citra Indonesia mendorong mahasiswa untuk merefleksikan kembali makna nasionalisme dalam konteks industri kreatif. Nasionalisme tidak lagi dipahami sebagai kewajiban normatif, melainkan sebagai tanggung jawab profesional dalam menghasilkan karya yang merepresentasikan nilai-nilai Indonesia secara positif di tingkat internasional.
Sementara itu, penampilan musik dari Sal Priadi menghadirkan dimensi affective engagement. Musik memiliki kemampuan membangun ikatan emosional yang sulit dicapai melalui penyampaian materi secara formal. Ketika ribuan mahasiswa menikmati pertunjukan dalam ruang yang sama, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi mengalami pengalaman kolektif yang membangun rasa kebersamaan, kebanggaan terhadap karya anak bangsa, dan identitas sebagai bagian dari komunitas nasional. Pengalaman emosional semacam ini merupakan bentuk collective effervescence, yaitu kondisi ketika interaksi sosial dan simbol budaya memperkuat solidaritas serta rasa memiliki terhadap kelompok yang lebih besar. Mekanisme tersebut menjadi salah satu penjelasan mengapa konser musik mampu mengubah nasionalisme dari sekadar gagasan menjadi motivasi untuk berkontribusi.
Lebih jauh, tema “From Film to Music to Digital Content” menunjukkan bahwa industri kreatif saat ini merupakan salah satu instrumen utama dalam membangun nation branding. Film Indonesia, karya musik lokal, animasi, permainan digital, maupun konten media sosial telah menjadi medium diplomasi budaya yang membentuk persepsi dunia terhadap Indonesia. Dalam konteks ini, nasionalisme Generasi Z tidak lagi hanya tercermin melalui rasa bangga terhadap produk nasional, tetapi juga melalui kemampuan menghasilkan inovasi kreatif yang memperkenalkan identitas Indonesia kepada masyarakat global.
Hal ini memperluas makna nasionalisme dari symbolic nationalism menuju productive nationalism. Nasionalisme tidak berhenti pada penghormatan terhadap simbol negara, tetapi diwujudkan melalui penciptaan karya yang memperkuat daya saing bangsa. Mahasiswa sebagai bagian dari Generasi Z tidak hanya diposisikan sebagai konsumen budaya populer, tetapi sebagai creative citizen, yaitu warga negara yang berkontribusi membangun identitas nasional melalui inovasi, kreativitas, dan kolaborasi lintas sektor.
Dalam konteks perguruan tinggi, kolaborasi BINUS University dengan Nescafé menunjukkan model pembelajaran karakter yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Pendidikan karakter tidak lagi berlangsung secara eksklusif di ruang kelas, melainkan melalui pengalaman budaya yang menghubungkan dunia akademik dengan industri kreatif. Kehadiran figur publik seperti Raisa, Marissa Anita, dan Sal Priadi memberikan role model yang menunjukkan bahwa keberhasilan dalam industri kreatif dapat berjalan seiring dengan kontribusi terhadap pembangunan karakter bangsa. Pendekatan seperti ini sejalan dengan rekomendasi penelitian bahwa pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi perlu bergeser dari knowledge-centered civic education menuju experience-centered civic formation, di mana dialog, seni, musik, dan partisipasi budaya menjadi bagian integral dari proses pembentukan karakter mahasiswa.
Dengan demikian, Nescafé Ideas on The Go dapat dipandang sebagai contoh konkret bagaimana kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri kreatif mampu mengimplementasikan konsep nasionalisme kontemporer. Acara tersebut tidak sekadar menghadirkan hiburan atau seminar motivasi, tetapi membangun ruang belajar yang menggabungkan refleksi intelektual dan pengalaman emosional dalam satu kesatuan. Model seperti ini mendukung temuan penelitian From Stage to Sentiment bahwa pengalaman budaya populer paling efektif ketika mampu mengubah symbolic attachment menjadi civic participation, yaitu mendorong generasi muda untuk mengaktualisasikan rasa cinta tanah air melalui karya, inovasi, dan kontribusi nyata bagi Indonesia
Berdasarkan temuan penelitian dan refleksi terhadap Nescafé Ideas on The Go, dapat disimpulkan bahwa industri kreatif merupakan medium strategis dalam penguatan nasionalisme Generasi Z. Kolaborasi antara talkshow yang membangun kesadaran intelektual dan pertunjukan musik yang membangkitkan keterikatan emosional menciptakan pengalaman pembelajaran yang mampu mengubah nasionalisme dari sekadar identitas menjadi tindakan nyata. Oleh karena itu, sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku industri kreatif tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi investasi sosial dalam membentuk generasi muda yang kreatif, kompetitif, dan tetap berakar pada identitas kebangsaan Indonesia.