Nanjing Dalam Ingatan Kolektif
Oleh: Markus Kurniawan
Pada Desember 1937, kota Nanjing menjadi lokasi salah satu tragedi kemanusiaan paling kelam dalam abad ke-20. Setelah pasukan Jepang menduduki ibu kota Republik Tiongkok saat itu, terjadi pembunuhan massal, pemerkosaan, dan berbagai tindakan kekerasan yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Tiongkok. Namun, hampir sembilan dekade setelah peristiwa itu terjadi, perdebatan mengenai Nanjing ternyata belum berakhir. Persoalan yang dipertaruhkan bukan hanya fakta sejarah, melainkan juga bagaimana suatu masyarakat mengingat masa lalunya.
Untuk memahami memori kolektif ini, pemikiran Maurice Halbwachs (1877–1945) dapat kita gunakan. Dalam On Collective Memory (1992), Halbwachs berpendapat bahwa ingatan manusia tidak pernah sepenuhnya bersifat individual. Manusia mengingat sebagai anggota kelompok sosial. Keluarga, komunitas, bangsa, dan institusi menyediakan kerangka yang memungkinkan seseorang memahami dan menafsirkan masa lalu. Dengan kata lain, ingatan selalu dibentuk melalui apa yang disebut Halbwachs sebagai social frameworks of memory atau kerangka sosial ingatan.
Salah satu contoh yang menunjukkan bagaimana ingatan kolektif terus bekerja hingga masa kini adalah kontroversi seputar Kuil Yasukuni di Tokyo. Kuil tersebut didirikan untuk menghormati mereka yang gugur dalam perang atas nama Jepang, termasuk sejumlah tokoh yang setelah Perang Dunia II dinyatakan sebagai penjahat perang.Setiap kali pejabat tinggi Jepang melakukan kunjungan ke Yasukuni, protes sering muncul dari Tiongkok dan Korea. Bagi sebagian masyarakat Jepang, kunjungan tersebut dipandang sebagai penghormatan kepada para leluhur dan korban perang. Namun bagi banyak warga Tiongkok dan Korea Selatan -dua negara yang pernah mengalami kekejaman tentara Jepang- tindakan yang sama dibaca sebagai simbol kebanggaan Jepang dengan warisan agresi militernya di Asia. Memori kolektif atas kekejaman Jepang masih tetap hidup.
Melalui perspektif tersebut, peristiwa Nanjing dapat dipahami bukan sekadar sebagai kejadian historis yang terjadi pada tahun 1937, tetapi sebagai bagian dari ingatan kolektif bangsa Tiongkok. Generasi yang hidup saat ini tidak mengalami langsung tragedi tersebut, tetapi mereka tetap mengingatnya melalui pendidikan, peringatan nasional, museum, monumen, narasi keluarga, dan berbagai bentuk representasi budaya. Menurut Halbwachs, proses seperti ini bukanlah penyimpangan dari ingatan, melainkan justru cara kerja normal dari memori kolektif. Masa lalu direkonstruksi secara terus-menerus berdasarkan kebutuhan dan kerangka sosial yang hidup pada masa kini.
Peristiwa Nanjing tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengumpulkan lebih banyak data sejarah. Perdebatan yang terus muncul antara sebagian kalangan di Jepang dan Tiongkok menunjukkan bahwa yang sedang diperebutkan bukan sekadar fakta, tetapi makna. Setiap masyarakat membangun narasi tertentu tentang dirinya sendiri. Bagi banyak warga Tiongkok, Nanjing menjadi simbol penderitaan nasional sekaligus ketahanan bangsa menghadapi agresi asing. Ingatan tersebut membantu membentuk identitas kolektif dan solidaritas nasional.
Bagi Halbwachs tiap kelompok sosial tidak mengingat semua hal secara sama. Memori juga bersifat selektif. Setiap kelompok memilih, menekankan, atau bahkan mengabaikan aspek tertentu dari masa lalu sesuai dengan kerangka sosial yang mereka miliki. Karena itu, tidak mengherankan apabila suatu peristiwa dapat dikenang secara berbeda oleh kelompok yang berbeda. Perbedaan penekanan ini disebabkan karena setiap komunitas memandang masa lalu melalui kebutuhan identitasnya sendiri.
Di sinilah pelajaran penting dari Halbwachs bagi kita. Pengakuan terhadap penderitaan historis tidak hanya berkaitan dengan akurasi akademik, tetapi juga dengan penghormatan terhadap memori kolektif suatu masyarakat. Ketika pengalaman traumatis sebuah komunitas disangkal atau diremehkan, yang terluka bukan hanya catatan sejarah, melainkan juga identitas kelompok yang dibangun di atas ingatan tersebut. Dengan kata lain korban bukanlah sekedar angka-angka statistik. Korban memiliki ingatan dan diingat.
Peristiwa Nanjing menunjukkan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu. Ia terus hadir dalam kehidupan sosial melalui ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagaimana dipahami Halbwachs, masyarakat tidak sekadar menyimpan kenangan. Masyarakat secara aktif membangun kembali masa lalunya agar tetap bermakna bagi kehidupan sekarang. Oleh karena itu, tragedi Nanjing bukan hanya tentang apa yang terjadi pada tahun 1937, melainkan juga tentang bagaimana manusia memilih untuk mengingat, mengakui, dan belajar dari tragedi tersebut.