Pancasila, Kasih, dan Aplikasi  

Oleh: Silverius CJM Lake

Perayaan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 dilangsungkan di bawah tema yang penting dan relevan dewasa ini: “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”. Tema ini disampaikan dan ditekankan Presiden Prabowo dalam pidatonya dengan menunjukkan latar masalah Indonesia dan dunia saat ini. Deskripsi tentang Indonesia kini lebih dikaitkan pada pertumbuhan ekonomi untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Memang menarik pidato itu, apalagi relevan dengan Tujuan Nasional Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan perdamaian dunia. Semakin tinggi harapan dan realisasinya, semakin berkualitas perwujudan kasih dan kesetiaan bangsa kepada anak-anak bangsa.

Performance Pemerintah RI untuk seluruh rakyat Indonesia pada dasarnya didorong dan digerakkan oleh kasih dalam proses pencapaian nilai-nilai luhur Pancasila. Faktor kunci di sini adalah pemerintah pengambil keputusan dan pelaksana amanat rakyat. Sementara faktor sumber daya alam yang selalu dikatakan dan ditegaskan sebagai kekayaan luar biasa NKRI seharusnya diolah menuju kemakmuran seluruh masyarakat Indonesia.  Ketika Pemerintah menghadapi berbagai hambatan dan tantangan dalam proses pemakmuran masyarakat secara adil, maka ingatlah tujuan nasional Indonesia, ingatlah nilai-nilai Pancasila, ingatlah kasih yang menyejahterakan dan menyelamatkan setiap warga Indonesia, apa pun dia dan di mana pun dia berada.

Publikasi Kompas 2 Juni 2026 memberitakan seorang remaja yang bijak dari kalangan Generasi Z. Kebijaksanaan si remaja Michael Ugrasena (16) siswa Kolese Kanisius Jakarta antara lain memilih ungkapan bahwa Pancasila sebagai fondasi NKRI tetap relevan dalam perkembangan zaman moderen. Pencapaian dan perwujudan nilai-nilai Pancasila merupakan hal-hal yang possible dalam kehidupan di era sekarang. Pancasila diyakini sebagai pegangan dan pedoman untuk menghadapi dan mengatasi berbagai masalah seperti penyebaran hoaks, polarisasi politik, perundungan digital, diskriminasi, dan masalah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Michael sebagai siswa Sekolah Menengah Atas mampu menunjukkan dan menggunakan pemikirannya terkait dengan kualitas nilai-nilai Pancasila serta semangat kasih dalam perjuangan untuk mencapai nilai-nilai luhur Pancasila. Dan, dalam konteks tersebut Michael berharap bahwa critical thinking Generasi Z generasi baru sepatutnya diterapkan dalam proses sosialisasi di dunia maya. Transformasi model pemikiran generasi remaja generasi muda dibutuhkan dan diutamakan Generasi Z kini, bahkan sebaiknya dimulai, digunakan dan dilanjutkan pada Generasi Alfa. Tentu saja tidak mudah tetapi fenomena Michael sebagai representasi Generasi Z telah menunjukkan perspektif tentang Pancasila sebagai fondasi bangsa Indonesia serta kasih sebagai fondasi media sosial dan perdamaian dunia. Jadi, nilai-nilai luhur Pancasila tetap menjadi basis bermutu bagi NKRI untuk selamanya. Semoga semakin mencintai Pancasila.

Silverius CJM Lake