Makna Compassion
Oleh: Arcadius Benawa
Kata “compassion” berasal dari bahasa Latin “cum” yang berarti “bersama-sama”, dan “pati” atau “passio” yang berarti “menderita”. Dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai “belas kasih” atau “welas asih” dalam bahasa Jawa.
Secara harfiah, kata “compassion” membentuk istilah “compati” yang berarti “menderita bersama”. Namun “compassion” sebenarnya memiliki arti yang jauh lebih dalam dari sekadar perasaan simpati atau empati. Kesadaran mendalam atas kesulitan atau penderitaan orang lain itu ditempatkan ke dalam diri kita. Maka bisa dikatakan bahwa ikut merasakan bersama, ikut hadir secara emosional tanpa menghakimi saat melihat orang lain menderita. Perasaan yang memberi dorongan bagi kita untuk bertindak itulah yang merupakan kunci dari “compassion”, sehingga tidak hanya berhenti pada rasa kasihan, tetapi sampai pada keinginan dan bahkan keberanian untuk meringankan penderitaan orang yang menderita itu.
Dalam perspektif Kristiani, “compassion” (belas kasih, belarasa) itu dihayati sebagai partisipasi kita dalam penderitaan dan kasih Allah yang menuntut peleburan ego kita untuk menyatu dengan Tuhan yang maha berbelas kasih, dan sebagai panggilan untuk melayani sesama. Jadi, bukan sekadar emosi, tetapi menjadi wujud nyata dari pengosongan diri (“kenosis”) dan demi mewujudkan persaudaraan universal dan penyerahan diri secara total kepada Allah yang Maha Belas Kasih. Dengan demikian memandang sesama tidak lagi sebagai orang lain, melainkan sebagai bagian dari diri kita di dalam Tuhan.
Menurut Meister Eckhart, “compassion” itu menuntut pelepasan total ego (pengosongan diri atau “kenosis”). Artinya, saat kita melihat penderitaan orang lain kita meresponnya dengan belas kasih murni, kita mematikan keakuan kita untuk membiarkan belas kasih Allah mengalir sepenuh dalam hidup kita. Dengan demikian, belas kasih adalah bukti tertinggi dari relasi erat kita dengan Tuhan. Pasalnya, Allah itu maha berbelas kasih, maka mengalami Allah yang demikian itu akan membuahkan tindakan welas asih. Mengasihi sesama adalah bentuk nyata dari mencintai Tuhan yang maha berbelas kasih.
Santo Fransiskus dari Assisi memandang belas kasih itu melampaui batas agama atau spesies. Ia menganggap semua ciptaan (manusia, hewan, alam semesta) sebagai saudara dan saudari. “Compassion” baginya adalah respons kita terhadap kebaikan Sang Pencipta yang harus dibagikan kepada seluruh alam semesta.Sementara itu menurut Ignasius de Loyola, “compassion”/belas kasih adalah sebuah panggilan untuk bertindak. Compassion bukanlah sekadar teori, melainkan komitmen konkret di mana doa mendalam (“contemplatio”) menyatu dengan karya pelayanan di dunia (“actio”), yang berpuncak pada penyerahan diri total kepada Allah.
Dalam tradisi Ignasian, kontemplasi dan aksi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Artinya, bahwa kita ini dipanggil untuk menjadi “kontemplatif dalam tindakan”, yakni mencari dan menemukan kehadiran Allah di dalam semua hal, baik saat berdoa maupun saat melayani di tengah kesibukan dunia. Pelayanan dan tindakan kasih yang dilakukan seseorang merupakan wujud nyata dari doanya. Dalam Spiritualitas Ignasian, “compassion” (belas kasih) adalah dorongan spiritual yang memurnikan ego dan berakar pada belas kasih Allah. Lebih dari sekadar perasaan, belas kasih adalah gerakan batin yang menuntun seseorang untuk bergerak keluar dari dirinya dan melibatkan diri dalam penderitaan sesama manusia.
Doa “Ambillah ya Tuhan, dan Terimalah persembahanku ” adalah puncak dari “compassion”, karena menuntut kita untuk melepaskan segala kemelekatan egois dan menyerahkan seluruh kehendak, memori, pemahaman, dan kebebasan kita kepada Allah. Permohonan utama dalam doa ini adalah rahmat dan cinta Tuhan, karena hal tersebut dianggap sudah cukup sebagai bekal untuk melayani tanpa pamrih.
Selamat membangun Compassion.
Sumber: Tulisan Sandyawan Sumardi