Arti Sebuah Tangisan

Oleh: Arcadius Benawa

Demam Piala Dunia belum lama berakhir. Kita semua telah menyaksikan bagaimana Spanyol berhasil memenangkan pertandingan final dengan gempurannya yang perkasa pada Argentina sehingga berhasil untuk membawa pulang piala dunia. Di tengah gegap gempita sukacita Spanyol dan pendukungnya atas kemenangan itu, tampak di tengah lapangan Messi dan tim Argentina tertunduk lesu.

Ketika kapten Argentina ini menuju ke tribun penonton, namanya diserukan oleh seluruh suporter: “Messi! Messi! Messi!” Dan, pecahlah tangis Messi dan tetes air mata membasahi wajahnya. Tentu Messi tidak menangis karena kekalahannya bersama Tim Argentina. Menang dan kalah sudah biasa bagi Messi.

Tangisnya adalah lebih karena kesedihannya bahwa akhirnya harus berpisah dengan fans yang selama ini telah membesarkannya. Bagaimanapun Messi harus meninggalkan panggung sepakbola karena empat tahun lagi ia pasti tak memungkinkannya membela negaranya lagi, karena faktor usianya yang tak lagi muda. Kini ia telah berusia 39 tahun. 4 tahun lagi usianya telah 43 tahun.

Sebuah tangis yang merepresentasikan kesedihan yang sangat besar dan mendalam dari Messi sendiri tetapi juga bagi Argentina dan pecinta sepakbola dunia. Pasalnya, telah dua dekade Messi mencetak prestasi yang luar biasa. Messi telah memiliki semuanya dalam kancah sepakbola. Gelar GOAT (Greatest Of All Time) pantas disematkan padanya karena prestasi individu dan tim yang dibelanya. Namun bagaimanapun faktor waktu atau usia jugalah yang menghantarkannya pada perpisahan. Hal mana juga akan dan telah dialami setiap orang. Messi harus berpisah juga dengan Argentina dan semua fans yang mengidolakannya.

Seperti kata Madonna dalam lagu Don’t Cry for Me Argentina. Ketenaran, kekayaan, kemuliaan tak ada gunanya lagi, harus ditinggalkan.

“Aku harus membiarkannya terjadi, aku harus berubah. Tak bisa terus-menerus hidup dalam keterpurukan> Menatap keluar jendela, menjauh dari sinar matahari. Jadi aku memilih kebebasan. Berlari ke sana ke mari, mencoba segala hal baru. Tapi tak ada yang benar-benar membuatku terkesan. Aku tak pernah menyangka itu.

Jangan menangis untukku Argentina, faktanya aku tak pernah meninggalkanmu. Sepanjang hari-hariku yang liar. Kehidupanku yang gila, aku tetap menepati janjiku. Jangan menjauh dariku.”

I had to let it happen. I had to change. Couldn’t stay all my life down at heel. Looking out of the window, staying out of the sun. So I chose freedom. Running around, trying everything new. But nothing impressed me at all. I never expected it to. 

Don’t cry for me Argentina. The truth is I never left you. All through my wild days. My mad existence I kept my promise. Don’t keep your distance.

Tak mustahil kita pun kadang harus mengalami kesedihan yang mendalam karena kehilangan sesuatu yang berarti, entah pribadi tertentu, jabatan, atau apapun. Dalam kondisi seperti itu tentu kita bisa sangat putus asa karena yang hilang itu kita anggap segalanya bagi hidup kita. Dalam kondisi seperti itu menangis kerap menjadi outletnya karena kita hilang akal atas situasi dan kondisi hidup yang harus kita hadapi.

Namun dalam pengalaman iman Tuhan tidak pernah tinggal diam. Dan itulah yang dialami banyak orang sehingga muncul gambar rohani berupa dua pasang tapak kaki yang melangkah menuju ke pantai dan ketika semakin ke dalam laut tinggal sepasang tapak kaki, dan kita berseru: Dimana engkau ya Tuhan? Mengapa Engkau meninggalkan aku yang nyaris tenggelam ini? Dan saat itulah Tuhan bersabda: Tenanglah, engkau ada di pundak-Ku, sehingga yang tampak hanyalah sepasang tapak kaki.

Pengalaman merasakan “penyelamatan” dari pengalaman yang menguras air mata dapat mengubah segalanya. Pengalaman dicelikkan mata iman atas penyertaan Tuhan yang menyelinap di balik pengalaman pahit dapat membawa semangat hidup baru, yang memberi kita daya juang sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai kita, meski kita kurang menyadarinya. Pengalaman rohani itu mendorong kita untuk terus mewarta sukacita melalui kualitas hidup kita kepada sesama di dalam keluarga maupun masyarakat bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita.

“Aku harus membiarkannya terjadi, aku harus berubah. Tidak bisa selamanya hidup terpuruk. Menatap dari jendela, menghindari sinar matahari.

Jadi aku memilih kebebasan. Berlari ke sana kemari, mencoba segala hal baru. Tapi tidak ada yang benar-benar membuatku terkesan, Aku memang tidak mengharapkannya.”

I had to let it happen, I had to change, Couldn’t stay all my life down at heel, Looking out of the window, staying out of the sun. 

So I chose freedom, Running around, trying everything new. But nothing impressed me at all, I never expected it to. 

Syair itu menggambarkan bagaimana kita berubah. Kita tidak semestinya diam saja dan memandang dunia sekitar, tetapi mesti berlari cepat untuk membawa warta bahagia. Tak ada yang paling mempesonakannya selain merasakan penyertaan Tuhan dalam perjuangan hidup ini. Bahwa di balik kegagalan, kesedihan dan kehancuran ada berkah yang menjanjikan dan memberi harapan. Tangis Messi bisa menjadi blessing indisguise bagi kita semua.

Arcadius Benawa