Don Quixote Versi Indonesia
Oleh: Sitti Aaisyah
Ada satu adegan yang paling sering dikutip dari novel Don Quixote karya Miguel de Cervantes: seorang lelaki tua yang mengenakan zirah usang, menjalani petualangan kesatria demi menarik simpatik wanita yang diimpikannya, Dulcinea, menunggangi kuda kurus kering bernama Rocinante, mengacungkan tombak ke arah kincir angin sambil sepenuh hati percaya bahwa ia sedang menghadapi raksasa jahat. Bagi Sancho Panza, pengikutnya, itu jelas cuma kincir angin. Tapi bagi Quixote, itu adalah raksasa yang musti ditaklukkan. Empat abad setelah novel ini ditulis, adegan itu masih terasa relevan, bukan karena kita masih percaya pada raksasa dan kincir angin, tapi karena pola pikirnya masih hidup: keyakinan yang membentuk ulang realitas, sampai realitas itu sendiri tunduk pada cara pandang, bukan sebaliknya
Sepanjang novel, Cervantes membangun dunia yang dibalik sepenuhnya lewat mata Quixote: penginapan ia lihat sebagai kastil megah, para pedagang ia curigai sebagai penjahat yang harus dihakimi, gembala domba ia anggap prajurit musuh yang harus ditumpas. Bahkan Aldonza, seorang perempuan petani biasa, dalam benaknya berubah menjadi Dulcinea, kekasih ksatria yang mulia dan sempurna. Semua inversi ini dilakukan dengan penuh kehormatan diri, tanpa kesadaran bahwa ia sedang keliru. Filsuf Michel Foucault, dalam dua karyanya Madness and Civilization membaca kegilaan Quixote bukan sebagai gangguan psikologis semata, melainkan sebagai gejala dari pergeseran zaman. Bagi Foucault, Quixote lahir tepat di ambang sejarah: saat dunia masih membaca realitas lewat logika kemiripan dimana kincir angin bisa “menyerupai” raksasa dalam bahasa roman ksatria, sebelum episteme modern memisahkan tanda dari makna secara lebih tegas dan rasional. Kegilaan Quixote, dengan kata lain, bukan cacat individual melainkan ia sebagai representasi dari cara membaca dunia yang sedang runtuh dan lalu terjebak di reruntuhannya sendiri.
Yang membuat pembacaan ini penting hari ini: ada dua jenis “Quixote” yang perlu dibedakan. Yang pertama tulus, ia benar-benar meyakini visinya, sekalipun keliru, dan karena itu tidak bisa disadarkan lewat argumen rasional biasa. Dalam kondisi ini, bukti kontradiktif justru diserap jadi bagian dari narasinya sendiri, seperti ungkapan Quixote: “penyihir jahat mengubah raksasa jadi kincir angin untuk mengelabuiku”. Versi yang kedua lebih berbahaya: mereka yang sepenuhnya sadar kincir angin itu cuma kincir angin, tapi tetap menyebutnya raksasa karena ada kepentingan yang terjaga di balik narasi itu. Ia ingin melanggengkan niatnya, mengabaikan seluruh fakta yang hadir dan mengejeknya sebagai penghambat untuk sampai ke tujuan.
Ada seorang tokoh yang juga penting dalam kisah Quixote, Sancho Panza. Ia sering dibaca sebagai sidekick yang naif dan lemah pikir. Tapi pembacaan itu terlalu sederhana. Sancho bukanlah senaif itu. Ia tahu kincir angin adalah kincir angin dan berusaha berulang kali mencoba menyadarkan tuannya. Sancho bukan bodoh. Ia seorang yang karakternya kompromis. Ia tahu tuannya keliru, tapi tetap mengikutinya karena ada ia berhitung bahwa ada upah yang dijanjikan. Jika ia berhenti di tengah jalan, maka jika Quixote bisa benar-benar memberinya kekuasaan maka sebagian harapan hidupnya menguap hilang. Keputusannya mengabdi bukanlah suatu kesetiaan buta. Ini kalkulasi rasional seorang individu di dalam sistem yang, secara kolektif, tidak rasional. Di titik inilah novel Cervantes berhenti menjadi sekadar komedi ksatria, dan mulai berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih universal: bagaimana orang-orang cerdas dan sadar sekalipun bisa memilih bertahan mendukung sesuatu yang mereka tahu keliru, bukan karena mereka ikut gila, tapi karena rasionalitas personal (karier, keamanan, akses) bisa sepenuhnya konsisten dengan mendukung sistem yang secara agregat merugikan banyak orang.
Kita hidup di masa ketika angka pertumbuhan ekonomi sering dijadikan bukti bahwa “mesin sedang bekerja baik”, tanpa mempertanyakan mesin yang bekerja baik ini sebenarnya bekerja untuk siapa. Data resmi Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 sebesar 5,61 persen, angka tertinggi sejak 2012. Tapi di saat yang sama, mayoritas angkatan kerja negeri ini, hampir 60 persen masih berada di sektor informal, tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian pendapatan. Lembaga riset independen bahkan mencatat anomali: pertumbuhan yang tinggi itu berjalan beriringan dengan pelemahan nilai tukar dan turunnya kepercayaan konsumen, dua indikator yang seharusnya bergerak searah dengan pertumbuhan yang sehat, bukan berlawanan arah. Ketimpangan pun semakin menganga lebar. Kekayaan segelintir orang terkaya negeri ini, yang persentasenya mungkin mewakili kelas 0,0000185% dari sekitar270 juta penduduk, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, dari kelas ekonomi yang tak terjangkau itu, jumlah kelas menengah sebagai penyangga sedang menurun, kelas miskin meningkat, dan kelas miskin ekstrim tak menunjukkan perubahan. Ini menunjukkan Pancasila menjadi mitos kosong tak bertuah.
Don Quixote bukan sekadar novel tentang seorang tua yang delusional. Ia novel tentang bagaimana keyakinan bisa membentuk ulang realitas, tentang kompromi yang dibungkus loyalitas, dan tentang betapa mudahnya kegilaan personal menjelma jadi kegilaan kolektif, ketika cukup banyak orang di sekitarnya memilih bertepuk tangan alih-alih bertanya dan atau mengingatkan untuk kembali kepada jalan yang benar. Empat abad setelah Cervantes menuliskannya, pertanyaan itu masih relevan diajukan, bukan hanya kepada mereka yang berkuasa, tapi kepada kita semua yang memilih diam ketika tahu kincir angin itu cuma kincir angin.