Dinamika Kelenturan dan Kekakuan Lecturer Gathering CBDC

Oleh: Arcadius Benawa

Dalam bahasa Latin ada pepatah yang berbunyi “Fortiter in re, suaviter in modo”. Arti ungkapan itu adalah teguh di dalam prinsip, luwes atau fleksibel di dalam cara. Tampaknya mudah diamini ungkapan itu dalam dalam banyak hal tidak sedikit orang yang salah tafsir karena tidak bisa menegaskan mana yang prinsip dan mana yang cara. Contoh yang paling sederhana adalah saat sekelompok orang mau piknik. Prinsip orang piknik itu apa? Bahagia, sukacita, gembira, dan sebagainya. Namun ketika prinsip itu tidak dipahami orang bisa berantem gegara cara bahagianya. Misalnya antara piknik ke gunung atau ke pantai, naik bus atau kereta, sehari atau dua hari?

Dalam Lecturer Gathering Dosen Binus yang tergabung dalam CBDC beberapa hari lalu, persisnya pada tanggal 14-15 Agustus 2026 sangat terasa dinamika antara kelenturan dan kekakuan itu. Saya mulai dari keberangkatannya. Disepakati berangkat dari Kampus Anggrek pukul 06 pagi namun karena satu dan lain hal harus molor, sudah begitu kena macet di Pasar Palmerah. Akibatnya tentu saja teman-teman Bekasi yang setia jadwal jadi lama menanti. Namun semua jadi cair karena saling memahami akan adanya jarak antara yang tertulis di jadwal dengan realitas lapangan yang banyak dipengaruhi oleh aneka faktor yang kadang di luar prediksi. Akan tetapi kembali pada prinsip piknik itu untuk gembira tidak ada tampak wajah manyun atau kesal.

Demikianpun di perjalanan yang ditaksir hanya memerlukan 3-4 jam ternyata harus molor karena di tol Cipali banyak perbaikan sehingga kendaraan harus berjalan merayap. Akibatnya acara hari pertama harus ada yang dibatalkan karena keterbatasan waktu. Namun kembali pada prinsip piknik itu untuk bahagia maka semua itu tidak menjadi beban. Senda gurau di dalam bus menjadi obat penawar jenuh di dalam bus yang tidak bersound system hingga kecapaian dan tertidur di dalam bus.

Di Cibulan sukacita itu diluapkan dengan foto bersama, bermain dengan ikan, maupun dengan terapi ikan. Semua dinikmati namun tanpa harus menjalani. Ada yang nikmat dengan menyaksikan teman yang menikmati bermain dengan ikan, ada yang nikmat dengan melihat teman yang geli-geli nikmat digigiti ikan-ikan kecil kaki-kakinya.

Di Museum Linggarjati sukacita itu terwujud dengan pemaparan panjang lebar dari pemandu situs Museum Linggarjati tersebut dan pastinya juga saat bisa berpose mandiri atau kelompok baik di dalam gedung maupun di kompleks Museum Linggarjati yang sudah dipenuhi dengan bendera merah putih. Dan karena sesaat lagi akan merayakan HUT RI yang ke-81 kami pun bikin yel-yel kebersamaan untuk sambut Kemerdekaan tersebut dalam pimpinan Bapak Manager CBDC, Bapak Frederikus Fios.

Puncak kecairan dan keluwesan di antara kami itu tentu terjadi saat Malam Gembira yang sungguh menggembirakan. Tidak ada lagi sekat di antara kami. Semua jadi cair. Semua jadi gokil dalam nyanyian, gerakan tarian gokil. Meski dilombakan, juara bukan yang utama tetapi bahagia bisa berekspresi bebas merdeka. Tentu semua itu tak luput dari peran pembawa acara Bu Rahmi dan Bu Rina yang kreatif dan aktif, sehingga bisa bikin semua mencair.

Hari kedua acara diisi dengan wisata budaya ke Griya Paseban di Cigugur, Kuningan. Kami diterima Ibu Dewi Kanti. Beliau memaparkan hal ihwal Sunda Wiwitan dengan segala dinamikanya. Kami pun diajak untuk melihat dan menyimak tempat-tempat khusus seperti tempat pembabaran ajaran, tempat karya seni berupa batik tulis Paseban, maupun tempat ibadah para pengikut Sunda Wiwitan.

Usai wisata budaya kami melanjutkan dengan acara wisata religi dengan ziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat, Cisantana, Kuningan. Yang luar biasa adalah bahwa para dosen senior seperti Bu Yulie Tan tidak ada keluhan sedikit pun padahal beliau ada masalah dengan punggungnya dan pendakian ke GM Sawer Rahmat itu cukup bikin nafas ngos-ngos-an karena memang sangat menanjak. Namun demikian semua happy dengan menempuhnya dengan ibadah jalan salib yang telah disiapkan oleh Ketua Panitia, Bapak Petrus Lakonawa. Sementara yang tidak mengikuti wisata religi bisa berwisata kuliner.

Akhirnya kami pun pulang. Namun karena ada 2 kelompok sehingga kepulangan tidak dapat bersamaan. Kelompok bus mendahului pulang. Dan kelompok yang berkendaraan pribadi menyusul. Ini juga bukti kelenturan dalam cara, karena yang mendahului menunggu di titik kumpul yang telah disepakati yakni di rest area Km 164. Adanya pemahaman bahwa Lecturer Gathering itu adalah piknik kebersamaan untuk bahagia semua bisa dimuarakan di situ sehingga saat di rest area kita pun tetap gokil dalam canda tawa dan foto bersama pastinya.

Proficiat dan terima kasih untuk teman-teman Panitia yang telah memfasilitasi sehingga pelajaran hidup yang lentur dalam penghayatan prinsip kebersamaan itu bahagia dapat berjalan sukses, semarak, tidak ada luka batin, semua cair dan bahkan makin kenal mendalam lewat obrolan, sharing, dan berbagai candaan. Terima kasih Pak Fios, Sang Manager CBDC, terima kasih Pak Petrus Lakonawa dan Bu Murty sang Dwi tunggal yang menggembalakan kegembiraan kami semua, terima kasih Bu Rina dan Bu Rahmi sang dwi tunggal MC yang gokil habis, dan Pak Yustinus sang Korlap yang sanggup cairkan suasana di dalam bus terutama, dan semua teman yang semuanya mendukung acara yang luwes ini. Semoga kita bisa berlecturer gathering lagi tahun depan saat rayakan 25 tahun Character Building Development Center.

Arcadius Benawa