Belajar dari Pohon Hollow

Oleh: Arcadius Benawa

Teman saya, Th. Wiryawan belum lama ini pergi ke Vancouver untuk menghadiri upacara pernikahan keponakannya. Di tengah lawatannya itu ia menyempatkan diri mengunjungi Stanley Park di Vancouver Canada. Di situ ia jumpai sebuah pohon yang sudah tidak berdaun. Nama pohon itu adalah Hollow Tree atau pohon Cedar, seperti tampak dalam foto di bawah ini.

Yang menarik bagi Wiryawan adalah bahwa pohon tua yang tak lagi berdaun itu justru menjadi salah satu spot paling ramai. Banyak orang tertarik untuk masuk ke dalam pohon itu, atau sekadar melihatnya, bahkan ada juga yang mencoba memeluknya.

Melalui fenomena Hollow Tree atau pohon Cedar itu rupanya ada yang menarik untuk kita refleksikan. Kalau pohon Cedar yang sudah tua bahkan tak lagi berdaun itu saja masih bisa memberi manfaat bagi orang walau sekadar untuk berteduh, berpose dan orang senang karenanya, tidakkah kita pun menimba pesan itu? Artinya, semoga kita juga bisa seperti pohon Cedar itu. Yang walaupun ia telah lelah, walau tidak sempurna tampilannya karena sudah tua, kering dan tak berdaun, akan tetapi tetap bisa memberi manfaat dengan menjadi tempat yang menguatkan.

Dengan demikian boleh dibilang bahwa Hollow Tree itu telah mengajarkan kepada kita bahwa keramahan bukan soal seberapa utuh diri kita, tetapi seberapa banyak kita mau menjadi rumah bagi orang lain, yang sekadar mau berteduh di dalamnya. Bagi saya pribadi sekurang-kurangnya yang akan memasuki masa pensiun juga sebuah inspirasi untuk bagaimana saya masih membiarkan diri untuk tetap memberi manfaat walau mungkin tidak lagi sebesar ketika masih aktif mengajar, meneliti, mengabdi dan mengembangkan diri secara formal. Mengajar mesti harus tetap dijalani melalui teladan hidup dalam tutur kata, sikap, dan perbuatan yang menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk terus memberi manfaat dalm kehidupan. Seperti terungkap dalam lagu “Hidup ini adalah Kesempatan”. Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri. Hidup ini harus jadi berkah. Meneliti tentu yang lebih urgen dan relevan adalah meneliti batin. Artinya semakin memberi waktu untuk discernment, lebih subtil dalam memilah dan memilih mana yang lebih merupakan kehendak roh daripada kehendak daging. Mengabdi tentu harus terus dilakukan dengan sekurang-kurangnya dengan pemberian diri dalam karya pelayanan di gereja maupun di lingkungan masyarakat. Pengembangan diri dihayati dengan selalu rendah hati mau belajar dari kesalahan dan dosa sehingga hidup ini sungguh makin jadi berkah sebagaimana pohon Cedar yang tetap memberi keberkahan meski tampak tua dan tak berdaun. Semoga.

Keterangan foto:  Th. Wiryawan berpose di pohon Cedar

Arcadius Benawa