Antara Kínēsis dan Hēsychía: Refleksi Rapat Kerja dan Rekreasi Dosen Binus, 2026

Ditulis oleh: Melny Nova Katuuk

Universitas Bina Nusantara (Binus) adalah rumah (oikos) yang menyajikan berbagai pengalaman. Binus bukan hanya menyediakan kesempatan bagi para dosen untuk terus mengasah bidang keilmuannya dalam menjalankan catur dharma perguruan tinggi, tetapi juga kesempatan untuk menangkap momen lain, yakni momen kekeluargaan dengan para kolega dosen.

Tanggal 14-15 Agustus lalu, dosen CBDC (Character Building Development Center) Binus mengadakan rapat kerja dan rekreasi di Cirebon. Kegiatan ini adalah ritus tahunan yang bertujuan untuk mengajak para dosen ‘rehat sejenak’ dari berbagai aktivitas akademik. Acara ini dimeriahkan dengan berbagai aktivitas yang sangat menyenangkan: dari mengunjungi situs sejarah, budaya, sampai tempat wisata religi (Gua Maria). Selain itu, panitia juga mengadakan malam kebersamaan: barbecue dan lomba dance antarkelompok. Semua dosen menikmati dan merasakan manfaat dari kebersamaan yang tercipta dalam kegiatan ini.

Sukacita yang dialami oleh semua dosen dalam kegiatan ini menunjukkan pentingnya sebuah tradisi rekreasi bagi sivitas akademika. Menjadi seorang dosen yang berkarakter bukan hanya diukur dari banyaknya pekerjaan yang diselesaikan,  tetapi juga dari kemampuan memberi makna pada setiap pekerjaan yang dilakukan. Oleh karena itu, keseimbangan antara kerja dan rekreasi menjadi penting, karena kerja menghasilkan karya, sedangkan rekreasi memberi kompas untuk merefleksikan arah dan tujuan kerja.

Refleksi ini mengingatkan saya pada dua konsep yang sangat kaya makna dalam tradisi Yunani, yaitu Kínēsis dan Hēsychía. Kínēsis dimaknai sebagai gerak, perubahan, dan perjalanan; sedangkan Hēsychía berarti diam sejenak, keheningan, dan ketenangan. Kínēsis dalam dunia dosen dapat diartikan sebagai rutinitas sehari-hari: mengajar, meneliti, PKM,menyusun laporan BKD, memenuhi target publikasi, dan lain sebagainya. Semua aktivitas ini merupakan tanggung jawab penting seorang dosen, karena tanpa gerak (Kínēsis), ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang.

 Namun, kehidupan akademisi tidak hanya membutuhkan ‘gerak’ atau produktivitas, tetapi juga Hēsychía (diam). Diam atau rehat sejenak dari aktivitas dan rutinitas untuk merefleksikan eksistensi kita sebagai Homo faber (manusia pekerja) secara bening. Karena produktivitas tanpa keheningan akan melahirkan kelelahan yang brutal, dan  prestasi tanpa refleksi hanya akan melahirkan kehampaan. Albert Camus menyebut hal ini sebagai l’heure de conscience (jam kesadaran). Dengan melakukan rekreasi di Cirebon bersama dosen CB, kita berhenti sejenak dari rutinitas gerak. Dengan kata lain, rehat sejenak dari rutinitas kerja bukan lawan dari produktivitas, rehat atau rekreasi adalah syarat agar karya setiap dosen dalam dunia akademisi tetap memiliki jiwa dan makna.

Melny Nova Katuuk